My WordPress Blog

Mengenang Pertempuran Iwo Jima, Kemenangan Pahit bagi Marinir AS dalam Perang Dunia II



Pertempuran Iwo Jima adalah salah satu peristiwa paling berdarah dan terkenal dalam sejarah Perang Dunia II. Meskipun pasukan Amerika Serikat berhasil menguasai pulau ini, perjuangan yang mereka lalui sangat berat dan memakan banyak korban. Di sini, tentara Amerika harus melawan pasukan Jepang yang sangat tangguh dan memiliki strategi pertahanan yang sangat baik.

Selama 74 hari berturut-turut, dari akhir November 1944 hingga awal Februari 1945, pesawat pembom B-29 dan B-24 dari Kepulauan Mariana serta pesawat kapal induk terus menerus melakukan serangan udara ke Iwo Jima. Pada hari-hari menjelang pendaratan, serangan udara diperkuat dengan tembakan meriam dari kapal-kapal perang Amerika. Namun, meskipun bombardemen hebat tersebut, pasukan Jepang tetap bertahan di bawah tanah.

Strategi pertahanan Jepang sangat canggih. Mereka menggunakan kubu-kubu dan sistem pertahanan bawah tanah yang lengkap dengan cadangan makanan, air, dan amunisi. Panglima mereka, Letnan Tadamichi Kuribayashi, tidak membiarkan pasukannya bertahan di pantai atau melakukan serangan banzai seperti biasanya. Dia memilih untuk menempatkan pasukannya di dalam gua-gua dan kubu-kubu yang kuat.

Di antara kubu-kubu tersebut, Gunung Suribachi menjadi titik kunci. Sebanyak 800 kubu dibangun di sekitar gunung ini, yang tingginya hanya sekitar 200 meter. Pada 19 Februari 1945, pasukan marinir Amerika mendarat di pantai Iwo Jima. Awalnya, pantai itu tampak kosong, tetapi segera setelah mereka mulai maju, mereka menghadapi perlawanan sengit dari pasukan Jepang.

Beberapa divisi marinir seperti Divisi ke-5 dan Divisi ke-4 mengalami kesulitan besar. Misalnya, 16 tank Sherman yang maju menyerang justru bertemu dengan pasukan anti-tank yang dipimpin Kapten Masao Hayauchi. Pertempuran berlangsung sengit hingga pasukan Jepang kehabisan senjata anti-tank. Akhirnya, Hayauchi memilih untuk meledakkan dirinya sendiri dengan bahan peledak untuk menyerang sebuah tank.

Batalyon-25 dari Divisi ke-5 Marinir akhirnya berhasil menerobos pertahanan Jepang, tetapi dengan biaya tinggi: 550 dari 700 personelnya tewas. Petang hari, pasukan marinir mencapai kaki Suribachi setelah menghancurkan pertahanan musuh satu demi satu. Esok harinya, mereka mulai membakar lubang-lubang Jepang dengan drum-drum bensin.

Pada hari ketiga, hanya sekitar 300 prajurit Jepang yang masih bertahan di dalam gunung. Mereka mencoba melapor kepada Jenderal Kuribayashi, tetapi Kapten Samaji Inouye, yang masih sangat tradisionalis, marah besar dan menganggap mereka sebagai pengecut. Dengan pedang di tangan, dia siap memancung letnan yang berlutut, tetapi anak buahnya langsung merebut pedang itu dan membuat Inouye menangis.

Pada hari keempat invasi, Letkol Chandler Johnson memerintahkan bendera AS dikibarkan di puncak Suribachi. Dua prajurit Jepang yang tersisa mencoba menyerang, tetapi mereka terbunuh sebelum sempat bertindak. Johnson menyadari bahwa bendera itu memiliki nilai historis dan memerintahkan pengganti bendera yang lebih besar.

Meski tempat tertinggi Iwo Jima sudah dikuasai, pasukan Amerika masih harus bertempur mati-matian untuk menguasai seluruh pulau. Banyak kisah heroik muncul dari pertempuran ini, termasuk 27 medali penghargaan tertinggi AS, Medal of Honor. Salah satu penerima medali adalah Prajurit Douglas Jacobson, yang menghancurkan kubu Jepang sendirian dan menewaskan 75 tentara Jepang.

Di pihak Jepang, Kapten Inouye dan sisanya melakukan serangan banzai yang gagal. Setelah serangan itu, ditemukan 784 mayat tentara Jepang yang tersapu senapan mesin. Inouye terakhir kali terlihat sedang memimpin serangan tersebut dengan pedang di tangan.

Hari ke-23 invasi, Jenderal Kuribayashi mendengarkan Radio Tokyo yang menyiarkan lagu pertahanan Iwo yang pernah diciptakan oleh anak buahnya. Pada hari ke-26, Mayjen Erskine mengirim surat menghimbau agar Kuribayashi menyerah, tetapi tidak ada jawaban. Akhirnya, tubuh Kuribayashi tidak ditemukan, tetapi rekan-rekannya yakin dia terluka berat lalu bunuh diri.

Pada hari ke-35, 26 Maret 1945, invasi Iwo Jima selesai. Awalnya diperkirakan akan rampung dalam 10 hari, tetapi nyatanya memakan waktu 35 hari. Sekitar 19 ribu pasukan Jepang dan 6.821 marinir Amerika tewas di pulau ini. Bagi Korps Marinir AS, ini adalah korban terbesar dan terburuk dalam sejarah perang.

Askanah Ratifah

Penulis yang memiliki perhatian besar pada dunia kesehatan dan kesejahteraan masyarakat. Ia suka mengikuti jurnal kesehatan, melakukan yoga, dan mempelajari resep makanan sehat. Menurutnya, informasi yang benar adalah kunci hidup lebih baik. Motto: “Tulisan yang sehat membawa pembaca sehat.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *