My WordPress Blog

Menyala “Api” Menulisku: Tujuan, Tekanan, Kebiasaan

Menulis adalah salah satu bentuk ekspresi pikiran dan perasaan seseorang terhadap berbagai peristiwa, fenomena, atau momen yang terjadi di sekitarnya. Meskipun mengalami hal-hal tersebut secara bersamaan, tidak semua orang memiliki keinginan dan kemampuan untuk menuliskannya. Bahkan ketika menghadapi bencana, tidak semua orang langsung merasa tertarik untuk menulis.

Menulis bisa menjadi bentuk panggilan tindakan (call to action) meskipun hanya dengan kata-kata. Manusia-manusia yang belajar memiliki pengetahuan implisit yang harus dikonversi menjadi pengetahuan eksplisit melalui tulisan. Di tahun 2025, banyak tulisan bernas telah kita baca dan membentuk pengetahuan, keterampilan, serta sikap dalam diri kita. Selain itu, kita juga telah menghasilkan banyak tulisan yang membuat kita bukan hanya penerima informasi, tetapi juga pemberi.

Saya menghargai beberapa Kompasianer yang menjaga semangat menulis sehingga mampu menulis setiap hari. Beberapa orang seperti Pak Tjip, Bu Rose, dan Om Jay memiliki produktivitas menulis yang luar biasa di blog jurnalisme warga ini. Ini membutuhkan konsistensi dalam hal fleksibilitas waktu dan ruang untuk menulis.

Dalam teori, seseorang dapat menghasilkan tulisan sebanyak 3–7 halaman per jam. Jika dihitung berdasarkan jumlah kata dalam satu halaman A4 (300–325 kata), maka jumlahnya mencapai 900–2100 kata. Beberapa penulis mungkin tidak membutuhkan satu jam untuk menyelesaikan satu artikel, terutama jika bahan sudah ada di kepala dan meja, seperti bahan makanan lengkap di kulkas.

Di era saat ini, teknologi seperti AI dapat mempercepat proses menulis. Saya tidak menyatakan bahwa menulis dengan AI tidak sah, karena AI bisa digunakan sebagai alat bantu, misalnya dalam pencarian sumber atau diskusi kritis tentang apa yang ingin ditulis. Teknologi yang tersedia tidak boleh diabaikan.

Ada beberapa faktor yang mendorong konsistensi menulis dan menjadikannya sebagai rutinitas. Bagi saya yang berprofesi sebagai penulis dan editor, hampir tidak ada hari tanpa menulis sebagai bagian dari pekerjaan. Kadang saya menulis dengan prinsip “intim” alias ilang-ilang timbul. Sayangnya, tidak ada kategori penghargaan untuk hal itu akhir tahun.

Saya sangat ingin menulis setiap hari agar bisa menjadi Kompasianer paling produktif. He-he-he, tapi memproduksi tulisan dari isi kepala tidak segampang itu, Jenderal! Di sisi lain, terkadang ada standar mutu yang kita buat sendiri, bukan “asal tulis”.

Menulis dengan Tujuan

Mengapa seseorang tidak menulis? Karena tidak ada tujuannya: untuk apa menulis dan untuk siapa tulisan diciptakan? Sebaliknya, mengapa seseorang mampu terus-menerus menulis? Karena dia punya tujuan.

Pada awalnya adalah tujuan. Hugo Hartig dalam Tarigan (2008) pada buku Menulis Sebagai Keterampilan Berbahasa mengungkapkan tujuh tujuan seseorang menulis. Mungkin ada yang pas sekali menggambarkan diri Anda yang menulis.

Tujuan penugasan (assignment purpose): Tidak dimungkiri juga dijadikan media publikasi untuk tulisan penugasan. Saat mengajar di Prodi Penerbitan, Polimedia, saya juga pernah menugasi mahasiswa untuk menulis dan memublikasikannya di . Ciri tulisan penugasan itu bertopik sama, bahkan mungkin judulnya mirip-mirip. Jadi, seseorang “terpaksa” menulis karena ditugaskan, bukan kemauannya sendiri.

Tujuan altruistik (altruistic purpose): Banyak penulis ingin berbagi dengan pembaca, menyebarkan optimisme, menghilangkan kedukaan, dan menolong pembaca untuk memahami sesuatu. Seseorang selalu terdorong menulis untuk kemaslahatan. Artikel opini atau esai di kolom-kolom media berkala sering kali memuat tulisan dengan tujuan seperti ini. Altruistik bermakna kesukarelaan tanpa mengharapkan imbalan atau tanpa ada kepentingan di baliknya. Di antara Kompasianer ada yang menyajikan tulisan altruistik—meskipun ada monetisasi dari karya tulisnya, ia bukan menjadi tujuan utama.

Tujuan persuasif (persuasive purpose): Dengan keraguan dunia saat ini, termasuk yang terjadi di Indonesia, beberapa orang berinisiatif untuk memberi kesadaran kepada pembaca. Sebagai contoh, tulisan tentang kesadaran terhadap lingkungan, perubahan iklim, dan mitigasi bencana telah banyak diproduksi. Tulisan-tulisan dakwah juga termasuk bertujuan memengaruhi banyak orang untuk insaf dan tobat.

Tujuan informasional (informational purpose): Kita hidup pada zaman antara kebenaran dan kebohongan menyatu sebagai informasi. Selalu ada penulis yang terdorong menyampaikan informasi baik dan benar, apa adanya. Para guru dan dosen menjadi garda terdepan untuk model tulisan seperti ini agar siswa dan mahasiswa memahami konteks kebenaran dari suatu bidang ilmu.

Tujuan pernyataan diri (self-expressive purpose): Engkau adalah apa yang engkau baca; sama juga engkau adalah apa yang engkau tuliskan (kecuali pakai AI). Selalu ada tujuan penulis untuk menunjukkan jati dirinya kepada pembaca—apakah ia kelompok penulis bubur tidak diaduk atau bubur diaduk? Tujuan penjenamaan diri (personal branding) dalam menulis itu lumrah terjadi.

Tujuan kreatif (creative purpose): Mirip dengan pernyataan diri, ada juga penulis yang menuliskan sesuatu sebagai ungkapan kreatif dirinya atau sebagai ekspresi diri, seperti ke dalam puisi, cerpen, atau novel. Ia bertujuan mencapai nilai artistik seperti konsep sastra, dulce et utile (indah dan berguna).

Tujuan pemecahan masalah (problem-solving purpose): Para penulis jenis ini paham bahwa banyak orang memerlukan tip dan kiat maka lahirlah tulisan-tulisan how to, yakni bagaimana membuat atau melakukan sesuatu. Tujuannya menjadi problem solver atas permasalahan aktual yang dihadapi banyak orang.

Jadi, di antara ketujuh tujuan itu, mana yang dekat sekali dengan tulisan engkau di ? Tujuan menjadi kompas untuk memasuki belantara penulisan. Orang menulis tanpa tujuan dengan prinsip “menulis saja” sering kali tidak memberi nyawa pada tulisannya. Namun, mungkin juga di antara ketujuh tujuan itu belum ada yang pas bagimu.

Kok hanya tujuh? Pasti ada yang lain. Apakah mungkin ada tujuan yang lebih pragmatis?

“Saya menulis untuk uang; tujuannya mendapatkan penghasilan!”

Saya jadi ingat ungkapan Samuel Johnson dalam buku Hermat Holtz bertajuk How to Start and Run a Writing & Editing Business: Tidak ada seorang pun, kecuali si bebal, menulis bukan karena uang. Itu seperti sindiran saja, tapi memang kita sejatinya menulis bukan semata karena ada monetisasi. Tapi, karena ada monetisasi, kita menjadi lebih bersemangat menulis. Ha-ha-ha.

Menulis dalam “Tekanan”

Saya pernah dan sering menulis dalam tekanan. Ada yang memang bagian dari pekerjaan dan ada pula yang bertujuan informasional sembari membangun jenama. Dulu sekali saya rutin menulis mingguan untuk sebuah situs web tentang kopi (Bincangkopi.com). Jadi, saya dibayar untuk 4 + 1 tulisan setiap bulan yang bertopik tentang kopi. Saya bukanlah ahli kopi, tetapi jelas penikmat kopi. Kalau tidak salah saya hanya menekuni rutinitas itu dua bulan.

Dulu sebelum ini, saya juga harus menulis rutin sebagai ghostwriter untuk mengisi beberapa kolom—termasuk di Tabloid Bola—tulisan religi Islam. Sosok yang saya bayangi pada masa itu adalah Aa Gym. Ia memang banyak mendapat undangan menulis di berbagai media secara rutin. Kami sebagai tim penulis di MQS Publishing dan Tabloid MQ, memenuhinya karena ada kesulitan waktu bagi da’i seperti Aa Gym.

Tahun 2017–2018, saya rutin mengisi artikel untuk sebuah kolom di KRJogja.com—jejak tulisannya masih ada. Nama kolomnya Kompor Literasi (Komplit) tentang penulisan dan penerbitan. Setiap minggu memang menjadi “tekanan” untuk menulis.

Itu seperti psikologi tekanan, makin dipepet tenggat, makin produktif.

Saya kira betul juga produktivitas menulis itu, selain tujuan, juga ditentukan seberapa besar gaya tekanannya. Makin “ditekan” harus dan tenggat, makin terkondisikan seseorang menulis. Tapi, tidak ada yang “menekan” saya untuk selalu menulis setiap hari di … di sinilah tampaknya relevan menggunakan konsep Atomic Habit, James Clear.

Jangan jadikan menulis sebagai tujuan, tetapi jadikan ia sebagai sistem. Bukan “saya ingin menulis di setiap hari”, melainkan “saya akan menulis artikel 300 kata setiap hari”. Kata James Clear, tujuan boleh jadi gagal, tetapi sistem akan terus berjalan. Konsistensi lebih penting daripada motivasi.

Baiklah, mari kita bangun sistem menulis 300 kata (satu halaman) sehari dalam tempo 60 menit lalu persingkat menjadi 30 menit dan akhirnya 20 menit cukup. Sediakan tempat rutin untuk menulis dengan membangun identitas “bahwa saya menulis karena saya adalah penulis, bukan saya menulis karena ingin menjadi penulis”.

Maka dari itu, menulis adalah praktik harian yang tenang, disiplin, dan produktif. Tapi, menuliskan seperti ini ibarat omongan motivator, serasa mudah sekali diterapkan. Pada praktiknya penuh perjuangan loh Sodara karena konsep ini bukan menulis karena tekanan dan bukan pula karena tujuan, melainkan untuk menggerakkan sistem di dalam diri (pikiran, perasaan, intuisi) agar api menulis tetap menyala. Kita memerlukan media untuk mengalirkannya juga.

Mengalir dalam Era Media Sosial

Mas Hernowo, sebelum wafat, menghasilkan dua buku luar biasa tentang menulis. Pertama buku Flow di Era Socmed: Efek Dahsyat Mengikat Makna dan satu lagi buku Freewriting: Mengejar Kebahagiaan dengan Menulis. Kedua buku itu relevan dengan orang seperti saya maupun engkau yang hendak menjadikan menulis sebagai sebuah sistem otomatis.

Ia akan mengubah diri dari gagap dan gugup menuju fasih dan lancar berkomunikasi. Ia menjadi penting untuk membentuk keterampilan hidup yang digunakan di mana pun, kapan pun, dalam konteks apa pun.

Mengutip Stephen Covey (Seventh Habits), kehebatan seseorang (misalnya dalam hal menulis) dibangun dari kebiasaan yang mencakup bidang tersebut. Misalnya, dalam menulis perlu dibangun kebiasaan menemukan ide dan mengikat makna—di samping kebiasaan yang sangat berhubungan dengan keterampilan berbahasa, yaitu membaca, menyimak, dan berbicara. Di sisi lain, kebiasaan memerlukan tiga unsur: pengetahuan, keterampilan, dan hasrat.

Saya sendiri mempraktikkannya dengan aktivitas banyak membaca, banyak berjalan, dan banyak bersilaturahmi. Dari situ saya memanfaatkan pertemuan-pertemuan dengan ide yang selalu spontan. Uhuy!

Jadi, sistem menulis akan efektif dibangun juga bersamaan dengan kebiasaan membaca, menyimak, dan berbicara; satu lagi saya tambahkan kebiasaan swasunting. Ketika dahulu generasi seperti saya sulit sekali memublikasikan karya karena ada kurasi ketat media massa, kini tidak perlu lagi. Seorang penulis dapat mengalirkan tulisannya di media sosial tanpa kurasi. Hal itu sangat kondusif, tetapi di sisi lain tanpa pengetahuan dan keterampilan memadai malah bakal membentuk seseorang lebih produktif menulis sebuah pepesan kosong.

Saya memiliki akun di tujuh media sosial, Facebook, X, LinkedIn, Instagram, Thread, TikTok, dan YouTube. Kecuali X, saya aktif di semua medsos itu, terutama yang basisnya teks dan gambar. Namun, saya harus memilih dan memilah menulis apa sesuai dengan karakter medsos itu. Algoritma medsos itu tidak seperti yang kita bayangkan.

Tulisan bernas yang dikira bakal dapat engagement, ternyata tidak. Tulisan ringan entah apa-apa, malah ramai. Begitulah mengalir pada era medsos bagi Gen-X seperti saya ini perlu beradaptasi dengan kebiasaan menuliskan sesuatu yang lebih pada tujuan altruistik dan informasional. Terlalu sering menulis tentang diri sendiri, orang-orang juga lama-lama mual dan muak.


Api menulismu kecil? Mungkin engkau lagi berhemat gas di tabung gagasan, mungkin juga karena engkau lebih senang menimbun gas (dengan membaca) daripada menggunakannya. Tapi, sering-sering menulis setiap hari akan membawa engkau berlari pada zaman yang tak mau menunggu ini.

Selamat bertahun baru 2026. Semoga resolusi menulis setiap hari menyala ya, Kakak.

Bayu Purnomo

Penulis yang terbiasa meliput isu-isu pemerintahan, ekonomi, hingga gaya hidup ringan. Ia gemar bersepeda sore dan merawat tanaman hias di rumah. Rutinitas sederhana itu membantunya menjaga fokus dan kreativitas. Motto: "Berpikir jernih menghasilkan tulisan yang kuat."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *