Perubahan Pola Hidup Saat Puasa Menyebabkan Keluhan Maag dan GERD
Pada awal bulan puasa, banyak orang mengalami keluhan seperti perih di ulu hati, dada terasa panas, atau tenggorokan yang terasa seperti terbakar. Hal ini sering dikaitkan dengan kondisi maag dan GERD (Gastroesophageal Reflux Disease). Perubahan pola makan, tidur, serta kebiasaan berbuka puasa menjadi faktor utama yang memicu masalah pada sistem pencernaan.
Tubuh Sedang Berada dalam Fase Adaptasi
Di awal Ramadan, tubuh belum sepenuhnya terbiasa dengan perubahan jam makan dan istirahat. Lambung yang sebelumnya menerima asupan secara teratur harus menyesuaikan diri dengan waktu makan yang lebih terbatas. Dalam fase ini, sistem pencernaan lebih sensitif terhadap perubahan, sehingga gangguan lambung lebih mudah muncul meski hanya dipicu oleh kebiasaan kecil.
Dr. Irwan Heriyanto, MARS, Board of Medical Excellence Halodoc, menjelaskan bahwa di awal-awal puasa pasti terjadi adaptasi. Perubahan pola makan dan tidur dapat memicu munculnya maag dan GERD. Dalam kondisi ini, tubuh sedang mencoba menyesuaikan diri dengan ritme baru, dan hal ini bisa menyebabkan ketidaknyamanan.
Porsi Makan yang Banyak Saat Berbuka
Salah satu kebiasaan yang sering dilakukan saat berbuka puasa adalah langsung makan dalam porsi besar. Perubahan mendadak ini memicu peningkatan produksi asam lambung yang kemudian menimbulkan rasa perih, panas di dada, hingga sensasi terbakar di tenggorokan.
Menurut Dr. Irwan, karakteristik asam lambung memang sangat kuat. Dalam kondisi normal, asam tersebut membantu proses pencernaan. Namun, ketika jumlahnya berlebihan, asam justru menjadi sumber iritasi.
Peran Katup Antara Lambung dan Kerongkongan
Secara anatomi, lambung dan kerongkongan dipisahkan oleh sebuah katup yang berfungsi menahan asam agar tidak naik. Dalam kondisi normal, katup tersebut bekerja menjaga asam tetap berada di dalam lambung. Namun, tekanan yang meningkat akibat makan berlebihan, posisi tubuh setelah makan, atau produksi asam yang tinggi dapat membuat katup tidak bekerja optimal.
Akibatnya, asam lambung lebih mudah naik ke kerongkongan dan menimbulkan sensasi panas. “Kalau sampai naik, kerongkongan itu nggak tahan dengan pH yang rendah, maka rasanya panas terbakar, itu yang disebut heartburn,” ujar Dr. Irwan.
Pola Makan yang Berubah
Perubahan jam makan membuat lambung tetap memproduksi asam meski tidak selalu ada makanan yang dicerna. Lambung membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri dengan ritme baru ini. Dalam kondisi tersebut, sistem pencernaan bekerja lebih keras karena harus menyesuaikan produksi asam dengan waktu makan yang tidak lagi teratur.
Jika adaptasi ini tidak diimbangi dengan pola makan yang tepat, keluhan lambung menjadi lebih mudah muncul. Masalah akan makin berat ketika seluruh porsi makan disatukan saat berbuka puasa. Lambung yang sebelumnya kosong dalam waktu lama langsung menerima beban pencernaan dalam jumlah besar.
“Mentang-mentang enggak makan tiga kali, dijadikan satu semua. Itu justru memicu asam lambung,” kata dr. Irwan.
Atur Strategi Makan Saat Berbuka
Dr. Irwan menekankan pentingnya mengatur waktu dan porsi makan saat berbuka agar lambung tidak terbebani. Ia menilai, makan besar sebaiknya tidak dilakukan terlalu dekat dengan waktu tidur karena perut masih membutuhkan waktu untuk mencerna makanan dengan optimal.
“Idealnya itu paling dua sampai jam lah. Makanya abis magrib, itu biasanya kan setelah salat, itu baru makan besar kan,” ujarnya. Ia juga mengingatkan bahwa kebiasaan menunda makan besar hingga terlalu malam justru membuat perut masih penuh saat waktu istirahat.
Kondisi ini dapat meningkatkan risiko asam lambung naik dan menimbulkan rasa tidak nyaman di dada maupun tenggorokan. Dengan pengaturan waktu dan porsi makan yang lebih baik, dokter menilai risiko keluhan lambung saat puasa dapat ditekan, sehingga puasa tetap bisa dijalani dengan lebih nyaman.
Jurnalis yang menaruh perhatian pada dunia pendidikan dan komunitas lokal. Ia senang menghabiskan waktu membaca biografi tokoh inspiratif, menulis catatan belajar, serta menghadiri diskusi publik. Aktivitas ini membantunya memahami sudut pandang masyarakat. Motto: "Berita harus menggerakkan, bukan sekadar dibaca."









