My WordPress Blog
Opini  

Bagian terbaik dari kegagalan tahun lalu

Membangun Resolusi dengan Kesadaran dan Tujuan

Tahun baru sering kali menjadi momen yang dianggap tepat untuk menyusun resolusi. Dalam proses ini, banyak orang melakukan refleksi diri, mengevaluasi pencapaian sepanjang tahun, serta merencanakan target-target yang ingin dicapai di masa depan. Melalui resolusi yang dibuat, seseorang bisa mengukur sejauh mana tujuan yang telah ditetapkan tercapai, serta bagaimana pengalaman yang ada membentuk dirinya.

Resolusi yang disusun dengan terukur dapat berfungsi sebagai alat pemantauan untuk menghadapi tahun baru dengan lebih fokus dan penuh semangat. Namun, terkadang kenyataan tidak sesuai dengan harapan, sehingga seseorang cenderung memutuskan untuk berhenti menuliskan apapun tentang keinginannya. Hal ini bisa terjadi karena adanya keinginan yang tidak jelas arahnya atau terlalu banyak prioritas yang saling bertabrakan.

Dalam perjalanan hidup saya sendiri, ada cukup banyak tujuan yang belum tercapai pada tahun 2025. Banyak hal yang telah direncanakan di kepala, tetapi harus tertunda atau kandas karena berbagai alasan. Kondisi ini mungkin disebabkan oleh menumpuknya keinginan yang tidak terarah, sehingga fokus saya buyar seperti bahtera tua yang terombang-ambing di lautan lepas. Oleh karena itu, menulis resolusi merupakan hal baru bagi saya.

Memfokuskan satu resolusi tidak berarti menihilkan tujuan lainnya. Ini hanya soal pembagian urutan skala prioritas yang dapat membantu saya menentukan kebutuhan mana yang hendak didahulukan dan mana yang bisa ditunda.

Tujuan untuk Tahun 2026

Memasuki usia kepala tiga, satu hal yang ingin saya lakukan tahun 2026 adalah memiliki pasangan hidup. Sebagian dari diri saya mungkin masih ingin menjaga kebebasannya sampai waktu yang belum ditentukan. Namun, saya tidak bisa terus-menerus lari dari tugas atau fitrah yang melibatkan tanggung jawab, kesetiaan, dan komitmen membangun kehidupan harmonis sebagai ibadah terpanjang.

Pergolakan dalam hidup membawa saya kepada pemahaman bahwa tujuan pernikahan bukanlah melengkapi kekosongan dalam diri saya. Jika dua orang datang dengan gelas yang sama-sama kosong dan berharap satu sama lain menjadi air, maka tidak akan ada gelas yang benar-benar terisi. Alih-alih, dua orang akan terus saling menuntut tanpa pernah merasa cukup.

Ruang-ruang kosong dalam diri bukan sesuatu yang dapat diisi oleh kehadiran orang lain, tetapi saya sendirilah yang harus mengisinya lewat proses penyembuhan, pemahaman, dan penerimaan. Jika saya membiarkan luka-luka tetap menganga, enggan berdamai dengan masa lalu, atau bahkan belum mengenali diri sendiri, maka menjadikan pernikahan sebagai jalan pelarian hanya akan membuat hubungan menjadi beban.

Menikah bagi saya juga bukan tentang mencari seseorang yang bisa menambal segala kekurangan diri. Menikah adalah tentang pertautan antara dua orang yang sudah cukup dengan dirinya, lalu memutuskan untuk menghadapi tantangan bersama. Bukan untuk saling mengisi kekosongan, melainkan saling berbagi keberlimpahan, berbagi kasih sayang, kenyamanan, dan kepercayaan.

Persiapan untuk Pernikahan

Untuk menunjang terlaksananya pernikahan, saya sedang mempersiapkan beberapa hal penting:

  • Persiapan mental: Kesiapan mental dalam pernikahan merupakan fondasi penting untuk menciptakan hubungan yang sehat. Kesiapan ini mencakup penerimaan diri dan pasangan, membangun komunikasi efektif (mendengarkan dan jujur), empati, manajemen konflik yang baik, komitmen, serta kesiapan menghadapi perubahan dan tanggung jawab perkawinan.
  • Memperbaiki akhlak dan mengamalkan sunah: Pasangan yang hendak menikah perlu memperbaiki akhlak dan mulai giat melakukan sunah. Ini penting karena akhlak adalah bentuk cerminan diri yang akan dilihat oleh pasangan selama melangsungkan pernikahan.
  • Mengikuti program konseling pranikah: Konseling pranikah bertujuan untuk melihat dan menyamakan ekspektasi akan gambaran tentang kehidupan pasca-pernikahan.
  • Kesiapan finansial: Kesiapan finansial dalam pernikahan meliputi diskusi jujur tentang penghasilan, utang, dan gaya hidup. Selain itu, perlu membuat anggaran pernikahan secara detail, termasuk anggaran rumah tangga pasca-nikah; menyiapkan dana darurat; serta merencanakan aset dan proteksi masa depan seperti investasi dan semacamnya.

Cerita Cinta yang Sederhana

Cerita perkenalan saya dan calon pasangan mungkin tak seromantis kisah-kisah fiksi. Anehnya lagi, kami sudah saling mengisyaratkan ketertarikan terlebih dulu bahkan sebelum pernah bertemu langsung. Lazimnya, orang akan mengagumi sesuatu setelah melihat wujud fisiknya. Dianggap halu? Masa bodo, karena yang bisa merasakannya adalah orang-orang yang mau think outside of the box dan bersedia wear your heart on your sleeves. Hati yang berbicara.

Mungkin cinta sejati itu memang sederhana, tidak terikat aturan kaku atau ekspektasi berlebihan, tapi lebih fokus pada penerimaan, ketulusan, dan saling berbagi. Ini tentang kebebasan emosi, bukan memaksakan standar atau aturan tertentu.

Selama masa-masa perkenalan, kami mengobrol setiap hari, mendiskusikan banyak hal, saling menceritakan pengalaman suka dan duka masing-masing. Dari hal-hal sederhana ini perlahan mulai terlihat ketulusan dan kepeduliannya terhadap orang lain. Tentu, segalanya tetap butuh klarifikasi begitu kesempatan itu datang.

Dia adalah api yang membakar dalam kegelapan, sinar yang menerangi jalan di malam yang gelap. Saya tidak pernah melihatnya secara langsung, tapi saya merasa seperti saya sudah mengenalnya. Potretnya di media sosial adalah jendela jiwanya, dan saya merasa seperti saya sudah jatuh ke dalamnya, seperti daun yang jatuh ke dalam air yang tenang, tidak pernah ingin keluar lagi.

Saya tidak bisa menjelaskan apa yang membuat saya tertarik, tapi saya tahu bahwa saya tidak bisa mengontrol perasaan ini. Saya ingin mengenalnya lebih baik, ingin tahu apa yang membuatnya hidup, ingin tahu apa yang membuatnya bernapas, ingin tahu apa yang membuatnya menjadi dirinya sendiri, menjadi versi terbaik dari dirinya.

Saya tahu bahwa ini adalah cinta yang tidak mungkin, tapi saya menyerah pada perasaan ini, karena saya tahu bahwa saya tidak bisa melawan hati saya sendiri. Saya hanya ingin merasakan perasaan ini, ingin merasakan api yang membakar dalam hati saya, ingin merasakan kehangatan yang hanya bisa diberikan olehnya, ingin merasakan bahwa saya hidup, bahwa saya bernapas, bahwa saya ada.

Saya akan mengikuti perasaan ini, sampai ke ujung dunia jika perlu, karena saya tahu bahwa ini adalah kesempatan saya untuk merasakan cinta yang sejati, untuk merasakan bahwa saya benar-benar hidup. Karena saya tahu bahwa saya tidak akan pernah menemukan perasaan seperti ini lagi.

Untuk mengakhiri resolusi 2026 ini, saya tinggalkan satu catatan dari Ika Natassa yang pernah cukup viral beberapa tahun yang lalu di platform X,

You know, there is something about a beginning and an ending. Akhir itu selalu jelas, tapi awal? Awal bisa hadir dalam senyap, pelan-pelan, luput dari sadar, sampai tiba-tiba sesuatu itu sudah menjadi bagian dari sehari-hari, melekat, tanpa minta izin dan permisi. Kau selalu tahu kapan sesuatu selesai, tapi kau mungkin akan kesulitan menjelaskan kapan ia berawal. It just happens is probably the best explanation you can give. It just happens.

Erina Syifa

Seorang penulis berita yang sering meliput isu pemerintahan dan administrasi publik. Ia memiliki kebiasaan membaca analisis kebijakan, menonton diskusi publik, dan membuat catatan ringkas. Waktu luangnya ia gunakan untuk berjalan santai. Motto: “Ketegasan dalam informasi adalah bentuk pelayanan publik.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *