Penelitian UMM Ungkap Kaitan Antara Lama Hemodialisis dan Tingkat Kecemasan Pasien
Malang, Jawa Timur – Bagi pasien penyakit ginjal kronis yang menjalani terapi hemodialisis (cuci darah) rutin, perjuangan melawan penyakit tidak hanya bersifat fisik. Rasa lelah usai prosedur, perubahan pola hidup, dan ketergantungan pada mesin dialisis seringkali membawa beban psikologis yang berat, salah satunya adalah kecemasan. Sebuah penelitian terbaru dari Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) memberikan sorotan mendalam tentang dinamika kecemasan ini, dengan temuan yang cukup mencengangkan.
Penelitian yang dipimpin oleh Zaqqi Ubaidillah, S.Kep., Ners., M.Kep., seorang Magister Keperawatan Spesialis Keperawatan Medikal Bedah dan Dosen Prodi Keperawatan UMM, mengungkap adanya hubungan signifikan antara lama waktu seorang pasien menjalani hemodialisis dengan tingkat kecemasan yang mereka alami. Artinya, semakin tahun seorang pasien bergantung pada mesin cuci darah, potensi mengalami kecemasan justru perlu diwaspadai.
“Titik tekan penelitian kami adalah memahami tidak hanya gejala fisik, tetapi juga luka psikologis yang sering kali tak terlihat. Kecemasan pada pasien hemodialisis bisa menjadi penghalang besar bagi kualitas hidup dan bahkan kepatuhan mereka dalam berobat,” jelas Zaqqi Ubaidillah, yang kerap disapa Bung Zaqqi, ketika ditemui di kampus UMM.
Latar Belakang: Beban Ganda Pasien Ginjal Kronis
Penyakit Ginjal Kronis (PGK) yang telah mencapai stadium akhir mengharuskan pasien menjalani terapi pengganti ginjal, dan hemodialisis merupakan pilihan yang paling umum. Proses ini, meski menyelamatkan nyawa, bukanlah pengganti yang sempurna. Pasien harus datang 2-3 kali seminggu ke rumah sakit atau klinik, menghabiskan 4-5 jam per sesi, dengan berbagai efek samping seperti kram, tekanan darah turun, dan kelelahan ekstrem.
“Bayangkan rutinitas yang begitu mengikat dan melelahkan, yang harus dijalani terus-menerus tanpa tahu kapan akan berakhir. Kondisi ini adalah tekanan psikologis kronis. Pasien sering kali khawatir tentang masa depan, beban finansial, peran dalam keluarga yang berkurang, dan ketakutan akan kematian. Inilah yang kami teliti lebih jauh,” papar Zaqqi, menggambarkan realitas yang dihadapi para pasien.
Metode Penelitian: Menelisik Hubungan Antara Variabel
Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional atau potong lintang, di mana data dikumpulkan pada satu waktu tertentu untuk dianalisis hubungannya. Tim peneliti menggunakan teknik accidental sampling terhadap 34 responden pasien hemodialisis di sebuah fasilitas kesehatan di Malang.
“Kami mendatangi pasien yang sedang menjalani hemodialisis, menjelaskan tujuan penelitian, dan bagi yang bersedia, kami wawancara menggunakan kuesioner terstandar untuk mengukur tingkat kecemasan,” jelas Zaqqi mengenai proses pengumpulan data.
Ada tiga faktor utama yang diteliti kaitannya dengan kecemasan:
* Lama Hemodialisis: Berapa tahun pasien telah menjalani terapi ini.
* Waktu Hemodialisis: Jam atau shift cuci darah (pagi/siang/sore).
* Status Pekerjaan: Apakah pasien masih aktif bekerja atau tidak.
Data kemudian dianalisis secara statistik menggunakan Uji Fisher’s Exact Test untuk melihat signifikansi hubungan antar variabel.
Temuan Kunci: Durasi Hemodialisis adalah Faktor Penentu
Hasil analisis data menghasilkan temuan yang sangat jelas dan penting bagi dunia keperawatan dan kesehatan jiwa.
Hubungan yang Signifikan: Lama (durasi) hemodialisis terbukti memiliki hubungan yang bermakna secara statistik dengan tingkat kecemasan pasien (nilai p=0,020). Ini berarti, pasien yang sudah 5 tahun menjalani cuci darah memiliki profil kecemasan yang berbeda dan umumnya lebih tinggi dibandingkan pasien yang baru 1-2 tahun. “Mungkin di tahun-tahun awal, ada harapan untuk transplantasi atau adaptasi. Namun, seiring waktu dan bertahun-tahun tergantung pada mesin, muncul perasaan ‘terjebak’, keputusasaan, dan kekhawatiran akan komplikasi jangka panjang yang memicu kecemasan,” tutur Zaqqi memaparkan interpretasinya.
Hubungan yang Tidak Signifikan: Berbeda dengan durasi, waktu/jadwal hemodialisis (p=0,173) dan status pekerjaan (p=0,080) tidak menunjukkan hubungan yang signifikan dengan kecemasan. Artinya, apakah pasien cuci darah pagi atau sore, serta apakah mereka masih bekerja atau tidak, bukanlah faktor penentu utama munculnya kecemasan dalam studi ini. “Temuan ini menarik. Ini menunjukkan bahwa beban psikologis utama berasal dari perjalanan penyakitnya itu sendiri dan lamanya paparan terhadap terapi yang melelahkan, bukan semata-mata dari gangguan aktivitas sehari-hari seperti kerja atau jadwal,” tambahnya.
Rekomendasi untuk Ke Depan: Dari Riset ke Aksi Nyata
Berdasarkan temuan kunci ini, Zaqqi Ubaidillah dan tim memberikan beberapa rekomendasi penting bagi tenaga kesehatan, khususnya perawat hemodialisis dan keluarga pasien.
- Skrining Kecemasan Berkala: Perlu ada protokol untuk memantau tidak hanya kondisi laboratorium pasien, tetapi juga kesehatan mental mereka, terutama bagi pasien yang telah menjalani hemodialisis lebih dari 3-5 tahun. “Assesment kecemasan harus menjadi bagian dari dokumentasi keperawatan rutin,” tegas Zaqqi.
- Intervensi Keperawatan Holistik: Perawat di unit hemodialisispun harus dilengkapi dengan keterampilan untuk memberikan dukungan psikologis dasar (therapeutic communication), terapi relaksasi sederhana selama proses dialisis, atau mengenali tanda-tanda kecemasan yang memerlukan rujukan ke ahli kesehatan jiwa.
- Pendidikan dan Dukungan Berkelanjutan: Edukasi kepada pasien dan keluarga harus mencakup aspek psikososial. Membentuk kelompok pendukung (support group) sesama pasien hemodialisispun bisa menjadi wadah untuk berbagi dan mengurangi perasaan terisolasi.
- Kolaborasi Multidisiplin: Kerja sama antara perawat, dokter, psikolog klinis, dan pekerja sosial sangat penting untuk menangani pasien secara komprehensif, memutus mata rantai kecemasan yang dapat memperburuk kondisi kesehatan fisik.
“Pada akhirnya, tujuan kami adalah meningkatkan kualitas hidup pasien secara menyeluruh. Mereka berjuang setiap hari. Tugas kita di dunia kesehatan adalah memastikan perjuangan itu tidak dilakukan sambil memikul beban kecemasan yang sebenarnya bisa dikelola dengan baik,” pungkas Zaqqi Ubaidillah penuh harap.
Penelitian ini diharapkan dapat menjadi landasan untuk pengembangan model asuhan keperawatan yang lebih sensitif dan responsif terhadap kebutuhan psikologis pasien ginjal kronis, mengubah perjalanan pengobatan mereka dari sekadar bertahan hidup menjadi hidup yang lebih bermakna dan berkualitas.
Penulis yang memulai karier dari blog pribadi sebelum akhirnya bergabung dengan media online. Ia menyukai dunia tulis-menulis sejak sekolah. Hobinya adalah traveling, membaca novel klasik, dan membuat jurnal harian. Setiap perjalanan dan interaksi manusia selalu menjadi bahan inspirasinya. Motto: "Setiap sudut kota punya cerita yang patut dibagikan."









