My WordPress Blog
Budaya  

Perayaan Ekaristi HDI: Bukti Gereja Katolik Menerima Difabel dan Tersingkir

Perayaan Ekaristi Hari Difabel Internasional di Solo Berlangsung Khidmat dan Penuh Makna

Gereja Katolik Santa Perawan Maria Regina Purbowardayan, Solo menjadi saksi atas suksesnya acara Perayaan Ekaristi Hari Difabel Internasional (HDI). Acara yang diselenggarakan oleh FKPA (Forum Komunikasi Panti Asuhan Katolik) Regio Jawa Tengah dan Yogyakarta digelar di Aula Albertus Paroki Purbowardayan, Minggu, 7 Desember 2025.

Perayaan Ekaristi ini dipimpin oleh Vikaris Kevikepan Kategorial Keuskupan Agung Semarang, Romo Yohanes Dwi Arsanto, Pr, didampingi Pastor Moderator FKPA Korwil Jawa Tengah-DIY, Romo Romualdus Subyantara Putra Perdana, Pr dan Pastor Paroki Purbowardayan, Romo Yoseph Supriyanto, Pr serta Pastor Pendamping Mahasiswa Surakarta, Romo Fransiskus Martino Mari Asisi, SJ.

Sebanyak 1000 umat yang terdiri dari kaum difabel, anak-anak di panti asuhan serta para pemerhati dari seluruh Jateng hingga DIY ikut menyemarakkan perayaan ini. Perayaan Ekaristi berlangsung dengan khusuk dan khidmat.

Romo Yohanes Dwi Harsanto, Pr dalam khotbahnya menyampaikan tentang pentingnya merangkul kaum difabel. Menurut Romo Santo, sapaannya, mengatakan bahwa difabel pada umumnya adalah sama seperti orang biasa. Namun, kaum difabel adalah mereka yang memiliki karunia dan kelebihan khusus sehingga layak mendapat perhatian lebih.

Setelah Ekaristi, acara dilanjutkan dengan pentas seni dan bazar. Kaum difabel juga ikut menjajakan karyanya kepada seluruh umat dalam acara ini. Hal ini menjadi bukti bahwa mereka yang acap kali dianggap kurang dan dipandang sebelah mata bisa berkarya dan mencari uang.

Tidak hanya umat Katolik, mereka yang berasal dari kepercayaan lain seperti Islam dan Kristen Protestan juga ikut memeriahkan acara ini. Mereka yang bukan dari Gereja Katolik fadir memeriahkan acara saat perayaan Ekaristi sudah selesai dan pentas seni dimulai.

Wali Kota Solo, Repasti Ardi ikut memeriahkan acara ini dan memberikan sambutannya di sela-sela pertunjukan pentas seni. Respati Ardi merasa terharu dan bangga terhadap kepedulian Gereja Katolik yang mau peduli terhadap kaum difabel. Ia memastikan bahwa Kota Solo selalu terbuka dan merangkum kaum difabel.

“Saya sangat senang bisa membersamai orang tua-orang tua hebat yang bersabar dalam merawat dan membesarkan rekan-rekan disabilitas,” ucap Respati. “Kami kota Surakarta selalu berkomitmen untuk memberi hak yang sama baik untuk rekan-rekan disabilitas.”

Politisi Gerindra ini juga mengajak kaum difabel untuk berkarya. Agustinus Kris Widianto, selaku Ketua Pelaksana acara ini mengatakan bahwa acara Perayaan Ekaristi Difabel Internasional dapat berjalan sukses karena dibantu oleh banyak pihak. Satu di antaranya melibatkan pemerhati kaum difabel, orang muda Paroki Purbowardayan dan mahasiswa Katolik.

Pria yang disapa Agus tersebut mengatakan bahwa pihaknya menggandeng mahasiswa/i dari Kampus Upitra Surakarta untuk menyukseskan perayaan Hari Disabilitas Internasional pada tahun ini. Tujuannya ialah mengajak para mahasiswa/i belajar akan kondisi sosial dan berpelayanan serta mempromosikan kampus Katolik ke khalayak ramai.

Tentang Hari Difabel Internasional

Kris menjelaskan bahwa Perayaan Ekaristi Difabel Internasional sebenarnya tidak ada. Acara ini diadakan untuk mengucap syukur atas diadakannya peringatan Hari Difabel Internasional. Hari Difabel Internasional dicanangkan oleh Perserikatan Bangsa-bangsa pada 3 Desember 1992.

“Misa Difabel itu tidak ada. Hari Difabel Internasional sebenarnya yang mencanangkan adalah PBB. Sebenarnya tanggalnya adalah 3 Desember 1992,” jelas Kris. Alasan Gereja Katolik mau ikut merayakan Hari Difabel Internasional ialah karena merasa perlu memperhatikan kaum disablitas dan menganggap mereka sebagai bagian dari karya Tuhan.

Perayaan yang diselenggarakan pada tahun ini menjadi yang ke-15 kali sejak tahun 1992.

Tentang FKPA

FKPA didirikan untuk memperhatikan anak-anak, difabel dan lanjut usia di panti asuhan Katolik yang ada di Indonesia. Tujuannya adalah untuk belajar, memahami dan mengawasi setiap panti asuhan Katolik yang ada di indonesia.

“Panti asuhan itu mencakup anak-anak yatim piatu, difabel, lansia dijadikan satu komunitas supaya satu sama lain bisa saling belajar, memperhatikan dan mengawasi,” jelas Kris. Apalagi, Kris menemukan adanya penyelewengan yang ada di setiap panti asuhan. Di antaranya seperti anak-anak atau penguni yang tidak diperhatikan hingga menjadi perdagangan manusia di dalam panti asuhan.

“Supaya tidak terjadi sesuatu yang buruk. Yang buruk itu banyak, misalnya panti asuhan menjadi tempat perdagangan manusia, kondisi anak tidak diperhatikan,” terang Kris. “FKPA itu terdiri dari banyak panti asuhan di Keuskupan Agung Semarang dan Purwokerto. (Nggih) gitu. Lalu saling berkomunikasi yang umumnya milik biarawan-biarawati.”

Gereja yang Terbuka terhadap Kaum Difabel

Romo Romualdus Subyantara Putra Perdana, Pr mengatakan bahwa FKPA juga merangkul semua golongan tanpa memandang ras, suku dan agama. “FKPA itu meskipun payungnya gereja Katolik tetapi secara kewilayahan menggunakan pemerintah. Ini yang saya menjadi moderator ini dari keindahan angsa putih atau putri,” jelas imam yang disapa Romo Subi tesebut.

“Kalau anggotanya itu panti-panti yang punya nafas Katolik, tetapi di dalamnya kliennya pasti campur pasti campur pasti campur.” Gereja yang Terbuka terhadap Kaum Difabel

Romo Subi kemudian bercerita soal pandangan Gereja Katolik terhadap kaum dfabel. Ia mengatakan bahwa Gereja selalu terbuka terhadap kaum-kaum yang lemah dan tersingkirkan, satu di antaranya adalah difabel. Menurutnya, umat difabel Katolik juga berhak menerima sakramen seperti orang normal pada umumnya. Namun ia tak menampik bahwa setiap umat Katolik yang difabel dan hendak menerima sakramen harus mendapat perhatian khusus.

“Pada prinsipnya setiap umat beriman itu punya hak untuk menerima sakramen meskipun dalam syarat tertentu itu ada pemahaman iman yang dituntut sebagai penerima sakramen tetapi menyadari bahwa setiap difabel itu selalu ada support sistyemnya,” jelas Romo Subi. Romo Subi tak menampik bahwa beberapa gereja belum ramah kaum difabel. Ia berharap, Gereja Katolik bisa melibatkan kaum difabel dalam berpastoral dan berkarya, bukan hanya sebagai umat biasa.

“Sebenarnya kalau ngomong soal harapan tentu kita pertama-tama memang mereka perlu diberi ruang diberi ruang untuk menjadi bagian dari gereja yang utuh,” cetus Romo Subi. Tidak hanya sebagai peserta tapi juga pelaku pastoral seperti yang disampaikan. “Diberi ruang untuk tugas liturgi atau juga diberi ruang untuk mempunyai paguyuban-paguyuban yang dari situ gereja bisa menyapa mereka,” sambungnya.

Imam Keuskupan Agung Semarang tersebut menegaskan bahwa mereka bahwa disabilitas bukan akibat dari dosa. Melainkan, ada sebuah kondisi yang diberikan Tuhan dan terdapat anugerah di dalamnya. “Disabilitas ini bukan akibat dari dosa, pada umum apa gampangannya gitu. Bukan karena dosa anaknya atau dosa orang tuanya,” tegas Romo Subi. “Ini adalah sebuah kondisi yang diberikan Tuhan.”

“Ketika (anak) itu sudah dilahirkan, artinya sudah ada keterbukaan dari keluarga untuk menerima bahwa ini adalah pemberian Tuhan,” tambahnya.

Nurlela Rasyid

Penulis online yang antusias mendalami topik kesehatan dan gaya hidup. Ia rutin mengikuti webinar, membaca jurnal kesehatan, dan menulis catatan pribadi tentang pola hidup seimbang. Hobi lain yang ia tekuni adalah membuat smoothie dan meditasi. Motto: "Informasi adalah alat untuk hidup lebih baik."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *