Sejarah dan Makna Nama Sarinah di Balik Gedung Pencakar Langit Jakarta
Pada malam hari, sebuah papan reklame atau billboard yang terletak di dinding bagian depan samping sisi selatan Gedung Sarinah, Jakarta Pusat, terbakar akibat diduga korsleting listrik. Api yang muncul dari papan reklame tersebut membakar bagian luar gedung tersebut. Meskipun kejadian ini menimbulkan kekhawatiran, namun tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut.
Namun, yang lebih menarik adalah makna sebenarnya dari nama Sarinah itu sendiri. Bukan sekadar nama biasa, Sarinah memiliki makna yang mendalam dan berpengaruh terhadap tokoh penting Indonesia, Ir Soekarno. Bagi banyak orang, nama Sarinah terdengar “kampungan”, tetapi bagi Soekarno, ia adalah sosok yang sangat berarti dalam hidupnya.
Asal Usul Nama Sarinah
Sarinah lahir dari keluarga kecil di Mojokerto. Ia adalah asisten rumah tangga dari pasangan suami-istri Raden Soekemi Sosrodihardjo dan Ida Ayu Nyoman. Dari rahim Ida Ayu lahirlah seorang anak laki-laki yang akan menjadi presiden pertama Republik Indonesia, Ir Soekarno. Namun, sosok Sarinah juga memainkan peran penting dalam pembentukan karakter Soekarno.
Dalam buku Bung Karno, Penyambung Lidah Rakyat Indonesia karya Cindy Adams, disebutkan bahwa Soekarno menganggap Sarinah sebagai anggota keluarganya sendiri. Ia tidak hanya tinggal bersama keluarga Soekarno, tetapi juga makan dan tidur bersama mereka. Tidak ada gaji yang diberikan kepada Sarinah, karena bagi Soekarno, ia adalah bagian dari rumah tangga.
Pengaruh Sarinah terhadap Karakter Soekarno
Soekarno mengatakan bahwa Sarinah adalah orang yang mengajarkannya tentang cinta kasih kepada sesama manusia. Dari Sarinah, Soekarno belajar untuk menghormati orang lain dan mencintai rakyat jelata. Bahkan, dalam percakapannya dengan Sarinah, ia mengatakan bahwa ia harus mencintai ibunya terlebih dahulu, kemudian mencintai rakyat.
Sarinah juga menjadi inspirasi bagi Soekarno dalam mendirikan toko serba ada yang bernama Sarinah. Toko ini menjadi pusat perdagangan barang-barang dalam negeri, terutama hasil pertanian dan perindustrian rakyat. Peletakan batu pertama dilakukan pada 17 Agustus 1962, dan gedung ini diresmikan pada 15 Agustus 1966.
Cita-Cita Soekarno yang Terlupakan
Gedung Sarinah memiliki 15 lantai dengan tinggi 74 meter, menjadikannya sebagai bangunan pencakar langit pertama di Indonesia. Tujuan awal dari pendirian Sarinah adalah untuk menjadi etalase produk dalam negeri dan tempat berbelanja kebutuhan masyarakat dengan harga terjangkau. Namun, cita-cita Soekarno ini tidak sepenuhnya tercapai.
Menurut penulis sejarah Peter Kasenda, pergantian kekuasaan ke Soeharto menyebabkan perubahan kebijakan ekonomi Indonesia dari sosialisme menjadi liberalisme. Hal ini membuat Sarinah tidak lagi menjadi tempat promosi barang dalam negeri, melainkan lebih menjadi konsumsi orang asing.
Peran Sarinah dalam Kehidupan Soekarno
Sosok Sarinah begitu kuat dalam perjalanan hidup Soekarno. Ia adalah kekuatan paling besar dalam hidupnya, baik secara batin maupun mental. Dari Sarinah, Soekarno belajar tentang keberpihakan terhadap rakyat kecil. Ia juga mengambil inspirasi dari negara-negara sosialis seperti Peking, Moskow, dan Budapest dalam merancang Sarinah.
Meskipun demikian, saat ini, Sarinah tidak lagi sepenuhnya mewujudkan visi Soekarno. Namun, nama Sarinah tetap menjadi simbol perjuangan dan pengabdian terhadap rakyat kecil.

Penulis online yang antusias mendalami topik kesehatan dan gaya hidup. Ia rutin mengikuti webinar, membaca jurnal kesehatan, dan menulis catatan pribadi tentang pola hidup seimbang. Hobi lain yang ia tekuni adalah membuat smoothie dan meditasi. Motto: "Informasi adalah alat untuk hidup lebih baik."











