My WordPress Blog

Kasus Keracunan MBG di Sentolo, JCW Soroti Kekurangan Pengawasan dan Minta Evaluasi Program

Kasus Keracunan MBG di Kulon Progo Memicu Kekhawatiran terhadap Pengawasan dan Akuntabilitas

Kasus dugaan keracunan makanan akibat program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali terjadi di Kabupaten Kulon Progo. Insiden ini dilaporkan berlangsung di wilayah Kapanewon Sentolo, menimpa puluhan korban, termasuk pelajar dan guru. Kejadian ini memicu sorotan terhadap pengawasan serta akuntabilitas pelaksanaan program tersebut.

Deputi Bidang Pengaduan Masyarakat dan Monitoring Peradilan Jogja Corruption Watch (JCW), Baharuddin Kamba, menilai peristiwa ini tidak hanya menambah daftar panjang korban yang diduga berasal dari MBG, tetapi juga menunjukkan lemahnya pengawasan. Ia menyatakan bahwa meskipun satuan pelayanan penyedia gizi (SPPG) telah memiliki sertifikat sesuai ketentuan, hal itu tidak sepenuhnya menjamin nihilnya kasus dugaan keracunan dari menu MBG.

Pengawasan yang Lemah

Baharuddin Kamba mengungkapkan bahwa lemahnya pengawasan menjadi salah satu faktor utama dalam kejadian ini. Ia menekankan bahwa meskipun SPPG memiliki sertifikat, tidak ada jaminan bahwa kasus dugaan keracunan tidak akan terjadi. Fakta bahwa insiden seperti ini terjadi menunjukkan adanya celah dalam sistem pengawasan.

Selain itu, JCW juga menyoroti aspek penganggaran. Baharuddin menyebut pengadaan seragam bagi karyawan SPPG yang menembus angka Rp 423 miliar tidak memiliki korelasi langsung dengan peningkatan gizi bagi penerima MBG. Hal ini membuat transparansi dan akuntabilitas penggunaan anggaran menjadi penting.

Rencana Pelaksanaan MBG Bulan Puasa Perlu Ditinjau Ulang

JCW juga meminta rencana pelaksanaan MBG pada bulan puasa yang diperkirakan sebulan mendatang untuk ditinjau ulang. Baharuddin menekankan bahwa jika menu MBG diklaim mampu bertahan hingga 12 jam, harus ada pihak yang bertanggung jawab jika terjadi kasus keracunan pada periode tersebut. Ia mengingatkan, kasus-kasus sebelumnya diduga terjadi karena makanan sudah basi dan tidak layak dikonsumsi.

“Rencana MBG tetap diadakan di bulan puasa yang kurang lebih sebulan mendatang perlu ditinjau ulang, karena jika diklaim menu MBG yang diklaim tahan sampai 12 jam harus benar-benar ada yang bertanggung jawab apabila ada kasus keracunan pada saat di bulan puasa nanti,” ujarnya.

Ia juga memperingatkan agar tidak sampai justru di bulan puasa nanti jika dipaksakan MBG tetap ada justru kasus dugaan keracunan MBG meningkat.

Pernyataan Disdikpora Kulon Progo

Diberitakan sebelumnya, Sekretaris Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Disdikpora) Kulon Progo, Nur Hadiyanto, membenarkan adanya laporan keracunan yang diduga akibat mengonsumsi makanan dari MBG. “Awalnya kami menerima laporan gejala keracunan sekitar pukul 16.30 WIB, Selasa (20/01/2026) kemarin,” kata Nur Hadiyanto saat ditemui di Kantor Disdikpora Kulon Progo, Rabu (21/01/2026).

Ia menjelaskan, pihaknya langsung melakukan pendataan terhadap warga sekolah yang mengalami gejala keracunan. Hingga pukul 06.34 WIB, Rabu pagi, tercatat 87 orang terdampak, terdiri atas pelajar dan guru. Pendataan masih terus berlangsung dengan berkoordinasi bersama pihak terkait, termasuk Dinas Kesehatan (Dinkes), karena jumlah korban masih berpotensi bertambah.

“Nanti kami akan melakukan pendataan secara detail, seperti nama pelajar, alamat, sekolahnya, gejalanya, hingga dirawat di sana,” jelas Nur Hadiyanto.

Berdasarkan data Disdikpora, 87 orang tersebut sempat dirawat di empat fasilitas kesehatan, yakni Puskesmas Sentolo 1, Klinik Pengasih Husada, RSUD Nyi Ageng Serang Sentolo, dan RS Queen Latifa Sentolo. Dari jumlah itu, 83 orang merupakan pelajar dan empat lainnya guru, yang berasal dari tujuh sekolah di wilayah Sentolo. Sebanyak 18 orang sempat menjalani rawat inap pada Senin (20/1/2026). “Hari ini sebagian pelajar yang bergejala keracunan sudah masuk sekolah lagi,” ungkap Nur Hadiyanto.

Tiga Kali Terjadi di Kulon Progo

Kasus keracunan kali ini merupakan yang ketiga terjadi di Kulon Progo. Sebelumnya, peristiwa serupa dilaporkan terjadi di wilayah Kapanewon Wates pada Juli 2025, dengan lebih dari 400 pelajar mengalami gejala keracunan.

Salah satu sekolah dengan jumlah korban terbanyak adalah SD Negeri 2 Sentolo. Kepala sekolah setempat, Suryadi, menyampaikan bahwa 21 pelajar mengalami gejala keracunan. “Sebanyak 13 anak masih izin masuk sekolah, sekarang istirahat di rumah,” katanya.

Menurut Suryadi, laporan pertama diterima sekitar pukul 17.15 WIB, Selasa, dari orang tua pelajar melalui grup percakapan WhatsApp. Para pelajar dilaporkan mengalami muntah-muntah dan dirujuk ke Puskesmas Sentolo I. “Jumlah yang bergejala terus bertambah sampai pukul 21.00 WIB, kebanyakan sempat dirawat di Puskesmas,” jelasnya.


Wahyudi

Jurnalis yang menaruh perhatian pada dunia pendidikan dan komunitas lokal. Ia senang menghabiskan waktu membaca biografi tokoh inspiratif, menulis catatan belajar, serta menghadiri diskusi publik. Aktivitas ini membantunya memahami sudut pandang masyarakat. Motto: "Berita harus menggerakkan, bukan sekadar dibaca."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *