My WordPress Blog

Krisis Dokter Anestesi, Pasien Gawat Darurat Dirujuk ke Daerah Tetangga

Krisis Dokter Anestesi di RSUD Hendrikus Fernandez Larantuka

RSUD Hendrikus Fernandez Larantuka kembali menjadi perhatian masyarakat. Rumah sakit yang dikenal sebagai kebanggaan warga Flores Timur ini sedang menghadapi krisis serius, yaitu kekurangan dokter anestesi. Akibatnya, pasien yang membutuhkan tindakan operasi, termasuk operasi caesar dan penanganan gawat darurat, harus dirujuk ke rumah sakit di kabupaten tetangga.

Masalah kekurangan dokter anestesi di RSUD Larantuka bukanlah hal baru. Kondisi ini telah terjadi berulang kali dan berdampak langsung pada pelayanan kesehatan masyarakat. Terutama bagi pasien yang membutuhkan tindakan bedah mendesak, seperti ibu hamil yang harus menjalani operasi caesar atau pasien trauma yang memerlukan penanganan segera.

Ketiadaan dokter anestesi membuat rumah sakit tidak bisa menjalankan prosedur operasi secara mandiri. Akibatnya, pasien harus dirujuk ke rumah sakit lain seperti RSUD TC Hillers Maumere di Kabupaten Sikka atau RSUD Lewoleba di Kabupaten Lembata. Proses rujukan ini tentu memakan waktu dan berisiko tinggi, terutama bagi pasien dalam kondisi kritis.

Pelaksana Tugas (Plt) Direktur RSUD Hendrikus Fernandez, Goris Koten, mengungkapkan bahwa selama ini pihak rumah sakit mengandalkan dokter anestesi kontrak dengan sistem dua bulanan. Namun, sistem ini justru menimbulkan celah yang berbahaya.

“Setiap kali masa kontrak habis, selalu ada jeda dua sampai tiga hari sebelum dokter baru datang. Ini karena dokter yang baru masih harus mempersiapkan diri untuk ke Larantuka,” jelas Goris.

Kondisi ini membuat rumah sakit berada dalam posisi rentan. Dalam masa jeda tersebut, tidak ada dokter anestesi yang bertugas, sehingga semua tindakan operasi harus ditunda atau pasien dirujuk ke luar daerah.

Untuk mengatasi kekosongan ini, RSUD Larantuka menjalin kerja sama dengan Rumah Sakit Udayana di Bali. Kerja sama ini difasilitasi melalui nota kesepahaman (MoU) antara Pemerintah Kabupaten Flores Timur dan Fakultas Kedokteran Universitas Udayana.

“Karena kita tidak punya dokter anestesi tetap, kita bekerja sama dengan RS Udayana. Mereka bantu kirimkan dokter ke sini,” ujar Goris.

Namun, kerja sama ini bersifat sementara dan belum menyelesaikan akar permasalahan. Ketergantungan pada tenaga medis dari luar daerah membuat pelayanan kesehatan di RSUD Larantuka tidak stabil.

Sebagai langkah jangka panjang, Pemerintah Kabupaten Flores Timur dan manajemen RSUD telah mengirim beberapa dokter untuk menempuh pendidikan spesialis anestesi di luar daerah. Harapannya, setelah menyelesaikan studi, mereka bisa kembali dan mengisi kekosongan yang selama ini menjadi masalah utama.

“Tahun ini kita kerja sama dengan program studi anestesi, bedah, dan penyakit dalam. Dokter kita sedang studi, jadi kita masih harus pakai dokter dari luar,” tambah Goris.

Kekurangan dokter anestesi bukan satu-satunya masalah yang dihadapi RSUD Hendrikus Fernandez. Baru-baru ini, rumah sakit ini juga mengalami penurunan status dari kelas C menjadi kelas D. Salah satu penyebabnya adalah minimnya fasilitas ICU dan tenaga medis spesialis.

Penurunan kelas ini tentu berdampak pada kepercayaan masyarakat terhadap layanan rumah sakit. Banyak warga yang merasa kecewa karena rumah sakit andalan mereka kini tak lagi mampu memberikan layanan kesehatan yang memadai.

Kondisi ini menjadi alarm keras bagi pemerintah daerah. Masyarakat berharap ada langkah konkret dan cepat dari Pemda Flores Timur untuk mengatasi krisis ini. Tidak hanya dengan mengandalkan kerja sama luar daerah, tetapi juga dengan memperkuat sistem rekrutmen dan retensi tenaga medis di daerah sendiri.

Kesehatan adalah hak dasar masyarakat. Ketika rumah sakit rujukan utama di kabupaten tidak mampu memberikan layanan dasar seperti operasi caesar, maka yang dipertaruhkan adalah nyawa. Sudah saatnya RSUD Hendrikus Fernandez mendapatkan perhatian serius. Bukan hanya dari sisi fasilitas, tetapi juga dari sisi sumber daya manusia. Karena tanpa dokter, rumah sakit hanyalah bangunan kosong.


Denis Arjuna

Seorang jurnalis digital yang terbiasa bekerja cepat dalam merangkum informasi penting menjadi berita yang mudah dipahami. Ia aktif menulis tentang gaya hidup, komunitas kreatif, dan isu keseharian. Hobi memasak dan mencoba resep baru membuatnya semakin peka pada detail. Motto: "Menulis adalah seni memahami manusia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *