Perjuangan Ibu Siti Aisyah, Tukang Tambal Ban Truk yang Tak Pernah Menyerah
Ibu Siti Aisyah (35) adalah contoh nyata dari ketangguhan seorang perempuan dalam menghadapi tantangan hidup. Dengan keberaniannya, ia memilih menjadi tukang tambal ban truk, pekerjaan yang biasanya dianggap sebagai pekerjaan laki-laki. Meski berisiko tinggi, ia melakukannya demi tujuan mulia, yaitu untuk menghidupi keluarganya.
Sejak 15 tahun lalu, Ibu Siti Aisyah dan suaminya, Aspriyanto (45), tinggal di Kota Surabaya. Mereka berasal dari Karawang, Jawa Barat. Setiap hari, mereka berjalan melewati debu dan jalanan yang penuh dengan kendaraan besar, khususnya truk, untuk memberikan layanan tambal ban kepada pelanggan.
“Saya spesialis ban truk ukuran 1.100,” kata Ibu Siti Aisyah saat ditemui Kompas.com. Ban ukuran ini digunakan pada truk dengan muatan besar, bisa mencapai satu ton. Namun, Ibu Siti Aisyah mampu mengangkat dan membalik ban tersebut sendirian tanpa alat bantu.
Alat-alat yang digunakan seperti impact wrench, yang beratnya bisa mencapai 20 kilogram, juga mudah ia angkat. Ia menjelaskan bahwa semua ini dilakukan demi menghidupi kelima anaknya dan orangtuanya di kampung halaman.
Berbagai Pekerjaan Sebelum Menjadi Tukang Tambal Ban
Sebelum menekuni pekerjaan ini, Ibu Siti Aisyah pernah mencoba berbagai jenis pekerjaan. Mulai dari bekerja di pabrik plastik dan sparepart hingga berjualan nasi. Namun, semuanya tidak bertahan lama.
Kejadian yang membuatnya memutuskan untuk menjadi tukang tambal ban terjadi ketika suaminya mengalami kecelakaan kerja akibat ledakan saat menambal ban truk. Satu tulang lengan tangannya patah, sehingga Ibu Siti Aisyah memutuskan untuk menggantikan pekerjaan suaminya.
“Saya bertekad bersama suami. Bekerja bersama-sama demi impian di kampung,” ujarnya.
Kehidupan yang Sederhana tapi Penuh Makna
Pendapatan dari hasil tambal ban truk tidak selalu stabil, tetapi Ibu Siti Aisyah tetap menjalaninya. Uang tersebut digunakan untuk memenuhi kebutuhan keluarga, termasuk membayar cicilan pinjaman di bank.
“Untungnya, saya dan suami serta anak-anak tidak punya target apa-apa. Kami hidup apa adanya, bersyukur,” katanya.
Ketiga anak pertamanya sudah masuk sekolah, yaitu SMP, SD, dan TK. Mereka sering ditinggal di rumah saat Ibu Siti Aisyah dan suaminya bekerja. Anak sulung bertugas menjaga rumah, sementara anak keempat lebih sering diajak bekerja bersama.
“Alhamdulillah anak-anak itu pengertian. Anak saya yang pertama sudah bisa masak sedikit, mereka juga tidak pernah minta-minta, mereka bilang ‘kasihan ibu sudah capek kerja’,” ujarnya sambil menyeka air mata.
Kepercayaan dan Harapan yang Selalu Ada
Meskipun pekerjaannya penuh risiko—mulai dari perut keram, kaki bengkak, hingga potensi kehilangan nyawa—Ibu Siti Aisyah tak pernah menyerah. Ia menghadapi segala tantangan ini demi melihat anak-anaknya tidak kekurangan makan.
“Sakit ini kami tidak periksa ke dokter. Kalau tahu keadaan kami, kami tidak boleh kerja, tapi kami butuh uang,” tuturnya.
Tekadnya untuk mencari uang meski harus bergelut dengan perkakas berat setiap hari ia jalani tanpa mengeluh. “Saya nikmati saja sekarang, anak-anak kalau sudah dewasa nanti berpisah dengan kami. Meskipun kadang suka marah, tapi kalau mereka tidur saya lihatin, senyum mereka bikin saya semangat,” ujarnya.
“Kalau saya pulang, bunda pengen jajan itu kayak rasanya capek saya hilang. Senang lihat anak-anak bisa makan. Lihat anak-anak, aku harus kerja lebih semangat,” pungkasnya.











