JAKARTA — Institute for Development of Economics and Finance atau Indef menyatakan keraguan terhadap paket stimulus akhir tahun yang dikeluarkan pemerintah. Menurut mereka, stimulus tersebut tidak memiliki daya dorong yang cukup kuat untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi kuartal IV/2025 hingga menembus angka 5,6%.
Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef M. Rizal Taufikurahman mengungkapkan bahwa target pertumbuhan tersebut dianggap terlalu optimistis jika hanya bergantung pada instrumen seperti bantuan sosial (bansos) senilai Rp30 triliun dan insentif perumahan.
Menurutnya, skala stimulus tersebut relatif kecil jika dibandingkan dengan ukuran Produk Domestik Bruto (PDB) nasional dan memiliki efek pengganda (multiplier effect) yang rendah. “Stimulus ini efeknya lebih mirip penahan pelemahan konsumsi daripada pendorong ekspansi permintaan baru,” ujarnya.
Secara historis, kuartal IV bukanlah periode lonjakan siklus bisnis melainkan fase stabil di kisaran 4,8% hingga 5,1%. Berbeda dengan kuartal II yang memiliki momentum Lebaran dan Tunjangan Hari Raya (THR) sebagai pendorong konsumsi yang masif, kuartal akhir tahun biasanya hanya ditopang oleh libur Nataru dan penumpukan belanja pemerintah.
Oleh karena itu, Pengajar di Universitas Trilogi Jakarta ini menekankan bahwa pencapaian angka 5,6% membutuhkan lonjakan aktivitas ekonomi yang secara empiris belum pernah terjadi di periode penutup tahun. “Q4 lebih berfungsi sebagai periode penopang, bukan akselerator pertumbuhan. Lonjakan besar di kuartal ini jarang terjadi meskipun pemerintah memberikan stimulus,” jelasnya.
Lebih lanjut, Rizal menyoroti efektivitas bauran kebijakan yang ditawarkan pemerintah. Dia menilai penumpukan realisasi anggaran di Desember sering kali tidak menghasilkan dampak riil pada kuartal berjalan. Di sisi lain, diskon tiket transportasi dan event belanja dinilai hanya memindahkan waktu konsumsi, bukan menambah total konsumsi secara agregat terutama di tengah kondisi daya beli masyarakat yang sedang lesu.
Insentif properti dan Kredit Usaha Rakyat (KUR) perumahan pun dinilai memiliki jeda waktu (lag) yang panjang sehingga kontribusinya terhadap PDB kuartal IV/2025 sangat minim.
Untuk dapat memacu pertumbuhan secara nyata, Rizal menyarankan pemerintah beralih ke stimulus dengan multiplier tinggi dan dampak cepat. “Pemerintah membutuhkan belanja infrastruktur padat karya yang siap dieksekusi untuk menyerap tenaga kerja, serta potongan PPN sementara atau insentif khusus bagi kelas menengah untuk memperluas permintaan agregat,” tuturnya.
Dia juga menambahkan pentingnya pembiayaan murah bagi UMKM ritel dan sektor dengan perputaran cepat untuk memberikan efek langsung pada sisi produksi dan penjualan. Tanpa desain stimulus yang lebih produktif dan terarah, paket kebijakan saat ini dinilai hanya akan berperan menjaga stabilitas daya beli, bukan menciptakan akselerasi pertumbuhan yang signifikan.
Stimulus Ekonomi Kuartal IV/2025
Sebelumnya, pemerintah optimistis pertumbuhan ekonomi pada kuartal IV/2025 dapat mencapai hingga 5,6%, didorong oleh derasnya stimulus fiskal, bantuan sosial hingga peningkatan belanja pemerintah menjelang akhir tahun.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan sejumlah stimulus yang digelontorkan pemerintah diproyeksikan dapat mengerek pertumbuhan ekonomi Indonesia. Airlangga memproyeksikan pertumbuhan ekonomi kuartal IV/2025 berada di kisaran 5,4%–5,6%, atau lebih tinggi dari capaian kuartal-kuartal sebelumnya.
“Kami optimistis rangenya antara 5,4%–5,6%,” tegas Airlangga dalam konferensi pers di Kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta pada Rabu (26/11/2025).
Dia menuturkan gelontoran stimulus tersebut dapat memberikan tambahan perputaran ekonomi yang signifikan. Dia mencontohkan, perputaran uang yang signifikan salah satunya berasal dari pemberian bantuan sosial (bansos) pada akhir tahun.
“Dari bansos saja kita drop lebih dari Rp30 triliun. Program diskon juga bisa memberikan tambahan perputaran sekitar Rp30 triliun,” ujar Airlangga.
Selain bansos, pemerintah juga memberikan diskon tarif transportasi. Diskon tersebut mencakup seluruh moda transportasi, mulai kereta api, angkutan laut, penyeberangan, angkutan udara, hingga kendaraan pribadi melalui pemberian potongan tarif jalan tol.
Lebih lanjut, pemerintah juga tengah menyiapkan kredit massal sektor perumahan untuk mendorong permintaan domestik. Airlangga menyebut target kredit usaha rakyat (KUR) perumahan pada Desember mencapai 50.000 plafon pembiayaan, sehingga dapat memicu perputaran ekonomi yang besar.
“Kalau target 50.000 itu dikalikan Rp5 miliar saja, jumlahnya besar,” katanya.
Airlangga menambahkan, belanja kementerian juga akan menjadi motor utama pertumbuhan kuartal IV/2025. Hampir seluruh kementerian dengan anggaran besar telah melaporkan rencana penyerapan anggaran di atas 90%, sehingga kontribusi belanja pemerintah terhadap PDB kuartal IV/2025 diperkirakan lebih kuat.
“Kontribusi dari belanja pemerintah, program-program perlindungan sosial, dan meningkatnya mobilitas masyarakat pada masa Nataru akan mendukung kinerja ekonomi,” ujarnya.
Reporter digital yang mencintai dunia jurnalisme sejak bangku sekolah. Ia aktif mengikuti perkembangan media baru dan belajar teknik storytelling modern. Hobinya antara lain menyunting foto, menonton film thriller, dan berjalan malam. Motto: "Setiap cerita punya sudut pandang yang menunggu ditemukan."











