My WordPress Blog
Budaya  

Bentuk Tak Teratur Perempuan Tertindas



Film Pangku (2025) memulai kisahnya dengan adegan yang menyentuh: seorang perempuan hamil bernama Sartika berjalan sendirian di jalur Pantura pada malam hari. Langkahnya pelan, napasnya berat, dan tatapan matanya terlihat menggambarkan pikiran yang penuh beban. Ia bukan berjalan karena keinginan, tetapi karena tekanan hidup yang membuatnya harus terus bergerak. Di momen itu, ia bukan hanya tokoh dalam film, tetapi representasi dari jutaan perempuan yang hidup dalam ruang antara: tidak miskin secara statistik, tetapi juga tidak pernah merasa aman untuk merasa hidup.

Fenomena kopi pangku yang menjadi latar cerita film ini bukan sekadar catatan sosial eksotis, melainkan hasil dari sistem ekonomi yang gagal memberikan akses layak bagi mereka yang paling membutuhkan. Sektor informal di Indonesia telah lama menjadi tempat perempuan yang tidak memiliki akses pendidikan tinggi, modal usaha, atau jaringan profesional. Dalam sebuah penelitian sosiologis tahun 2020, ditemukan bahwa tubuh perempuan di ruang seperti ini perlahan berubah menjadi alat transaksi, bukan identitas atau aspirasi.

Data Badan Pusat Statistik tahun 2023 menunjukkan bahwa sekitar 59 persen pekerja perempuan berada di sektor informal. Namun angka ini hanya menjadi abstrak sampai kita melihat wajah Sartika di balik angka tersebut. Ia bekerja, tetapi tidak tercatat dalam regulasi ketenagakerjaan. Ia berkontribusi dalam sirkulasi uang, tetapi tidak mendapatkan jaminan sosial. Ia ada di tengah aktivitas masyarakat, tetapi tidak pernah benar-benar diakui oleh negara.

Kontrasnya, sejarah Indonesia menyimpan nama-nama perempuan yang dielu-elukan. Salah satu yang sering disebut adalah Cut Nyak Dien. Kita merayakan keberaniannya, menempatkan namanya di buku pelajaran, jalan raya, hingga patung. Namun, perayaan itu lebih mirip penghormatan terhadap legenda daripada pewarisan strategi perjuangan. Cut Nyak Dien memimpin perang dengan jaringan, strategi, dan keberanian. Namun hari ini, perempuan seperti Sartika hanya diberi slogan motivasi, bukan akses pada jaringan yang sama; diberi teladan, bukan metode.

Program-program pemerintah juga menghadapi tantangan serupa. Meski Indonesia memiliki berbagai inisiatif untuk perempuan, seperti kredit mikro, pelatihan kewirausahaan, dan bantuan sosial, banyak evaluasi menunjukkan bahwa program ini sering berhenti di permukaan. Pelatihan diberikan, foto dokumentasi diambil, laporan disusun, lalu perempuan kembali sendirian menghadapi pasar yang tidak sabar, kompetisi yang brutal, dan birokrasi yang tidak ramah.

Model pemberdayaan ini mirip rumah yang sudah memiliki fondasi, tetapi tidak pernah diberi dinding. Model ini terlihat seperti struktur, tetapi tidak dapat dihuni. Perempuan diberi arahan, tetapi tidak diberi perlindungan; diberi pelatihan, tetapi tidak diberi jaminan pasar; diberi modal awal, tetapi dilepas tanpa pendampingan ketika masalah muncul. Banyak perempuan akhirnya kembali ke jalur yang sama, entah menjadi pekerja warung kopi pangku, pekerja rumahan tanpa perlindungan, atau pekerja migran yang masuk sektor risiko tinggi.



Negara-negara lain pernah melalui pola yang sama. Di Thailand, upaya penertiban moral atas industri yang melibatkan tubuh perempuan tidak pernah menghasilkan transformasi berarti selama tidak diikuti ekosistem pendukung. Filipina pernah mencoba pendekatan serupa melalui kombinasi regulasi moral dan legalisasi sebagian praktik. Namun, perubahan yang paling nyata muncul ketika akses pendidikan, kredit komunitas, perlindungan hukum, dan pendampingan usaha dilakukan sebagai sistem, bukan sebagai proyek.

Pada akhirnya, persoalan perempuan marjinal tidak pernah sederhana. Ia tidak berdiri pada satu faktor, tetapi pada simpul antara ekonomi, norma sosial, birokrasi akses, pasar tenaga kerja, dan struktur keluarga. Kita sering mengatakan perempuan harus maju, tetapi di saat yang sama kita membatasi langkah mereka. Kita meminta mereka mandiri, tetapi kita biarkan mereka mencari jalan di tanah yang retak tanpa kompas. Kita menginginkan mereka bangkit, tetapi yang kita berikan hanyalah poster motivasi, bukan struktur yang bisa dipanjat.

Jika perempuan seperti Sartika ingin keluar dari ruang liminal ini, yang dibutuhkan bukan instruksi, tetapi infrastruktur. Bukan sekadar hibah, tetapi sistem yang memberi kesempatan kedua dan ketiga. Sistem yang menyediakan ruang aman untuk jatuh tanpa menempelkan stigma permanen. Sistem yang bekerja tidak pada logika belas kasihan, tetapi pada prinsip keadilan.

Pemberdayaan sejati bukan tentang menyuruh seseorang berdiri. Pemberdayaan adalah menciptakan dunia di mana berdiri menjadi mungkin. Ketika film Pangku berakhir, wajah Sartika kembali menjadi titik fokus. Masih dengan diam itu, diam yang bukan pasrah, tetapi diam yang memendam pertanyaan: apakah saya memilih nasib ini, atau sistem yang memaksa saya demikian?

Jika suatu hari warung kopi pangku tidak lagi menjadi tempat perempuan bertahan hidup, itu berarti bukan mereka yang menghilang, tetapi sistem yang akhirnya berubah bentuk. Bentuk kehidupan perempuan marjinal hari ini memang terlihat seperti garis fraktal: tampak acak, retak, tidak teratur. Namun fraktal selalu memiliki pola tersembunyi. Pola yang muncul bukan dari nasib, tetapi dari struktur. Struktur itu, berbeda dengan nasib, selalu bisa diubah.

Zaiful Aryanto

Penulis yang dikenal dengan gaya bahasa lugas dan informatif. Ia aktif meliput berita cepat, tren daring, hingga liputan human interest. Hobi utamanya adalah bersepeda, menonton video edukatif, dan mencoba tempat kuliner baru. Motto: "Tulisan yang baik selalu lahir dari kejujuran."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *