My WordPress Blog

Sepasang Sepatu Baru untuk Langkah Kecil N: Kekuatan Anak HIV di Purbalingga

Kehidupan Anak-Anak dengan HIV di Purbalingga

Di sudut gedung KPAD Purbalingga, terdapat suasana yang penuh keceriaan. N, seorang bocah kelas 6 SD asal Kemangkon, menyambut sepasang sepatu baru yang diberikan oleh Komunitas Sedekah Sepatu Purbalingga dengan senyum lebar. Dengan lincah, ia mencoba mengayunkan langkahnya sambil memperhatikan bagaimana sepatu itu mengkilap di kakinya.

Tak banyak orang tahu bahwa di balik keceriaannya yang begitu tulus, N memiliki cerita panjang tentang ketabahan, kesakitan, dan cinta tanpa syarat dari ibunya yang tak pernah menyerah.

Perjalanan Sunyi Sang Ibu

Ibu N menceritakan salah satu titik terendah dalam hidupnya adalah ketika harus merawat N yang sedang sakit hingga harus dilakukan pembedahan syaraf saat putri kecilnya berusia tujuh tahun. “Dulu pernah sakit sampai harus bedah syaraf, mungkin itu salah satu titik terendah saya,” ujarnya sambil mencoba menahan getaran suara.

N dinyatakan positif HIV sejak tahun 2020, tepat ketika ia akan masuk sekolah dasar. Penyakit ini bukan berasal dari ibunya, melainkan dari ayah kandungnya. Saat ini, N tinggal bersama ibu dan ayah sambungnya yang menerima dirinya apa adanya.

Tidak seperti kebanyakan anak lainnya, N belum mengetahui soal penyakitnya. Ibunya lebih memilih menunggu. “Mungkin nanti, kalau sudah SMP atau SMA, baru saya kasih tahu. Saya ingin dia tetap ceria,” katanya.

Dan benar, N tumbuh sebagai anak yang ceria, memiliki banyak teman, dan nyaris tidak pernah kehilangan canda. Meskipun nilai pelajarannya selalu rendah karena perkembangannya disebut “mentok” oleh dokter, ia tetap menjalani hari dengan semangat seperti anak seusianya.

Obat Tiga Bulan Sekali

Hal serupa juga dialami R, seorang perempuan asal Bojongsari yang sekarang duduk di bangku kelas 5 SD. Saat ini, R menjalani pengobatan di RSUD Goeteng. Setiap tiga bulan sekali, ia harus membeli obat untuk menjalani perawatan penyakit yang dideritanya.

R terdeteksi positif HIV sejak kelas 3 SD. Saat ini, ia dirawat oleh kakek dan neneknya yang berhati tulus dan menerima R apa adanya. Kakek R dengan tulus mengambil peran merawat cucunya setelah ayahnya meninggal dan ibunya terkena gangguan psikologis karena kematian suaminya.

R juga merupakan anak yang ceria. Ia suka bermain sepeda dan berenang, serta memiliki banyak teman. Namun, di balik keceriaannya, sang kakek masih menyembunyikan penyakit yang diderita R. Ia khawatir, sang cucu akan merasa rendah diri.

“Sementara seperti ini saja,” ucapnya lirih. Sang kakek hanya berharap bisa merawat R lebih lama. Ia sangat ingin R tumbuh dengan kasih sayang dan menjadi anak yang pandai dalam pendidikan akademik maupun agama.

Hadiah Semangat dari Sepasang Sepatu

Keceriaan N dan R siang itu, rupanya bukan tanpa alasan. Keduanya adalah salah satu dari 19 anak penyandang HIV AIDS di Purbalingga yang mendapat bantuan sepatu, sembako, dan susu formula dari Komunitas Sedekah Sepatu Purbalingga.

Founder komunitas tersebut, Yuspita Palupi, mengatakan bahwa kegiatan ini bukan hanya momen penting pada Hari AIDS Sedunia pada 1 Desember 2025 lalu. Pihaknya ingin memberikan dukungan kepada para penyandang HIV, khususnya anak-anak agar mereka tetap ceria.

“Kami ingin memberikan dukungan mental. Agar anak-anak ini tetap percaya diri dan semangat bersekolah,” katanya.

Yuspita mengatakan stigma masyarakat terhadap penyandang HIV masih tinggi. Hal ini membuat anak-anak penderita penyakit tersebut sering menutup diri, bahkan sebelum mengalami penolakan. “Makanya, kami ajak mereka agar bisa ceria dulu, agar mereka tidak merasa sendiri,” tuturnya.

Selain kepada anak-anak penderita, bantuan juga diberikan kepada para pengasuh seperti orang tua ataupun saudara yang telah tulus merawat anak dengan pengidap HIV. “Ada yang bukan anak kandung, tapi mereka tulus merawat sepenuh hati. Saya rasa perjuangan ini harus kita apresiasi,” ujarnya.

Data Penyakit HIV di Purbalingga

Sementara itu, Sekretaris KPAD Purbalingga, Semedi, mengatakan bahwa sejak tahun 2011 hingga September 2025, tercatat sebanyak 882 orang ber-KTP Purbalingga yang terdeteksi HIV AIDS. Dari jumlah tersebut, 19 anak yang hadir dalam penyerahan bantuan sepatu dan sembako ini terdeteksi terinfeksi HIV sejak lahir.

“Mereka lahir dari ibu yang juga positif,” katanya. Semedi menyebut, saat ini sudah ada teknologi yang mampu membuat ibu yang positif HIV mampu melahirkan anak negatif HIV. “Mungkin, yang 19 ini mereka yang dulunya belum tahu adanya teknologi ini. Jadi setelah lahir baru terdeteksi,” ujarnya.

Adapun, ia mengatakan, teknologi tersebut dapat dilakukan dengan catatan pada seorang ibu hamil yang dinyatakan positif HIV pada awal kehamilan. “Dengan catatan pada awal kehamilan, itu baru bisa dilakukan. Karena kalau kehamilan sudah besar, itu nggak bisa,” katanya.

Untuk pencegahan, menurut Semedi dilakukan melalui konsumsi obat ARV secara teratur, kemudian dipantau perkembangan janinnya oleh dokter, dan dilakukan operasi khusus agar sang bayi tidak tertular HIV.


Dian Sasmita

Penulis yang memulai karier dari blog pribadi sebelum akhirnya bergabung dengan media online. Ia menyukai dunia tulis-menulis sejak sekolah. Hobinya adalah traveling, membaca novel klasik, dan membuat jurnal harian. Setiap perjalanan dan interaksi manusia selalu menjadi bahan inspirasinya. Motto: "Setiap sudut kota punya cerita yang patut dibagikan."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *