My WordPress Blog
Opini  

Materialisme, Hukum, dan Etika

Perlahan, Hutan Sumatera Menghilang

Sebuah laporan yang mengejutkan dari surat kabar ternama menyebutkan bahwa hutan di Sumatera mengalami pengurangan yang signifikan. Dalam laporan tersebut, disebutkan bahwa selama periode 1990 hingga 2024, rata-rata hutan di tiga provinsi yang terkena banjir hebat (Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat) hilang sekitar 36.305 hektare per tahun. Jika dihitung per hari, luas hutan yang hilang mencapai 99,46 hektare, setara dengan 139 kali lapangan sepak bola! Secara keseluruhan, dalam waktu 34 tahun itu, hutan yang hilang mencapai 1,2 juta hektare, yaitu dua kali luas pulau Bali.

Penyebab Utama Penghilangan Hutan

Apa yang menjadi penyebab utama penghilangan hutan ini? Bisa jadi karena materialisme dan keserakahan manusia yang membuat mereka tidak lagi memperhatikan hukum alam dan moral. Meskipun seseorang tampak alim, belum tentu hati dan perbuatannya tidak gila harta. Harta, secara harfiah, adalah benda-benda yang dapat diraba dan dilihat. Manusia membutuhkan materi karena memiliki tubuh yang material. Namun, karena manusia bukan hanya makhluk fisik, ia juga memiliki tanggung jawab moral.

Nilai Moral dan Niat

Nilai moral, seperti apa yang baik dan buruk, benar dan salah, adil dan zalim, bersifat ruhani. Jika nilai suatu perbuatan terletak pada niat pelakunya, maka niat itu bersifat ruhani, meskipun perilaku yang ditimbulkannya bersifat jasmani. Niat atau tujuan di balik suatu sikap dan tindakan manusia sangat bergantung pada nilai-nilai yang diyakininya. Nilai-nilai itu bertingkat, mulai dari yang paling utama hingga yang paling sepele.

Pandangan Materialis dan Filosofi Marxis

Kaum Marxis berpendapat bahwa hakikat hidup adalah materi. Karena itu, basis utama sikap dan perilaku manusia adalah kepentingan ekonomi. Sains dan seni adalah implikasi dari kepentingan ekonomi tersebut. Namun, ini tidak berarti mereka menganjurkan orang untuk serakah. Justru sebaliknya, karena mengakui secara jujur bahwa kepentingan manusia terutama adalah ekonomi, maka tugas manusia dalam kehidupan bersama adalah bagaimana membagi kekayaan secara adil dan merata. Komunisme adalah impian utopis keadilan tersebut.

Di sisi lain, pandangan Marxis dapat diartikan sebagai penolakan terhadap keberadaan wujud ruhani seperti Tuhan, malaikat, setan, surga, neraka, dan sebagainya. Ilmu, seni, dan moralitas, meskipun tidak bendawi, hanya dianggap sekadar pantulan dari basis utama kehidupan berupa materi/ekonomi tadi.

Agama dan Materialisme

Apakah kaum beragama otomatis tidak materialis? Seharusnya memang begitu. Namun, dalam kenyataan, tidak selalu demikian. Bukankah manusia sebagai manusia adalah sama, apapun agamanya? Sebagai makhluk yang berjasmani, tiap manusia membutuhkan benda, materi, atau harta. Lebih dari itu, dalam diri tiap manusia, ada nafsu memiliki, yang jika tak terkendali menjadi tamak dan serakah. Orang yang menganut satu agama, tidak otomatis mengikuti ajaran agamanya. Bahkan mungkin saja, manusia menggunakan agama untuk melayani nafsu serakahnya.

Kepercayaan pada Berkah dan Hukum Alam

Agama mengajarkan tentang berkah, kebaikan yang berlimpah. Berkah itu tak terlihat alias gaib. Menurut agama, harta yang halal itu berkah, dan harta yang haram itu membawa petaka. Halal-haram itu ditentukan oleh cara memperolehnya dan/atau materinya. Apakah kaum beragama meyakini dan mengamalkan ajaran ini? Tampaknya tidak selalu, bahkan mungkin banyak yang ragu. Mereka yang menipu, korupsi, atau yang menyalahgunakan uang negara untuk kepentingan pribadi jelas tak percaya pada berkah. Bagi mereka, yang penting uang banyak, halal atau haram, tak peduli!

Tanggung Jawab Manusia Terhadap Hukum Alam dan Moral

Banyak pula orang yang mengaku beragama, bukan hanya tidak yakin dengan hal-hal yang gaib, tak kasat mata, melainkan juga tak yakin dengan apa yang bakal terjadi di masa depan jika manusia melanggar hukum alam, seperti merusak ekosistem, menggunduli hutan, memangkas gunung dan menggali bumi. Secara ilmiah, yakni rasional dan empiris, sudah bisa diprediksi bahwa perusakan ekosistem akan menimbulkan bencana. Namun, mengapa manusia tak mau percaya? Tidak percaya pada apa yang bakal terjadi di masa depan sama artinya dengan tidak percaya pada yang gaib.

Akibat dari Melanggar Hukum Alam dan Moral

Melanggar hukum alam dan hukum moral, sama artinya dengan melawan Tuhan. Karena itu, tanggungjawab manusia adalah tunduk pada kedua hukum itu. Menurut pemikir Islam Pakistan, Fazlur Rahman, ketundukan itulah yang disebut “Islam” dan manifestasinya dalam kehidupan sehari-hari disebut “ibadah”, yakni pengabdian kepada Allah. Alhasil, sikap dan tindakan yang kita lakukan di dunia ini, akan menimbulkan akibat, baik berkenaan dengan hukum alam ataupun hukum moral. Masalahnya, kadangkala kita memisahkan keduanya. Kita tunduk pada hukum alam dan menggunakannya, tetapi membangkang pada hukum moral. Lebih celaka lagi jika kita membangkang pada keduanya. Bagi kaum beriman, pembangkangan itu akan melahirkan nestapa dan bencana di dunia ini dan kelak setelah mati.

Rommy Argiansyah

Reporter berita yang mengutamakan akurasi dan objektivitas. Ia memiliki ketertarikan pada isu sosial dan ekonomi, serta mengikuti perkembangan dunia digital. Waktu luangnya dihabiskan untuk membaca laporan penelitian, mendengarkan podcast edukasi, dan berjalan santai di taman kota. Motto: "Fakta adalah kompas bagi setiap penulis."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *