Penghentian Produksi Koin Satu Sen di Amerika Serikat
Pada hari Rabu (12/11/2025), Amerika Serikat secara resmi menghentikan produksi koin satu sen atau penny. Upacara simbolis pencetakan terakhir dilakukan oleh Bendahara AS, Brandon Beach, di Percetakan Uang Logam AS atau U.S Mint di Philadelphia. Dalam upacara tersebut, Beach menekan tombol pencetak penny terakhir sambil menyampaikan pernyataannya.
“Tuhan memberkati Amerika dan kita akan menghemat uang pembayar pajak sebesar 56 juta dollar AS,” ujarnya. Penghentian produksi koin ini menandai akhir dari peredaran koin satu sen yang telah berlangsung selama lebih dari 230 tahun sejak pertama kali dicetak pada 1793. Meskipun demikian, miliaran penny yang sudah beredar masih tetap sah digunakan sebagai alat pembayaran, meskipun tidak akan ada koin baru yang dicetak lagi.
Alasan Penghentian Produksi Koin Penny
Menurut laporan AP News, Presiden AS Donald Trump memerintahkan penghentian produksi koin pada Februari lalu. Ia menganggap bahwa pencetakan penny merupakan pemborosan. Biaya produksi untuk setiap satu penny hampir 4 sen per koin, yang lebih tinggi dibanding nilai koin tersebut yang hanya 1 sen.
“Kita sudah terlalu lama mencetak uang sen yang harganya benar-benar lebih dari 2 sen. Ini sungguh pemborosan!” ujarnya. Selain itu, pemerintah juga ingin menghemat anggaran pembayaran pajak sebesar 56 juta dollar AS per tahun (sekitar Rp 937 miliar). Pemerintah juga menganggap bahwa nilai 1 sen tidak lagi relevan dalam ekonomi modern.
Upacara simbolis pencetakan terakhir tersebut diwarnai oleh sorakan dan tepuk tangan para pekerja. Setelah proses pencetakan terakhir selesai, Beach meletakkan koin-koin terakhir di atas nampan dengan hati-hati. Ia juga berencana untuk melelang beberapa sen terakhir yang diproduksi.
Sebelumnya, koin setengah sen (half cent) juga telah dihentikan produksinya pada 1857.
Respons Warga dan Pelaku Usaha
Banyak warga mengaku masih bernostalgia dengan koin-koin tersebut. Mereka bahkan menganggap koin sen sebagai sesuatu yang membawa keberuntungan serta menjadi barang koleksi. Sementara itu, para peritel mengeluh karena penghapusan dilakukan mendadak tanpa panduan pemerintah, sehingga menyebabkan kekurangan penny untuk kembalian.
Beberapa toko mulai membulatkan harga untuk mempermudah penjualan atau memberi hadiah, seperti minuman gratis sebagai pengganti kumpulan penny. Jeff Lenard dari Asosiasi Nasional Toko Serba Ada (NACS) menilai, prosesnya terlalu tiba-tiba dan tidak terencana dengan baik.
“Kami telah mengadvokasi penghapusan penny selama 30 tahun. Tapi bukan seperti ini caranya,” ujar Lenard. Sementara itu, para pendukung mengatakan, penghapusan koin merupakan suatu bentuk penghematan biaya, serta memangkas waktu pembayaran di kasir.
Biaya Produksi Koin Lain
Sejumlah bank di AS mulai membatasi distribusi koin penny kepada nasabah dan pelaku usaha. Selama satu abad terakhir, sekitar setengah dari seluruh koin yang dicetak di percetakan uang logam di Philadelphia dan Denver merupakan koin penny. Jika dibandingkan dengan biaya produksi koin lain, Nickel atau koin yang setara dengan 5 sen memiliki biaya produksi hampir 14 sen per koin. Dime atau setara dengan 10 sen memiliki biaya kurang dari 6 sen per koin dan Quarter yang setara dengan 25 sen memiliki biaya hampir 15 sen per koin.
Negara lain juga diketahui telah menghapus koin 1 sen, seperti Kanada yang lebih dulu menghentikan pencetakan penny pada 2012. Berapa pun nilai nominalnya, para kolektor dan sejarawan menganggapnya sebagai catatan sejarah penting.
Frank Holt, seorang profesor emeritus di Houston University yang telah mempelajari sejarah koin, menyesalkan penghentian produksi koin tersebut. “Kita memberi mereka motto dan identitas diri, dan kita memutuskan orang mati mana yang paling penting bagi kita dan harus diperingati. Mereka mencerminkan politik kita, agama kita, seni kita, rasa diri kita, cita-cita kita, aspirasi kita,” kata Frank.
Seorang penulis berita yang sering meliput isu pemerintahan dan administrasi publik. Ia memiliki kebiasaan membaca analisis kebijakan, menonton diskusi publik, dan membuat catatan ringkas. Waktu luangnya ia gunakan untuk berjalan santai. Motto: “Ketegasan dalam informasi adalah bentuk pelayanan publik.”











