My WordPress Blog
Bisnis  

Gaji Guru Honorer Kecil, Sabil Banting Setir Jual Risol, Bisa Gaji 5 Karyawan

Kisah Sukses Mantan Guru Honorer yang Berhasil Menjadi Penjual Risol

Di tengah tantangan hidup, banyak orang mencari jalan untuk memperbaiki kondisi ekonomi keluarga. Salah satunya adalah Muhammad Sabil Fadhillah (38), mantan guru honorer yang kini sukses berjualan risol. Dulu, ia hanya seorang guru honorer di salah satu SMK di Kota Cirebon dengan gaji yang tidak cukup untuk menopang kebutuhan sehari-hari. Namun, keputusan untuk banting setir menjadi penjual risol akhirnya membawanya ke jalur yang lebih stabil.

Perjalanan Awal yang Penuh Tantangan

Sabil memulai bisnisnya bersama saudaranya tiga tahun lalu. Di awal, usaha ini sangat berat. Modal yang dimiliki terbatas, dan hasil tidak kunjung mengalir. Dalam beberapa bulan pertama, mereka bahkan mengalami kerugian besar. Namun, Sabil tetap bertahan. Ia percaya bahwa kesabaran dan konsistensi akan membawa perubahan.

“Benar kata orang, jualan harus berani bakar uang di awal-awal. Bakar uang untuk mengenalkan produk, konsisten, sampai orang benar-benar cocok,” ujar Sabil saat ditemui. Ia menyadari bahwa fase awal bisnis memang penuh tantangan, namun ia yakin bahwa langkah-langkah kecil bisa membangun fondasi yang kuat.

Membangun Bisnis dari Nol

Awalnya, Sabil hanya menjual 40 risol per hari dalam satu tepak. Namun, hanya tiga hingga lima buah yang terjual. Sisanya disimpan dalam kondisi beku agar tidak menambah kerugian. Meski begitu, ia tetap konsisten dengan prinsip bahwa kualitas adalah hal utama. Ia merancang risol agar tidak mudah basi, sehingga bisa bertahan lama dan tetap menarik konsumen.

Setelah melewati fase sulit selama lima bulan, perlahan permintaan mulai meningkat. Pembeli yang awalnya sesekali kini menjadi pelanggan setia. Kini, Sabil mampu menjual tiga tepak risol per hari, atau sekitar 120 risol. Usaha ini juga mengalami lonjakan penjualan pada bulan puasa, pengajian, dan musim liburan.

Membuka Lapak Baru dan Menghidupi Keluarga

Stabilitas bisnis membuat Sabil membuka lapak kedua di sekitar lampu merah Cideng. Saat ini, usaha kecil ini mampu menghidupi enam orang, termasuk lima anggota keluarganya sendiri. Tiga orang menangani produksi, dua menjaga lapak, sementara Sabil mengelola lapak kedua sendirian. Ia tidak hanya berfokus pada keuntungan, tetapi juga pada pembagian hasil secara adil.

Upah yang diberikan berkisar antara Rp 1,2 juta hingga Rp 1,7 juta per bulan. Angka ini konsisten selama tiga tahun terakhir, meskipun bagi Sabil sendiri, pendapatannya sering kali jauh dari cukup. Di tengah kenaikan harga kebutuhan pokok, ia juga menambal penghasilan dengan berbagai pekerjaan sampingan seperti menjadi sopir rental mobil, pelatih mengemudi, fotografer, dan Tour Leader perjalanan wisata.

Keberanian dan Kesederhanaan

Bagi Sabil, bertahan hidup di masa sulit membutuhkan tiga hal: keterampilan yang bisa ditawarkan, keberanian mempromosikan kemampuan, serta kemampuan membangun dan menjaga relasi. Dari jaringan inilah, berbagai peluang penghasilan datang. Ia tidak berbicara soal mimpi besar, tetapi fokus pada realisasi yang bisa diraih.

Cerita Lain: Guru Honorer yang Bertahan Hidup dengan Tiga Pekerjaan

Selain Sabil, ada juga Bagas Chabib Kurniawan (36), seorang guru honorer yang bertahan hidup dengan gaji Rp 300 ribu sebulan. Untuk menambah penghasilan, ia menjalani tiga peran setiap hari: guru, pelatih sepak bola, dan driver ojek online.

Bagas mengajar di SDN Kauman Lor 01, Kecamatan Pabelan, Kabupaten Semarang. Selama dua tahun terakhir, ia masih berstatus Wiyata Bakti. Gajinya yang tidak cukup membuatnya mencari penghasilan tambahan. Ia melatih anak-anak sepak bola di sore hari, lalu menjadi driver ojek online setelah matahari terbenam.

Dengan tiga pekerjaan sekaligus, waktu bersama keluarga menjadi kemewahan. Namun, ia tetap optimis dan percaya bahwa semua pekerjaan yang dilakukannya halal dan bermanfaat.


Faiqa Amalia

Jurnalis yang fokus pada isu pendidikan, karier, dan pengembangan diri. Ia suka membaca buku motivasi, mengikuti seminar online, dan menulis rangkuman belajar. Hobinya adalah minum teh sambil menenangkan pikiran. Motto: “Pengetahuan harus dibagikan, bukan disimpan.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *