Peristiwa Tragis yang Menimpa Irene Sokoy
Seorang perempuan bernama Irene Sokoy di Papua mengalami kejadian tragis yang menimbulkan duka mendalam bagi masyarakat dan dunia kesehatan Indonesia. Ia meninggal dunia bersama bayi dalam kandungannya akibat serangkaian penolakan dari berbagai rumah sakit.
Perempuan asal Kampung Hobong, Distrik Sentani, Kabupaten Jayapura itu dinyatakan meninggal pada Rabu pekan lalu (19/11). Kejadian ini terjadi setelah ia dan keluarganya harus melalui perjalanan panjang untuk mencari layanan medis yang sesuai dengan kondisi daruratnya.
Awal Kondisi yang Membahayakan
Kondisi Irene memburuk ketika ia mengalami kontraksi sedang hingga meminta kepada keluarga untuk segera dibawa ke rumah sakit. Dari tempat tinggalnya, mereka harus menyeberang menggunakan speedboat ke Rumah Sakit Yowari. Namun, dokter yang menangani pasien hamil sedang berada di luar Papua.
Irene kemudian dirujuk ke Rumah Sakit Dian Harapan, tetapi tidak mendapatkan pelayanan. Kontraksi semakin kencang dan ketubannya pecah. Meskipun begitu, pihak rumah sakit meminta Irene menunggu berjam-jam tanpa tindakan nyata.
Penolakan Berulang dari Rumah Sakit
Pihak keluarga terus bertanya mengenai tindakan yang akan dilakukan karena kondisi Irene semakin kritis. Jawaban yang diberikan adalah bahwa pihak rumah sakit harus berkonsultasi lebih dulu kepada dokter. Akhirnya, keluarga memutuskan untuk membawa Irene ke Rumah Sakit Dian Harapan.
Di sana, situasi justru memburuk. Pihak rumah sakit menyatakan bahwa mereka tidak bisa menerima pasien karena penuh. Bahkan, saat itu, Irene mulai mengeluarkan bercak darah dan mengalami gangguan pernapasan. Namun, tindakan segera tidak dilakukan.
Tidak Ada Ruang yang Tersedia
Setelah beberapa kali ditolak, keluarga akhirnya membawa Irene ke Rumah Sakit Abepura. Namun, lagi-lagi, mereka mendapat penolakan karena rumah sakit belum bisa menampung pasien. Suster dari Rumah Sakit Yowari dan keluarga sempat mendesak, tetapi tindakan tidak kunjung dilakukan.
“Info yang saya terima sementara bahwa pasien itu datang bawa rujukan untuk operasi karena gawat janin tapi oleh petugas Ponek atau IGD menjelaskan bila kamar operasi belum berfungsi dan masih dalam masa perbaikan,” ujar Wakil Direktur RSUD Abepura Petrus Benyamin Pepuho.
Masalah Finansial dan Kesulitan Akses
Akhirnya, keluarga membawa Irene ke Rumah Sakit Bhayangkara. Di sana, hanya ruang VIP yang tersedia karena ruang ekonomi sudah penuh. Pihak rumah sakit meminta DP sebesar Rp 4 juta dari total biaya Rp 8 juta. Keluarga memutuskan membawa Irene ke RSUD Dok ll.
Dalam perjalanan tersebut, Irene mengeluarkan darah dari mulut dan hidung. Hanya selang 3 menit setelah meninggalkan Rumah Sakit Bhayangkara, Irene meninggal dunia.
Duka dan Kekecewaan Keluarga
Melihat istrinya sudah tidak bernyawa, suaminya berteriak untuk kembali ke Rumah Sakit Bhayangkara. Sopir akhirnya memutar balik mobil menuju Rumah Sakit Bhayangkara. Pihak rumah sakit memastikan Irene sudah meninggal.
“Keluarga tidak menerima cara kerja dari Rumah Sakit Yowari yang mana dokternya tidak kunjung tiba ternyata di luar Jayapura, kekesalan terhadap Rumah Sakit Dian Harapan dan Rumah Sakit Abepura serta Rumah Sakit Bhayangkara yang sangat tidak menempatkan keselamatan pasien di atas segalanya,” sesal Freddy.
Kesimpulan
Peristiwa tragis yang menimpa Irene Sokoy menjadi peringatan penting bagi sistem kesehatan di daerah-daerah terpencil. Keterbatasan sumber daya, kurangnya koordinasi antar rumah sakit, dan masalah finansial dapat berdampak buruk pada keselamatan pasien. Diperlukan langkah-langkah strategis untuk memastikan bahwa semua pasien mendapatkan akses layanan kesehatan yang cepat dan tepat.
Penulis yang memulai karier dari blog pribadi sebelum akhirnya bergabung dengan media online. Ia menyukai dunia tulis-menulis sejak sekolah. Hobinya adalah traveling, membaca novel klasik, dan membuat jurnal harian. Setiap perjalanan dan interaksi manusia selalu menjadi bahan inspirasinya. Motto: "Setiap sudut kota punya cerita yang patut dibagikan."









