
Orbit Bumi kini semakin penuh dengan sampah antariksa yang dihasilkan oleh aktivitas manusia. Laporan terbaru dari Badan Antariksa Eropa (ESA) menunjukkan bahwa ruang angkasa di sekitar planet kita telah menjadi tempat pembuangan besar-besaran bagi berbagai objek buatan manusia. Dalam laporan tersebut, disebutkan bahwa total massa objek buatan manusia yang mengorbit Bumi mencapai lebih dari 13.500 metrik ton. Angka ini jauh melampaui berat struktur besi Menara Eiffel di Paris, Prancis, yang hanya seberat sekitar 7.300 ton.
Sampah kosmik ini bergerak dengan kecepatan puluhan ribu kilometer per jam, sehingga membawa ancaman nyata bagi satelit aktif, astronot, dan masa depan eksplorasi luar angkasa. Salah satu contoh insiden yang terjadi adalah pada pesawat luar angkasa Shenzhou-20 milik China. Kepulangan tiga astronaut mereka harus ditunda setelah pesawat diduga bertabrakan dengan serpihan kecil sampah antariksa. Pernyataan resmi dari CMSA (Badan Antariksa China) menyebutkan bahwa analisis dampak dan penilaian risiko sedang dilakukan.
Apa Itu Sampah Luar Angkasa?
Menurut definisi ESA, sampah luar angkasa (space debris) adalah semua objek buatan manusia yang tidak lagi fungsional, termasuk fragmen atau elemen-elemennya, yang berada di orbit Bumi atau memasuki atmosfer. Sampah ini mencakup satelit mati, sisa roket, serpihan akibat ledakan atau tabrakan, serta benda-benda kecil seperti penutup lensa, baut, atau alat-alat yang terlepas dari astronaut.

Meskipun jumlah objek yang terlacak secara resmi mencapai sekitar 39.246 hingga akhir 2024, model ESA memperkirakan jumlah sebenarnya jauh lebih besar. Berdasarkan data, diperkirakan ada:
- 1,2 juta objek berukuran antara 1 cm hingga 10 cm
- 130 juta objek berukuran antara 1 mm hingga 1 cm
- 54.000 objek yang berukuran lebih besar dari 10 cm
Meskipun ukurannya kecil, benda-benda ini melesat dengan kecepatan hipersonik. Karena tidak ada hambatan udara, benda-benda ini tidak melambat. Tabrakan dengan serpihan berukuran 1 cm saja dapat menghasilkan energi setara ledakan granat, cukup untuk menghancurkan sebuah satelit aktif.
Situasi Semakin Memburuk
Laporan ESA juga menyoroti bahwa situasi ini terus memburuk. Pada 2024, meskipun pertumbuhan jumlah satelit baru melambat, jumlah peluncuran tetap meningkat, sehingga menambah rekor massa dan ukuran objek yang dikirim ke Orbit Rendah Bumi (LEO). Selain itu, peristiwa fragmentasi masih menjadi masalah serius. Laporan tersebut mencatat beberapa peristiwa fragmentasi signifikan yang terjadi sepanjang 2024, menghasilkan lebih dari 3.000 serpihan baru yang dapat dilacak. Dalam dua dekade terakhir, rata-rata terjadi 10,5 insiden fragmentasi non-deliberat setiap tahunnya.

Para ahli di ESA memperingatkan bahwa tingkat kepatuhan terhadap pedoman mitigasi sampah antariksa saat ini belum cukup untuk menjamin lingkungan luar angkasa yang aman dan berkelanjutan. Bahkan jika semua peluncuran dihentikan hari ini, jumlah sampah di LEO kemungkinan akan terus bertambah akibat tabrakan berantai antar objek yang sudah ada, sebuah skenario yang dikenal sebagai ‘Sindrom Kessler’. Dalam skenario terburuk, orbit Bumi bisa menjadi terlalu berbahaya untuk digunakan oleh generasi mendatang.
Berdasarkan tren saat ini, laporan tersebut memprediksi tingkat risiko tabrakan dan fragmentasi di masa depan bisa menjadi empat kali lebih tinggi dari ambang batas yang dianggap aman untuk keberlanjutan jangka panjang. Untuk mengatasi ini, standar yang lebih ketat mulai diusulkan, termasuk kebijakan baru ESA yang mewajibkan satelit untuk keluar dari orbit dalam waktu 5 tahun setelah misi berakhir, jauh lebih singkat dari pedoman sebelumnya yaitu 25 tahun.











