My WordPress Blog
Budaya  

AGH Prof Dr Faried Wadjedy Lc MA: Usia 82 Tahun, 6 Bulan, 15 Hari dan Paceppa 40 Hari Ini

Kehidupan yang Penuh Dengan Disiplin dan Kepercayaan

Hidup di dunia yang penuh dengan hitungan dan perhitungan, maka Anre Gurutta Haji (AGH) Prof Dr Faried Wadjedy Lc MA (82) adalah salah satu ahli dalam hal itu. Usianya yang mencapai 82 tahun Masehi, 6 bulan, 15 hari, menunjukkan bahwa ia memiliki ingatan yang sangat tajam terhadap waktu dan tanggal.

Pada hari Kamis (8/1/2026), setelah salat Lohor, ia menjawab pertanyaan tentang usianya dengan jawaban yang spontan, jelas, dan detail. Jawaban tersebut memberikan gambaran tentang keakuratan ingatannya terhadap penanggalan Hijriyah. Ia menyebutkan bahwa usianya dalam kalender tersebut sudah mencapai 85 tahun lebih sedikit.

Gurutta Faried Wadjedy lahir pada hari Rabu, 22 Juni 1943 Masehi di Kampung Balusu, sekitar 1,6 km barat Mangkoso. Dalam penjelasannya, ia juga menjelaskan secara detail mengenai penanggalan Hijriyahnya. Frasa “lebih sedikit” yang digunakan olehnya ternyata akurat, yaitu 85 tahun, tepat 1 bulan, 1 hari.

Tribun melakukan validasi terhadap jawaban tersebut melalui AI prompt di Chat GPT dan hasilnya sangat akurat. Dalam penanggalan Hijriyah, hari baru dimulai saat Maghrib atau terbitnya bulan. Inilah alasan mengapa kalender ini disebut kalender Qamariyah (bulan). Sementara itu, penanggalan Masehi disebut kalender Syamsiyah (Matahari), karena harinya dihitung tengah malam pukul 00:01 atau sekitar 5-6 jam sebelum Matahari pagi terbit.

Gurutta lahir di kampung kelahiran pengusaha HM Aksa Mahmud (80), founder Bosowa Corp. Bahkan, ia masih kerabat dekat dari keluarga tersebut di Balusu. “Saya tua dua tahun lebih hari dari Aksa,” ujar Gurutta Faried.

Baginya, usia 82 tahun harus disyukuri. Lebih dari 20 tahun dari usia hidup Rasulullah Muhammad SAW, 62 tahun (571 – 632 M). Sebagai seorang jurnalis selama 33 tahun, ini adalah pertama kalinya ia menemukan narasumber yang menjawab pertanyaan usia dengan lengkap, termasuk hari, bulan, dan tanggal.

Di sesi makan siang, Gurutta kembali menunjukkan kemampuan “berhitung” yang luar biasa. Ia menjelaskan bahwa kebiasaan makan yang lambat dan disiplin merupakan bagian dari sunnah Ceppa patappulo, yaitu kebiasaan Rasulullah mengunyah makanan 40 kali sebelum ditelan.

Asisten Advertising Manager, Aven Purwantan Sauri (30), yang duduk di sisi kanan Gurutta, menghitung jumlah kunyahan dan menemukan bahwa jumlahnya benar-benar 40 kali. Ini termasuk dengan kunyahan sambil berbicara.

Masyallah! Hampir lebih 45 menit, lima anggota Newsroom dan Advetorial Tribun, dapat kesempatan duduk bersila, makan selantai dengan ayah satu putri dan satu cucu lelaki itu. Gurutta makan didampingi salah satu “ajudan” dan dosen di STAI DDI Mangkoso, Ustad Drs H Jama’an Hamzah (61) dan cucu tunggal Gurutta, dari putri tunggalnya Hj Faridah Hidayati MA dengan Dr H Muhammad Agus MThi.

Dari Tribun, ikut Editor in Chief H Thamzil Thahir (51), Online dan Social Manager Edi Sumardi (35), Asisten Advertising Manager Aven Purwantan Sauri (29), Editor Ari Mariadi (29), dan video editing & cameraman Muhammad Faiz (28).

Dalam sesi makan siang, beberapa cerita menemani Gurutta. Di akhir kisah, peraih gelar Licentiate (Lc) dari Fakultas Syariah Al Azhar Cairo ini menutupnya dengan nasihat, kesimpulan, dan hikmah dengan rujukan Alquran dan hadist.

Pengalaman Kecelakaan yang Menjadi Pelajaran

Kisah kecelakaan mobil Fortuner Gurutta di Madello, sekitar 12 km sebelum Mangkoso, tujuh tahun lalu, 12 Mei 2018, dia yakini sebagai “insiden” tarik menarik antara doa dan takdir. Semua orang yang melihat kondisi mobil itu tak pernah menyangka penumpangnya selamat.

Mobil 2500 cc itu melaju dari arah Makassar ke Mangkoso untuk melayat salah seorang guru madrasah aliyah yang meninggal dunia. Mobil truk itu angkut material rel kereta api, menabrak sisi kiri depan, mobil dimana Gurutta duduk.

Dikisahkan H Jama’an Hamzah, ajudan yang duduk tepat di belakang jok supir (Maming), Gurutta hanya lecet di kaki sebelah kiri. “Saya hanya di tangan kiri. Supir juga lecet di kepala, cucu gurutta juga lecet. Hanya Ati (Faridah Hidayati Lc, putri semata wayang gurutta) yang luka berdarah terantuk di kepala, karena saat kejadian lagi tidur,” ujar Jamaan.

Oleh Gurutta, insiden itu dia sebut sebagai tarik menarik antara takdir dan doa. “Takdir itu dari atas di (langit) lauhul mahfudz. Sedangkan doa itu dibawah, di bumi, di tangan manusia,” ujarnya.

Bayu Purnomo

Penulis yang terbiasa meliput isu-isu pemerintahan, ekonomi, hingga gaya hidup ringan. Ia gemar bersepeda sore dan merawat tanaman hias di rumah. Rutinitas sederhana itu membantunya menjaga fokus dan kreativitas. Motto: "Berpikir jernih menghasilkan tulisan yang kuat."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *