Pengalaman Pribadi dengan Superflu
Beberapa waktu lalu, topik tentang superflu membuat saya teringat kembali pada kejadian yang terjadi pada November 2025. Saat itu, saya sedang mengikuti kompetisi menulis yang diadakan oleh sebuah platform. Anda pasti ingat kompetisi tersebut, yaitu kompetisi yang membutuhkan kekonsistenan dalam menulis setiap hari dengan tema yang telah ditentukan oleh penyelenggara.
Kompetisi berlangsung selama dua minggu, dan saya berusaha mempersiapkan diri sebaik mungkin. Alhamdulillah, sejak hari pertama saya bisa menyelesaikan tulisan sesuai tema dan jadwal yang ditentukan. Tidak terasa, tinggal dua hari lagi. Saya merasa senang karena bisa menyelesaikan kompetisi dengan baik, meskipun hasilnya belum tentu menang.
Selama periode tersebut, saya sedang dalam fase yang cukup berantakan. Pola makan dan tidur saya tidak teratur. Plus, saya juga merasa lelah akibat harus merawat anak yang sakit. Selain itu, saya juga sering kehujanan sehingga kondisi tubuh saya kurang fit. Namun, saya bangga karena tetap bisa menulis setiap hari meski dalam kondisi yang tidak ideal.
Pada suatu malam, setelah pulang dari acara liputan blogger, saya tiba-tiba merasa pusing tujuh keliling. Awalnya saya meremehkannya dan berpikir bahwa minum kopi panas akan membantu. Biasanya begitu, dan jika dibiarkan beberapa jam, rasa sakit itu akan hilang. Tapi kali ini, rasa pusing itu berlangsung lebih lama dari biasanya. Semakin lama semakin menyakitkan. Rasa nyeri yang sangat hebat disertai dengan demam. Meskipun begitu, saya masih mengira itu hanya flu biasa. Terlebih, sebelumnya tenggorokan dan hidung saya sudah mulai kering dan gatal.
Semakin malam, rasa sakit semakin menggerogoti saya. Meskipun saya ingat bahwa saya harus menyelesaikan draf tulisan kompetisi, saya benar-benar tidak sanggup untuk bangkit. Bahkan, membaca pesan WhatsApp saja sulit dilakukan.
Akhirnya, saya memutuskan untuk menyerah dan berhenti ikut kompetisi tersebut. Padahal, hanya tersisa dua hari lagi. Saya merasa sayang, tapi apa boleh buat? Faktanya, saya benar-benar sakit. Selama tiga hari, kepala saya sakit sekali, seperti pernah terkena virus Omicron dulu. Setelah itu, selama sekitar dua minggu saya merasakan kelelahan ekstrem. Bahkan, berdiri selama lima menit saja membuat saya gemetar. Itu adalah flu terberat yang pernah saya alami.
Saya tidak langsung berobat ke dokter. Bagaimana mungkin saya kuat berjalan ke dokter? Syukurlah, ada teman dan tetangga yang mengetahui bahwa saya sakit. Mereka memberi saya obat dan makanan. Salah satu dari mereka baru saja sembuh dari superflu. Dia itulah yang “merawat” saya dari jarak jauh. Ia mengirimkan obat sesuai rekomendasi suaminya yang seorang dokter. Plus, telur dan susu beruang yang diiklankan oleh Bang Nicholas Saputra.
Apa Itu Superflu?
Berdasarkan informasi dari Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta, superflu adalah flu yang disebabkan oleh virus influensa A (H3N2) subclade K. Meskipun gejalanya tidak benar-benar baru, tingkat keparahan serta durasi dan dampak klinisnya lebih besar dibandingkan dengan strain influensa lainnya.
Berikut adalah gejala infeksi H3N2 subclade K:
- Demam yang lebih tinggi dan mendadak
- Nyeri otot dan sendi yang lebih hebat
- Lemas ekstrem (prostration)
- Sakit kepala berat
- Batuk yang lebih persisten
- Durasi sakit yang lebih panjang
Perhatikan gejala-gejala di atas. Jika Anda mengalaminya, segera waspada terhadap superflu. Mari bersiap menghadapi virus ini dengan menjaga pola hidup sehat.
Kesimpulan
Itulah nostalgia (mungkin lebih tepat disebut nostalgila) saya terkait superflu. Betapa tidak nostalgila ketika tubuh terasa sangat lemas dan kepala terasa sangat sakit hingga sulit berdiri? Akhirnya, saya belajar untuk lebih waspada terhadap tanda-tanda tubuh. Jika sudah lelah, istirahatlah. Jangan memaksakan diri hanya karena alasan “sekalian saja”. Karena bermula dari dalih itu, akhirnya saya lalai untuk beristirahat.
Akibatnya, tubuh saya rentan terserang virus. Yang kebetulan menyerang saya adalah virus superflu. Semoga Allah tidak lagi memberi saya kondisi seperti itu. Amiiin YRA.
Jurnalis yang menaruh perhatian pada dunia pendidikan dan komunitas lokal. Ia senang menghabiskan waktu membaca biografi tokoh inspiratif, menulis catatan belajar, serta menghadiri diskusi publik. Aktivitas ini membantunya memahami sudut pandang masyarakat. Motto: "Berita harus menggerakkan, bukan sekadar dibaca."









