Bencana Banjir dan Longsor di Wilayah Sumatera Utara
Banjir bandang yang melanda tiga desa yaitu Garoga, Huta Godang, dan Garoga menyebabkan 13 orang warga tewas. Dalam laporan terbaru dari Basarnas pada Rabu (26/11/2025), terdapat ribuan KK yang terdampak banjir di enam kecamatan. Delapan warga dilaporkan meninggal akibat banjir dan tanah longsor yang melanda Kota Sibolga.
Kepala SAR Nias, Putu Arga Sudjarwadi, menyampaikan perkembangan terbaru terkait proses pencarian dan evakuasi para korban. Selain korban jiwa tersebut, masih ada 21 orang yang belum ditemukan sejak bencana terjadi. Menurut data yang diterima Tribun Medan, delapan korban meninggal tersebar di beberapa lokasi: dua orang di Jalan Perjuangan, dua di Jalan Sutoyo LK I Pasar Baru, dua di Jalan Masjid Budi Sehati, dan dua lainnya di kawasan Lapo Uci.
Sementara data korban hilang berada di tujuh titik yakni Jalan Perjuangan 2 orang, Jalan Beo 1 orang, Lapo Uci 1 orang, Jalan Murai 10 orang, dan Jalan Kenanga (Aek Habil) 7 orang lebih. “Korban lost contact M. Azhar Hasibuan (Ketua Pengadilan Agama Sibolga) sempat hilang tapi telah tiba di Posko SAR (Markas Kopi) bersama keluarga,” katanya.
Pihak SAR menggerakkan seluruh personel untuk melakukan pencarian dan evakuasi terhadap seluruh warga. Titik lokasi yang terdampak banjir terdiri dari Badiri, Pinangsori, Lumut, Sarudik, Tukka, Pandan, Tapian Nauli, Kolang. Sementara, tanah longsor terjadi di 7 titik antara lain: Badiri, Sibabangun, Lumut, Sarudik, Tapian Nauli.
Saat ini banjir masih terus berlanjut dengan tinggi air selutut orang dewasa. Lokasi banjir terdiri dari Jalan Sibuluan Nauli (Tugu Ikan), Simpang Tukka-Sibuluan Baru, dan Pondok Batu. Jembatan Fransiskus putus dan longsor Matauli. Namun alat-alat berat sudah mulai bekerja.
“Saat ini pengungsi di GOR Pandan kurang lebih 200 orang dan terus bertambah,” jelasnya. Berikut jumlah KK Terdampak di Sibolga dan Tapteng:
- Pandan: 150 KK
- Sarudik: 338 KK
- Barus: 65 KK
- Kolang: 1.261 KK
- Tukka: 10 KK
- Lumut: 78 KK
Korban Sekeluarga dalam Bencana
Jumlah korban meninggal akibat hujan deras dan tanah longsor di wilayah Tapanuli Sumut terus bertambah. Di kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng) terdapat empat orang sekeluarga. Keempat korban tersebut yakni Dewi Hutabarat (33), Tio Arta Rouli Lumbantobing (7), Vania Aurora Lumbantobing (4), dan Ilona Lumbantobing (3). Basarnas mencatat tanah longsor juga melanda tujuh kecamatan antara lain Kecamatan Badiri, Kecamatan Sibabangun, Kecamatan Lumut, Kecamatan Sarudik, dan Kecamatan Tapian Nauli.
“Korban longsor meninggal dunia empat orang merupakan satu keluarga,” ujar Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan (SAR) Nias, Putu Arga Sudjarwadi. Putu melaporkan pada Rabu (26/11/2025) pukul 10.00 WIB Bendungan PLTA Sipan Sipahoras, Kecamatan Sarudik, Kabupaten Tapanuli Tengah telah dibuka karena debit air di bendungan sudah sangat tinggi sehingga banjir di Kota Sibolga dan Kabupaten Tapanuli Tengah semakin memburuk.
Bahkan, kata dia, sampai pukul 17.00 WIB hujan juga belum berhenti dan mengakibatkan longsor di berbagai titik. Berdasarkan pantauan dari media sosial, Basarnas juga mencatat sudah ada korban jiwa akibat longsor. Namun demikian, belum dapat dipastikan jumlah warga yang membutuhkan evakuasi segera.
Korban Banjir di Batangtoru
Hingga Rabu (26/11/2025), sebanyak 13 orang tewas akibat bencana banjir bandang di Batangtoru, Tapanuli Selatan (Tapsel). Semua korban tewas dibawa untuk dievakuasi ke Puskesmas Batangtoru. Semula sebanyak 6 korban jiwa yang sengaja disimpan di puskemas sejak Selasa (25/11/2025). “Siang tadi bertambah tujuh lagi. Sekarang total pasien exit (meninggal dunia) bertambah menjadi 13 korban jiwa,” ucap Kepala Puskesmas Batangtoru, Erlida Batubara kepada Tribun Medan.
13 orang warga tewas ini merupakan korban jiwa saat banjir bandang di tiga desa. Garoga, Huta Godang dan Garoga. Kebanyak korban tewas berasal dari Garoga dan Huta Godang. Namun ada satu korban jiwa yang didapati merupakan warga Pandan, Tapanuli Tengah (Tapteng).
Berikut 13 identitas korban jiwa banjir bandang di Batangtoru, Tapsel:
1. Selvi warga Garoga
2. Ros Siregar warga Garoga
3. Iper Manalu warga Hutagodang
4. Nurhafifah warga Garoga
5. Raisyah Pasaribu warga Simanosor
6. Rosnawati Marbun warga Garoga
7. Budi Hutabarat warga Garoga
8. Tetti Melinda warga Garoga
9. Fahriza Hasibuan warga Pandan
10. Mulia Hasibuan warga Garoga
11. Husdan Lubis warga Garoga
12. Tiomeli Manalu warga Huta Godang
13. Mister x
Pengungsi di GOR Pandan
Basarnas juga mencatat terdapat sekira 200 orang mengungsi di GOR Kecamatan Pandan. “Pengungsi di GOR Pandan kurang lebih 200 orang dan bertambah. Korban lost contact Ketua Pengadilan Agama Sibolga M. Azhar Hasibuan telah tiba di Posko SAR (Markas Kopi) bersama keluarga,” kata Putu.
Korban Tewas di Humbahas
Tiga kecamatan di Kabupaten Humbang Hasundutan (Humbahas), Sumatera Utara, turut terkena banjir bandang dan longsor, setelah hujan deras mengguyur wilayah itu sejak Selasa (25/11/2025). Ketiga kecamatan itu ialah, Kecamatan Pakkat, Parlilitan, dan Tarabintang. Di Kecamatan Pakkat, ada dua desa yang kondisinya memprihatinkan, yaitu Desa Panggugunan dan Desa Pulo Godang.
Banjir bandang dengan membawa material bongkahan kayu-kayu itu menerjang pemukiman warga dengan deras dan cepat. Dalam hitungan menit, rumah-rumah terseret oleh lumpur dan material longsor, menyebabkan kepanikan dan teriakan minta tolong di tengah cuaca yang gelap dan buruk.
Laporan sementara dari tim evakuasi Polres Humbahas menunjukkan bahwa bencana ini menimbulkan korban jiwa dan luka-luka. Dari 14 warga yang terdampak, 6 orang berhasil diselamatkan dalam kondisi luka dan kelelahan, 4 orang meninggal dunia, dan 4 lainnya masih dinyatakan hilang. Hingga saat ini, Rabu (26/11) malam, keempat korban yang hilang diterjang banjir bandang tersebut belum ditemukan.
Adapun para korban yang berhasil ditemukan selamat antara lain:
– Sonta Simanullang (72 tahun), ditemukan dalam kondisi penuh lumpur;
– Pery Sihotang (45 tahun), yang ditemukan berlumour tak jauh dari reruntuhan rumahnya;
– Dua anak, Grace Cia Cilina (9 tahun) dan Joharia Sihotang (12 tahun), ditemukan dalam keadaan lemas dan syok namun sadar;
– Daniel Sihotang (25 tahun) dan Lapider Simanullang (70 tahun) dari Desa Pulo Godang.
Keenam korban selamat kini telah dievakuasi dan mendapatkan perawatan intensif di RSUD Doloksanggul. Sementara itu, empat korban meninggal ditemukan di lokasi bencana, yaitu:
1. Beres Sihotang (80 tahun),
2. Merni Simamora (45 tahun),
3. Tiurma Br. Simanullang (90 tahun),
4. Juniati Silaban (47 tahun).
Jenazah mereka telah diserahkan kepada keluarga untuk dimakamkan, meninggalkan duka mendalam. Empat warga lainnya masih hilang dan menjadi fokus pencarian tim SAR, yaitu:
1. Tiada Simanullang (70 tahun),
2. Ardo Sihotang (19 tahun),
3. Seorang anak perempuan berusia 9 tahun putri dari Nurcahaya Sihotang (Br. Simamora),
4. Roy Simanullang (19 tahun) dari Desa Pulo Godang.
Pencarian terpaksa dihentikan sementara pada malam hari, Rabu (26/11), karena kondisi cuaca yang memburuk dan risiko longsor susulan. Sementara, korban jiwa di Kecamatan Tarabintang dan Kecamatan Parlilitan hingga saat ini belum ada. Namun, sejumlah rumah ikut terdampak rusak. Begitu juga infrastruktur jalan turut terdampak. Listrik dan jaringan Internet masih padam. Longsor dan pohon tumbang juga ada di beberapa titik di Kecamatan Pakkat dan Kecamatan Onan Ganjang. Akibatnya, jalur lalu lintas Pakkat–Barus dan Pakkat–Doloksanggul tertutup dan tidak dapat dilalui.











