My WordPress Blog

Palagan Ambarawa Buktikan, Tentara Sekutu Bisa Kalahankan

Sejarah Perjuangan di Palagan Ambarawa



Di kota Ambarawa, Jawa Tengah, berdiri Monumen Palagan Ambarawa yang menjadi saksi bisu perjuangan para pejuang Republik Indonesia. Monumen ini didirikan untuk mengenang pertempuran besar yang terjadi pada akhir tahun 1945 antara pasukan Republik dan tentara Sekutu yang membonceng Belanda.

Asal Kata “Palagan”

Kata “palagan” berasal dari kata “pa-laga-an”, yang artinya pertempuran. Pertempuran Ambarawa terjadi antara tanggal 20 November 1945 hingga 15 Desember 1945. Ini adalah kelanjutan dari usaha para pejuang Republik untuk menghalau pasukan Sekutu yang sebelumnya bertempur di Magelang.

Alasan Terjadinya Pertempuran

Tentara Sekutu datang ke Indonesia dengan maksud melucuti Jepang. Namun, mereka ternyata membawa belaian Belanda, yang ingin menjajah kembali Indonesia. Rakyat Indonesia tidak mau kembali dijajah. Keadaan semakin memanas ketika Sekutu menyalahkan rakyat Magelang atas pembunuhan orang-orang Jepang. Akibatnya, Jepang melakukan balas dendam dengan menembaki warga, termasuk anak-anak dan orang tua.

Pertempuran Berpindah ke Ambarawa

Setelah beberapa hari pertempuran di Magelang, pasukan Sekutu mundur ke Ambarawa dan membuat pertahanan di sana. Para pejuang Republik tidak gentar. Mereka mengejar dan terjadilah pertempuran Ambarawa. Pesawat terbang Sekutu melayang-layang di udara sambil menyebarkan peluru maut. Dalam serangan tersebut, Let. Kol. Isdiman gugur. Namun, semangat perjuangan rakyat tidak pernah padam.

Gatot Subroto segera menggantikan Let. Kol. Isdiman dan memimpin pasukan. Sementara itu, pejuang dari kota lain seperti Jenderal Soedirman juga turun tangan. Mereka menggunakan taktik perang Supit Urang, yaitu menyerang musuh dari kiri dan kanan sehingga musuh terjepit.

Kemenangan yang Menggembirakan

Akibat serangan yang semakin gencar, kubu pertahanan Sekutu mulai runtuh. Pada 15 Desember 1945, Sekutu menyerah. Pertempuran ini dimenangkan oleh Republik. Oleh karena itu, tanggal 15 Desember ditetapkan sebagai Hari Infanteri Angkatan Darat.

Simbol-simbol Monumen Palagan Ambarawa

Monumen Palagan Ambarawa memiliki dua tugu yang tegak menjulang di atas altar. Tinggi tugu 17 meter, melambangkan tanggal 17. Jarak antara dua tugu 8 desimeter, melambangkan bulan 8. Panjang monumen seluruhnya 45 meter, melambangkan tahun 1945, saat Indonesia proklamasi kemerdekaan.

Di sebelah altar terdapat patung Jenderal Soedirman dan di sebelah kiri altar terdapat patung Jenderal Gatot Subroto. Di antara patung keduanya ada kelompok patung yang menggambarkan Let. Kol. Isdiman yang mengangkat bendera kemenangan dan pedang. Di sampingnya ada dua prajurit siap dengan senjata.

Museum di Sekitar Monumen

Dalam kompleks Monumen Palagan Ambarawa terdapat dua museum: Museum Isdiman dan Museum Terbuka. Di Museum Isdiman diperlihatkan berbagai senjata yang digunakan dalam pertempuran, seperti bambu runcing dan dinamit kaleng. Dinamit kaleng digunakan untuk meledakkan tank.

Di Museum Terbuka diperlihatkan alat-alat yang digunakan pasukan kita maupun musuh. Antara lain pesawat terbang jenis Moestang yang digunakan Sekutu untuk menyerang, lokomotif yang digunakan untuk mengangkut pasukan dari Magelang ke Ambarawa, serta meriam dan truk hasil rampasan dari Jepang.

Badriyah Fatinah

Reporter yang menaruh minat pada isu-isu transportasi, publik, dan urbanisasi. Ia gemar naik kereta untuk mengamati dinamika kota, membaca laporan transportasi, dan memotret suasana perjalanan. Motto: “Setiap perjalanan menyimpan cerita baru.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *