My WordPress Blog

Gempa M 6,3 Guncang Aceh, Terasa hingga Malaysia!

Gempa Megathrust di Aceh yang Menyebar Hingga Malaysia

Di tengah ketenangan, Bumi di bawah Sinabang, Kabupaten Simeulue, Aceh, tiba-tiba menggeliat. Sebuah getaran kuat merambat, menjalar hingga ratusan kilometer menyeberangi laut ke negeri jiran Malaysia. Fenomena alam dahsyat ini, yang kemudian diidentifikasi BMKG sebagai gempa megathrust bermagnitudo 6,3, tak hanya memicu kepanikan sesaat namun juga sederet fakta mengejutkan mengenai ancaman geologi di Nusantara yang wajib dipahami untuk kesiapsiagaan di masa depan.

Peristiwa ini sekali lagi mengingatkan bahwa Indonesia berada di atas cincin api Pasifik yang selalu menyimpan potensi tak terduga. Pada Kamis, 27 November 2025, pukul 11.56 WIB, Bumi bergetar hebat. Gempa dengan magnitudo 6,3 itu berpusat di laut, hanya 1 km arah selatan Simeulue, Aceh, pada kedalaman 14 km.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) segera mengeluarkan pernyataan resmi melalui akun X-nya: “Tidak berpotensi tsunami,” sebuah kalimat yang menenangkan jutaan warga dari ancaman gelombang raksasa.

Namun, kendati tidak berpotensi tsunami, insiden ini membawa serangkaian fakta menarik yang diungkap BMKG, menjadikannya lebih dari sekadar gempa biasa. Hingga pukul 13.00 WIB pada hari yang sama, BMKG mencatat terjadinya 6 gempa susulan, dengan magnitudo terbesar M 4,8.

Getaran Terasa Hingga Malaysia

Dampak getaran gempa ini tidak hanya terbatas di wilayah Indonesia. Otoritas Malaysia turut mengonfirmasi bahwa getaran gempa M 6,3 tersebut terasa hingga ke negeri jiran. Berita yang dirilis oleh MetMalaysia menyebutkan bahwa gempa itu terjadi pukul 12.56 waktu setempat dengan magnitudo 6,5.

“Getaran terasa di sekitar wilayah pantai barat Peninsular Malaysia,” ujar MetMalaysia. Meskipun dirasakan cukup jauh, MetMalaysia juga menegaskan bahwa tidak ada potensi tsunami akibat gempa ini dan belum ada laporan kerusakan di Malaysia. Ini menunjukkan seberapa luas jangkauan energi yang dilepaskan oleh gempa megathrust ini.

Belum ada laporan mengenai korban jiwa maupun kerusakan signifikan di wilayah Aceh, meskipun getaran gempa dirasakan begitu kuat dan luas. Peristiwa ini menjadi pengingat penting bagi seluruh masyarakat dan pemerintah untuk terus meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana geologi di wilayah yang memang rawan gempa.

Gempa Megathrust yang Sesungguhnya

Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG, Daryono, pada Kamis menyampaikan analisis mendalam terkait gempa ini. Ia menjelaskan bahwa gempa tersebut dipicu adanya aktivitas subduksi Lempeng Indo-Australia yang menunjam ke bawah Lempeng Eurasia.

“Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempa bumi memiliki mekanisme pergerakan naik (thrust fault),” kata Daryono, dikutip dari keterangan resmi.

Lebih lanjut, Daryono menyoroti lokasi episentrum gempa dan bentuk patahan yang terjadi. Ia menegaskan, “Ini event megathrust banget. Karena lokasi episenternya dan bentuk patahannya yang naik (thrusting).”

Istilah megathrust mengacu pada zona tumbukan antara dua lempeng tektonik yang saling menunjam, di mana energi dapat terakumulasi dalam jumlah sangat besar dan dilepaskan sebagai gempa bumi.

Zona Megathrust Tidak Selalu Pemicu Gempa Besar

Meskipun sering dikaitkan dengan gempa raksasa seperti yang memicu tsunami Aceh 2004, Daryono menjelaskan bahwa gempa megathrust tidak melulu memiliki kekuatan magnitudo besar. Ia menekankan bahwa gempa dapat disebut megathrust jika pusat gempa berada di bidang kontak antarlempeng.

“Gempa 2,0 sampai 3,0 bisa disebut gempa megathrust kalau pusatnya di bidang kontak antarlempeng. Itu gempa megathrust. Puluhan gempa megathrust terjadi tiap hari magnitudo 2,0 sampai 3,0. Nggak dirasa hanya alat yang deteksi,” jelasnya.

Ini menunjukkan bahwa aktivitas megathrust adalah fenomena geologi yang konstan, meskipun sebagian besar tidak terasa oleh manusia. Zona megathrust sendiri memanjang di Samudera Hindia bagian barat Sumatera, selatan Jawa, sampai Sumba Nusa Tenggara Timur (NTT).

Getaran dari Aceh Hingga Sumatera Utara

Getaran gempa magnitudo 6,3 ini dirasakan di sejumlah titik yang sangat luas, meliputi berbagai wilayah di Aceh hingga Sumatera Utara. Skala intensitas gempa diukur dengan Modified Mercalli Intensity (MMI), yang menunjukkan dampak getaran terhadap manusia dan struktur.

BMKG menginformasikan getaran paling kuat dirasakan di Simeulue dengan skala IV MMI, yang berarti “getaran dirasakan orang banyak dalam rumah, di luar oleh beberapa orang, dan membuat jendela/pintu berderik, serta dinding berbunyi.”

Getaran serupa juga dirasakan di Aceh Selatan dengan skala intensitas III-IV MMI. Sementara itu, Banda Aceh, Aceh Besar, Aceh Tenggara, Abdya, Singkil merasakan skala III MMI (getaran dirasakan nyata dalam rumah seperti ada truk lewat).

Lebih jauh lagi, Kabanjahe, Berastagi, Tiganderket, Pidie, Lhokseumawe merasakan skala II-III MMI (getaran dirasakan nyata dalam rumah seperti ada truk berlalu), dan bahkan Medan serta Silangit merasakan skala II MMI (getaran dirasakan beberapa orang, benda-benda ringan yang digantung bergoyang).


Amri Nufail

Reporter digital yang menggemari berita olahraga, kegiatan komunitas, dan isu pergerakan anak muda. Ia hobi berlari pagi, bermain badminton, dan menonton pertandingan olahraga. Ketika istirahat, ia menyukai membaca artikel inspiratif. Motto: “Semangat dalam berita harus sama kuatnya dengan semangat di lapangan.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *