My WordPress Blog
Budaya  

Nyepi Tahun 2025: Tilem Kasanga dalam Kalender Bali 35 Hari

Pemangku Agama dan Keputusan Penting dalam Pasamuhan Agung SKHDN 2025

Pada tahun 2025, salah satu keputusan penting yang diambil dalam Pasamuhan Agung Sabha Kretha Hindu Dharma Nusantara (SKHDN) Pusat adalah kembalinya pelaksanaan hari raya Nyepi ke bentuk aslinya, yaitu pada tanggal Tilem Kasanga. Hal ini menjadi topik utama dalam pertemuan yang berlangsung di Gedung Wiswa Sabha Utama Kantor Gubernur Bali pada Selasa (30/12). Sebelum tahun 1981, Nyepi dilaksanakan bersamaan dengan Tilem Kasanga, sesuai dengan ajaran dalam lontar seperti Lontar Sundarigama, Kuttara Kanda hingga Batur Kalawasan.

Ida Shri Bhagawan Putra Nata Nawa Wangsa Pamayun, Ketua Umum SKHDN Pusat menjelaskan bahwa sejak tahun 1981, pelaksanaan Nyepi bergeser menjadi sehari setelah Tilem Kasanga atau tanggal apisan sasih kadasa. Namun, dalam diskusi kali ini, pihaknya berupaya untuk mengembalikan tradisi tersebut agar kembali ke bentuk asli sejak ribuan tahun lalu. Ia menegaskan bahwa perubahan tersebut dilakukan oleh PHDI Provinsi Bali pada tahun 1981.

Selain itu, dalam pasamuhan juga dibahas mengenai tawur dan pangerupukan yang akan digelar saat panglong catur dasi atau purwani Tilem Kasanga atau sehari sebelum Tilem. Gubernur Bali, Wayan Koster menyambut baik keputusan ini dan menyatakan dukungan penuh terhadap rencana pengembalian Nyepi ke Tilem Kasanga. Ia menilai bahwa hal ini sudah tercantum dalam lontar dan dapat dipertanggungjawabkan secara niskala.

Revisi Kalender Bali Berdasarkan Kearsipan Lokal

Salah satu agenda lain dalam Pasamuhan Agung SKHDN 2025 adalah rencana pembuatan kalender Bali yang sesuai dengan kearifan lokal. Menurut Koster, Bali dikenal memiliki sistem penanggalan dengan jumlah hari dalam sebulan sebanyak 35 hari. Namun selama ini, masyarakat lebih mengikuti kalender Masehi yang memiliki variasi jumlah hari, seperti 30, 31, atau 28 hari untuk bulan Februari. Hal ini menyebabkan pergeseran pada hari-hari penting seperti hari raya dan hari baik.

Koster menekankan pentingnya kembali menggunakan kalender Bali yang merupakan ajaran asli Bali. “Kalender yang sekarang referensi mana? Saya lebih percaya kalau kita gunakan tika karena ada dan fungsinya,” ujarnya. Ia berharap dengan penggunaan kalender ini, Bali dapat menunjukkan identitasnya sebagai daerah dengan sistem penanggalan sendiri berdasarkan kearifan lokal.

Ida Shri Bhagawan Putra Nata Nawa Wangsa Pamayun menambahkan bahwa Tika bermakna titi kahuripan. “Tika warisan leluhur Bali, penanggalan asli Bali berdasarkan Catur Bandana atau Catur Loka Pala, ada surya, bulan, bintang, bumi,” jelasnya. Surya merujuk pada tahun, bulan pada sasih, bintang pada wuku, dan bumi pada hari. “Rahina Bali, ada 35 hari dalam sebulan,” tambahnya.

Peningkatan Fasilitas untuk Sulinggih

Selain isu keagamaan dan kalender, dalam pasamuhan juga dibahas tentang pelayanan kesehatan dan pendidikan bagi para sulinggih. Gubernur Bali, Wayan Koster mengakui bahwa selama ini kebijakan pemerintah kurang berpihak kepada sulinggih. Padahal, sulinggih memainkan peran penting dalam menjaga harmoni Bali melalui ritual-ritual seperti puja surya sewana.

Untuk meningkatkan kesejahteraan sulinggih, Koster akan memberikan fasilitas khusus, termasuk prioritas pelayanan kesehatan. Ia menugaskan Dinas Pemajuan Adat (PMA), Dinas Kebudayaan, dan Dinas Kesehatan untuk membuat surat edaran yang memastikan sulinggih langsung ditangani tanpa antre. Bahkan, Koster meminta agar diberikan kamar khusus untuk mereka.

Dalam bidang pendidikan, Koster juga akan membantu biaya pendidikan cucu sulinggih yang kurang mampu dari SD hingga perguruan tinggi. Ia berencana memasukkan program ini ke dalam APBD Bali. Selain itu, setiap sulinggih akan diberikan satu set alat nyurya sewana.

Anggota SKHDN dan Peran Sulinggih

SKHDN merupakan perkumpulan sulinggih se-Nusantara. Di Bali, anggota SKHDN mencapai 600 sulinggih, sedangkan di Lombok sebanyak 20, Sulawesi 9, dan Lampung 30. Koster menekankan pentingnya peran sulinggih dalam menjaga kearifan dan budaya Bali.

Rusmawan

Rusmawan adalah seorang penulis berita online yang serbabisa dalam menguraikan berbagai peristiwa menjadi berita yang jelas dan ringan. Ia suka membaca opini, melakukan riset pendek, dan membuat rangkuman harian. Di waktu senggang, ia menikmati musik instrumental. Motto: “Informasi yang baik dimulai dari niat yang baik.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *