Pengalaman Menapaki Stasiun Kampung Bandan
JAKARTA – Langkah kaki terasa lebih berat begitu menapaki Stasiun Kampung Bandan, Jakarta Utara. Tangga-tangga menuju peron menjadi saksi perjalanan penumpang yang bergulat dengan rutinitas harian. Di tempat ini, waktu seolah berjalan lebih lambat, seperti tertinggal di masa lampau yang enggan bergeser.
Stasiun yang berada dalam wilayah Daerah Operasi I Jakarta ini memang kerap bersinggungan dengan banjir. Dalam catatan, pengoperasiannya pernah beberapa kali dihentikan sementara imbas banjir pada Januari 2005, Desember 2007, Januari 2008, dan Januari 2009. Meski menjadi penghubung penting antara jalur lintas utara dan pusat kota, wajah fisik Stasiun Kampung Bandan seperti tak banyak berubah. Tak ada lift, tak ada eskalator, hanya anak tangga yang menua bersama waktu.
Bagi sebagian penumpang, terutama lansia, perjuangan menuju peron bukan perkara sepele. Mereka harus menahan napas setiap kali menaiki puluhan anak tangga. Langkah terhenti sejenak, napas diatur kembali, sebelum akhirnya melanjutkan perjalanan. Untuk mencapai peron 4 dan 7 menuju Duri, Tanah Abang, Manggarai, Bekasi, Cikarang, dan Jakarta Kota, penumpang mesti menapaki sekitar 30 anak tangga. Sementara menuju peron 8—jalur ke arah Ancol dan Tanjung Priok, jumlahnya mencapai 40 anak tangga yang berdiri tegak tanpa bantuan alat bantu apa pun.
Seorang penumpang, Maria (56), menuturkan pengalamannya saat harus menaiki tangga dengan kondisi fisik yang tak lagi muda. “Kadang saya harus berhenti sebentar di tengah tangga. Napas ngos-ngosan, tapi mau bagaimana lagi, ini memang satu-satunya jalan untuk naik ke peron,” kata dia saat ditemui. Maria mengaku sudah terbiasa dengan kondisi ini, meski kadang membuatnya merasa lelah lebih cepat. Ia pun berharap pihak stasiun bisa memberikan alternatif bagi penumpang yang kesulitan.
Penumpang lainnya, Ahmad (32), menambahkan bahwa kondisi tangga juga membuat perjalanan lebih lambat saat jam sibuk. “Banyak orang saling berhenti di tangga karena enggak ada tempat buat lewat. Kadang bikin macet kecil,” kata Ahmad.
Lingkungan di Sekitar Stasiun Kampung Bandan
Lingkungan di sekitar Stasiun Kampung Bandan mencerminkan wajah lain dari kehidupan kota, padat sekaligus kumuh. Deretan rumah berdiri berdempetan di sisi rel, seolah menjadi bagian tak terpisahkan dari denyut aktivitas stasiun. Bagi penumpang yang keluar melalui pintu A, arah Jalan Mangga Dua, perjalanan belum benar-benar selesai. Mereka harus menapaki jalan setapak sepanjang kurang lebih 300 meter menuju jalan raya, melewati pemukiman tempat warga beraktivitas sehari-hari.
Di sepanjang jalur itu, terlihat ibu-ibu menjemur pakaian di tali jemuran yang melintang, anak-anak kecil berlarian, sementara di sudut lain, ada yang sedang mencuci piring atau menanak nasi di dapur terbuka di depan rumah mereka. Warung-warung kecil berdiri di sisi kiri kanan jalan, menawarkan gorengan, mi instan, hingga minuman dingin. Toilet umum dan pangkalan ojek melengkapi pemandangan yang padat namun hidup.
Salah seorang warga, Sari (47), mengungkapkan bahwa kehidupan warga di sekitar stasiun dan aktivitas penumpang saling bersinggungan, namun sudah menjadi pemandangan biasa. “Kadang anak-anak lari-larian sampai ke depan Stasiun itu, tapi penumpang sudah biasa melihatnya,” kata dia. Dirinya yang sudah tinggal sekitar 20 tahun di kawasan ini menceritakan sejarah kedekatannya dengan stasiun.
Rumahnya, yang berjarak beberapa puluh meter dari pintu masuk, seolah menjadi saksi bisu perjalanan waktu. “Kayaknya sudah 20 tahun lebih deh. Dari nikah sampai sekarang, anak-anak saya juga sudah besar. Dari dulu stasiun ini sudah ada, cuma ya gitu-gitu aja, nggak banyak berubah,” ujarnya. Sari mengaku meski rumahnya dekat dengan rel, kehidupan sehari-hari tidak terganggu. Bunyi kereta yang lewat justru menjadi bagian dari lingkungan yang kadang menimbulkan getaran kecil tapi tetap terasa familiar bagi keluarganya.
Penumpang Butuh Kenyamanan
Pengamat transportasi, Deddy Herlambang, mengatakan bahwa keberadaan lift atau eskalator memang akan membantu penumpang, terutama lansia dan difabel. “Memang baiknya dibangun eskalator atau lift, tapi eskalator atau lift tidak masuk dalam standar SPM PM No. 63/2019, jadi memang tidak wajib dibangun,” kata dia. Meski begitu, Deddy menilai bahwa stasiun yang ada seharusnya tetap mempertimbangkan kenyamanan pengguna.
“Regulasi saat ini masih fleksibel, karena untuk membangun stasiun baru memang harus sudah lengkap lift dan eskalator,” ujarnya. “Tapi untuk stasiun lama seperti Kampung Bandan, risiko bagi difabel termasuk lansia dan ibu hamil cukup tinggi karena mereka kesulitan menaiki tangga manual,” imbuhnya.
Lebih dari Sekadar Transit
Stasiun Kampung Bandan, dengan tangga-tangga, lorong, dan genangan air di beberapa titiknya, bukan sekadar tempat orang berpindah dari satu moda ke moda lain. Ia adalah potret kecil kehidupan Jakarta, sebuah ruang yang mempertemukan ritme kota yang cepat dengan detak manusia yang berjalan di dalamnya. Di sini, setiap langkah dan napas para penumpang seolah menjadi bagian dari narasi panjang tentang bertahan hidup di tengah padatnya ibu kota.
Rani (16), seorang pelajar SMA yang setiap hari menumpang kereta dari Kampung Bandan menuju sekolahnya di Manggarai, sudah akrab dengan rutinitas itu. “Awalnya capek, tapi sekarang sudah biasa. Kadang seru juga lihat orang-orang,” katanya. Baginya, stasiun ini bukan hanya tempat naik-turun kereta, melainkan juga ruang belajar tentang kesabaran, ketertiban, dan irama hidup kota yang tak pernah berhenti.
Sementara itu, bagi penumpang lain seperti Ferry (28), Stasiun Kampung Bandan justru punya daya tarik tersendiri. “Kalau dibandingkan stasiun modern, Kampung Bandan punya karakter. Apalagi kalau sore cerah itu bisa lihat sunset,” ujarnya. Di antara hiruk-pikuk yang sederhana itu, Kampung Bandan tetap hidup dengan caranya sendiri, tidak megah, tidak sibuk memoles diri, tapi jujur apa adanya.











