Kondisi Harga Rumput Laut di Tarakan dan Harapan Pembudidaya
Harga rumput laut kering di Kota Tarakan, Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara), saat ini hanya berkisar antara Rp10.000 hingga Rp10.500 per kilogram. Angka ini lebih rendah dibandingkan harga sebelumnya yang sempat mencapai Rp11.000 per kilogram. Jauh dari harga tertinggi yang pernah terjadi pada 2022, yaitu Rp40.000 per kilogram. Penurunan harga ini memberikan tantangan bagi para pembudidaya dalam menjaga keuntungan dan kelangsungan usaha mereka.
Perkembangan Harga Rumput Laut
Abdul Muis, salah satu pembudidaya rumput laut di RT 15, Kelurahan Pantai Amal, mengungkapkan bahwa harga rumput laut kering kembali turun dalam sebulan terakhir. Ia menuturkan bahwa penurunan harga telah terjadi dua kali dalam kurun waktu tersebut. Awalnya harga berada di Rp11.000 per kilogram, lalu turun menjadi Rp10.500, dan kini berada di kisaran Rp10.000 hingga Rp10.500. Menurut Abdul Muis, penurunan ini terus terjadi meskipun belum sepenuhnya stabil.
Ia juga menyebutkan bahwa harga rumput laut sangat bergantung pada kebijakan pengepul. Para pembudidaya tidak memiliki posisi tawar untuk menentukan harga jual. “Kita ikut harga pengepul. Kadang naik, kadang turun, kita juga tidak tahu pastinya,” ujarnya sambil masih sibuk membersihkan hama tiram yang menempel pada batang rumput laut.
Pengalaman Pembiayaan dan Produksi
Dalam satu kali panen selama sekitar 45 hari, produksi normal bisa mencapai 1 ton dari sekitar 150 tali rumput laut. Namun, jika terserang hama atau penyakit, hasil panen bisa turun drastis hingga hanya 300 kilogram. Dengan harga saat ini, pendapatan pembudidaya hanya pas-pasan untuk menutup biaya operasional.
“Kalau dapat 1 ton dengan harga Rp10.000 per kilogram, pendapatan kotor Rp10 juta. Setelah dipotong BBM, perawatan tali, dan biaya lainnya, bersihnya paling sekitar Rp6 juta. Itu kalau panennya berhasil,” katanya. Biaya operasional, terutama untuk bahan bakar, cukup besar. Lokasi budidaya yang jauh membuat pembudidaya harus menghabiskan hingga 60 liter BBM selama proses panen karena bolak-balik mengangkut hasil.
Masalah Hama dan Penyakit
Selain harga yang rendah, pembudidaya juga menghadapi masalah hama dan penyakit rumput laut yang sering muncul saat air laut tenang. Hama seperti sejenis mirip tiram menyebabkan rumput laut membusuk, rontok, dan gagal panen. “Sekarang ini banyak yang gagal panen. Rumput lautnya lemas, busuk, terus rontok. Kalau sudah begitu, tinggal tali sama hamanya saja,” keluhnya.
Harapan Pembudidaya
Harapan dan keinginan dari para petani, kata Abdul Muis, adalah adanya pabrik pengolahan rumput laut di Tarakan. Hal ini diharapkan bisa mengurangi ketergantungan pada pengepul dan memperbaiki harga jual. “Kalau di sini ada pabrik, mungkin harga bisa lebih bagus. Kita tidak perlu lewat banyak perantara,” pungkasnya.
Pembudidaya juga berharap agar harga ideal rumput laut bisa mencapai Rp15.000 per kilogram. Angka ini dianggap sebagai standar agar pembudidaya bisa bertahan. “Kalau Rp15.000 itu sudah standar. Kalau bisa lebih, ya Alhamdulillah. Tapi kalau terus di Rp10.000, berat bagi petani,” katanya.
Kesimpulan
Para pembudidaya rumput laut di Tarakan menghadapi berbagai tantangan, mulai dari penurunan harga, biaya operasional yang tinggi, hingga ancaman hama dan penyakit. Meski begitu, mereka tetap berharap adanya perbaikan kondisi, baik melalui harga yang lebih stabil maupun adanya infrastruktur pengolahan lokal yang bisa mendukung keberlanjutan usaha mereka.
Jurnalis online yang gemar mengeksplorasi pendekatan storytelling dalam berita. Ia suka menonton film, membaca novel, dan membuat catatan ide setiap hari. Menurutnya, teknik bercerita yang baik dapat membuat informasi lebih mudah dipahami. Motto: “Sampaikan fakta dengan cara yang menyentuh.”











