Pemberdayaan Perempuan dalam Konteks SDGs
Sebagai salah satu agenda penting dalam Sustainable Development Goals (SDGs), pemberdayaan perempuan menjadi fokus utama yang harus diperhatikan oleh semua pihak. Dalam tujuan kelima dari SDGs, yaitu “Kesetaraan Gender”, upaya untuk mencapai kesetaraan antara laki-laki dan perempuan menjadi prioritas. Tujuannya adalah mengurangi ketimpangan sosial yang disebabkan oleh perbedaan gender.
Rahayu Saraswati, Ketua Umum Jaringan Nasional Anti Perdagangan Orang sekaligus Anggota DPR, menyampaikan beberapa hambatan yang sering dihadapi dalam pemberdayaan perempuan. Hal tersebut meliputi sistem patriarki, budaya, dan ekonomi. Pernyataan ini disampaikannya saat menjadi narasumber dalam acara “Women in SDGs Action Award 2025” yang digelar oleh Bisnis Indonesia pada Selasa (10/11/2025).
Berikut beberapa cara yang dapat dilakukan untuk menjadi perempuan berdaya, mulai dari diri sendiri:
1. Belajar Setinggi Langit
Pendidikan tinggi tidak hanya sekadar memperoleh ijazah, tetapi juga menjadi gerbang menuju profesionalisme dan pengembangan diri. Menurut Insead, pendidikan tinggi dapat membantu mengasah kemampuan kepemimpinan dan bakat bisnis, serta mendukung peningkatan karier.
Selain itu, pelajaran yang dipelajari di perguruan tinggi membuka wawasan yang lebih luas dan beragam, sehingga memperkaya pemahaman terhadap dunia. Pendidikan tinggi juga memberikan peluang untuk memperluas jaringan sosial yang sangat berguna dalam perkembangan profesional dan bisnis.
Jika seseorang mengalami kendala dalam mencapai pendidikan tinggi, pemberdayaan diri bisa dilakukan melalui pendidikan alternatif seperti kursus online, pelatihan keterampilan, atau bergabung dengan komunitas wanita untuk mendapatkan dukungan.
2. “Bergabung” dengan Pria
Perempuan sebaiknya menjadikan pria sebagai rekan kerja, bukan sebagai saingan. Di masa kini, banyak pria yang turut bergerak dalam upaya kesetaraan gender dan pemberdayaan wanita. Contohnya adalah kampanye HeforShe dari UN Women, serta program Manbassador yang dibuat oleh INSEAD untuk meningkatkan kesetaraan gender.
Menurut AmazingWorkPlace, tempat kerja yang mendukung kesetaraan gender akan menghasilkan keputusan bisnis dan kinerja yang lebih baik. Rahayu Saraswati menegaskan bahwa kesetaraan gender bukanlah masalah wanita saja, melainkan masalah sosial yang harus diselesaikan bersama-sama.
3. Terapkan Gaya Leadership Sendiri
Sifat-sifat seperti kepekaan dan kemampuan untuk mengambil pendekatan holistik biasanya dianggap sebagai sifat feminim. Namun, sifat-sifat ini juga terbukti menjadi ciri-ciri seorang pemimpin yang baik.
Xiaowei Rose Luo, Profesor Wirausaha di INSEAD, mengatakan bahwa seseorang perlu menyesuaikan pola pikir, menghilangkan keyakinan yang membatasi, dan tetap terbuka terhadap gagasan bahwa pengalaman yang dimiliki telah mempersiapkan seseorang untuk menjadi pemimpin.
Alissa Wahid, Direktur Jaringan GUSDURian Indonesia, menambahkan bahwa leadership feminim memiliki sifat nurturing, yaitu pemimpin yang mampu mengasuh dan memelihara anggotanya agar lebih mementingkan kemaslahatan bersama secara holistik.
4. Pertahankan Nilai-Nilai Pribadi
Percaya diri dan yakin terhadap nilai-nilai pribadi yang diterapkan membuat seseorang menjadi luar biasa. Jangan mengubah nilai-nilai tersebut meskipun merasa tertekan untuk berubah. Jika nilai-nilai tersebut diubah, maka integritas akan hilang dan kontribusi pada keunikan diri akan gagal.
Penulis yang aktif meliput dunia hiburan dan tren media sosial. Ia menghabiskan waktu senggang dengan mendengarkan musik pop, mengedit video ringan, dan menjelajahi akun kreator. Ia percaya bahwa hiburan adalah bagian dari dinamika masyarakat. Motto: “Kreativitas adalah energi kehidupan.”











