Pemanfaatan AI sebagai Pendorong Ekonomi Indonesia
Indonesia memiliki target untuk menjadi negara berpendapatan tinggi sebelum tahun 2045. Dalam upaya mencapai tujuan tersebut, teknologi Artificial Intelligence (AI) khususnya AI Agentik diproyeksikan menjadi salah satu pendorong utama pertumbuhan ekonomi. Studi yang dilakukan oleh AT Kearney menunjukkan bahwa AI dapat memberikan kontribusi hingga 366 miliar dolar AS atau sekitar 12 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) nasional pada tahun 2030. Hal ini juga diharapkan bisa memberikan kontribusi sebesar 10–18 persen terhadap PDB Asia Tenggara.
AI Agentik memiliki peran penting dalam mengubah cara bisnis beroperasi. Teknologi ini tidak hanya membantu perusahaan berinovasi, tetapi juga meningkatkan produktivitas dan memperluas inklusi ekonomi di seluruh Nusantara. Dengan adopsi AI yang semakin pesat, banyak bisnis mulai mengadopsi teknologi ini untuk meningkatkan efisiensi dan layanan mereka.
Potensi Ekonomi AI di Indonesia
Laporan AWS–Strand Partners menunjukkan bahwa Indonesia memiliki adopsi AI tercepat di Asia Pasifik. Selama tahun 2024, tercatat sebanyak 5,9 juta bisnis di Indonesia mulai mengadopsi AI—lebih dari 10 bisnis per menit. Namun, survei Cisco AI Readiness Index 2025 menyebutkan bahwa hanya 19 persen perusahaan siap mengadopsi AI, sementara 81 persen belum memiliki fondasi yang memadai seperti data, keamanan, jaringan, dan SDM.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menegaskan bahwa AI bukan tujuan akhir, melainkan alat untuk mencapai kesejahteraan rakyat. Ia menekankan bahwa AI dapat menjadi mesin pertumbuhan ekonomi baru bagi Indonesia.
Peluang untuk UMKM
Pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) melalui asosiasi menekankan bahwa agen AI membantu usaha kecil melayani pelanggan lebih cepat dan efisien. Namun, tantangan biaya serta keterampilan digital tetap menjadi hambatan yang perlu diatasi agar manfaat teknologi dapat dirasakan secara merata.
AI Agentik memungkinkan siapa saja untuk berinovasi, sehingga pengusaha dapat mengembangkan ide dan meluncurkan model bisnis baru dengan investasi minimal namun dalam skala besar. Hal ini dapat mendorong transformasi ekonomi dari bawah ke atas, dengan semakin banyak UMKM yang mengadopsi teknologi AI canggih untuk meningkatkan tingkat kematangan digital di Indonesia.
Tantangan Adopsi AI
Meskipun peluang besar terbuka, tantangan tetap ada. Kesenjangan literasi digital, kesiapan data dan keamanan siber, serta ketimpangan akses teknologi antara kota besar dan pelosok menjadi isu utama. Forum lintas industri menyoroti adopsi korporasi AI yang melesat sebesar 47 persen setahun terakhir, tetapi literasi publik menjadi PR utama agar transformasi tidak elitis dan benar-benar inklusif.
Langkah Industri dalam Mengadopsi AI
Di tengah dinamika tersebut, sejumlah perusahaan teknologi tetap melanjutkan langkah konkret untuk menyesuaikan layanan mereka dengan kebutuhan lokal. Upaya ini dipandang sebagai bagian dari ekosistem yang lebih luas, di mana sektor swasta berperan mendukung agenda transformasi digital nasional.
Perusahaan teknologi Indonesia menyampaikan perkembangan terbaru terkait penggunaan bahasa lokal dalam sistem AI mereka. Perusahaan menjelaskan bahwa dukungan bahasa Indonesia ditambahkan agar teknologi dapat lebih mudah diakses oleh pengguna bisnis di dalam negeri.
“Kami memiliki posisi yang strategis untuk membantu mendorong visi ekonomi Indonesia menuju tahap berikutnya. Yakni, dengan membantu bisnis menjadi agentic enterprise, sebuah model kerja baru di mana AI meningkatkan kapasitas manusia, bukan menggantikannya,” ujar Presiden Direktur Salesforce Indonesia Andreas Diantoro dalam keterangannya, Rabu (3/12/2025).
Perkembangan ini menunjukkan bahwa adopsi AI di Indonesia tidak hanya menjadi wacana kebijakan, tetapi juga sudah diterjemahkan ke dalam langkah nyata oleh pelaku industri. Dukungan bahasa lokal dalam sistem AI menandai upaya konkret untuk memperluas akses teknologi, sehingga manfaatnya dapat dirasakan lebih merata oleh dunia usaha di dalam negeri.
Masa Depan AI di Indonesia
AI Agentik bukan sekadar teknologi, melainkan peluang besar untuk mengubah cara Indonesia bekerja, berbisnis, dan tumbuh bersama—membuka jalan menuju pemerataan ekonomi dari kota besar hingga pelosok Nusantara, selama kesiapan, literasi, dan tata kelola berjalan seiring. Dengan komitmen pemerintah dan perusahaan teknologi, potensi AI akan terus berkembang dan memberikan dampak positif bagi seluruh lapisan masyarakat.
Reporter berita yang mengutamakan akurasi dan objektivitas. Ia memiliki ketertarikan pada isu sosial dan ekonomi, serta mengikuti perkembangan dunia digital. Waktu luangnya dihabiskan untuk membaca laporan penelitian, mendengarkan podcast edukasi, dan berjalan santai di taman kota. Motto: "Fakta adalah kompas bagi setiap penulis."











