Beberapa waktu yang lalu saya menulis mengapa tidak ada ilmuwan yang melakukan penelitian terhadap masyarakat setan. Alasannya sederhana, dunia setan adalah masa depan manusia. Kelak, dengan waktu yang berbeda-beda, manusia akan mati. Tapi, kenapa masyarakat kita tidak tergerak untuk melakukan penelitian ke dunia masa depan itu.
Banyak orang yang tidak percaya dengan setan atau arwah gentayangan. Tidak sedikit pula yang percaya tapi takut untuk mendekatinya. Saya termasuk kelompok yang kedua: takut bertemu dengan makhluk-makhluk dari “dunia lain”…hahaha…
Saya tidak ingin menantang agama dengan keyakinannya tentang surga dan neraka. Agama memiliki path-nya sendiri dan biarlah ia berjalan pada path-nya. Ada banyak orang yang percaya sepenuhnya pada masa depan manusia berpegang pada pengetahuan yang diwariskan sejumlah agama. Tidak ada yang salah dengan itu.
Sejak abad pertengahan, ketika ilmu pengetahuan modern lahir membawa basis metodologi empiris untuk mengeksplorasi dunia kita dan membawa semangat renaisans serta aufklarung, ilmu pengetahuan dan agama telah bersimpang jalan karena keduanya memiliki pendekatan yang berbeda.
Yang menarik, spektrum lain dari agama yang disebut spiritualitas ternyata bertemu di titik yang sama dengan ilmu pengetahuan modern dalam fisika kuantum. Nantilah kita bahas topik ini. Jadi, adalah tidak relevan mengomentari atau mempertentangkan eksplorasi ilmu pengetahuan modern dalam topik “dunia lain” ini dengan perspektif keyakinan agama.
Saya tergerak untuk berimajinasi dalam perspektif ilmu pengetahuan. Wahana ruang angkasa manusia yang bernama Voyager 1, yang diluncurkan sejak tahun 1977, telah memasuki ruang antar bintang yang jaraknya sekitar 25 miliar kilometer dari bumi. Sejumlah ilmuwan dari Amerika Serikat, Rusia, Tiongkok, juga telah mendaratkan robot-robot mereka ke planet Mars yang jaraknya lebih dari 200 juta kilometer dari bumi untuk mengeksplorasi planet merah tersebut. Di tempat lain di atas sana, Parker Solar Probe milik NASA telah mendekati matahari yang jaraknya sekitar 150 juta kilometer untuk mempelajari bintang yang jadi sumber energi di bumi.
Tapi, kenapa tidak ada yang menyelidiki wilayah setelah kematian yang merupakan jalan terang masa depan manusia yang konon lebih dekat dari urat nadi manusia? Masa depan manusia jelas bukan soal membangun kehidupan di luar bumi, tapi soal apa yang terjadi setelah manusia menyelesaikan hidupnya di bumi.
Ternyata, bukan saya seorang yang memiliki pertanyaan-pertanyaan imajinatif ini. Ilmu pengetahuan pun rupanya memiliki pertanyaan yang sama. Ada sejumlah ilmuwan yang melakukan penelitian untuk mengeksplorasi misteri “dunia lain” di luar dunia kita. Tentu saja ada ilmuwan yang sinis dengan upaya eksplorasi ini karena menganggap “dunia lain” yang tak kasat mata itu adalah delusional. Tapi, tak sedikit yang mendedikasikan hidupnya untuk meneliti topik ini.
Apakah “dunia lain” itu ada?
Sebelum mengeksplorasi lebih jauh, kita perlu menjawab satu pertanyaan paling mendasar: benarkah ada kehidupan dunia lain setelah kehidupan saat ini?
Eksplorasi “dunia lain” ini seru dan tentu saja menakutkan. Saya membayangkan, mereka yang melakukan eksplorasi ini mungkin penuh adrenalin seperti Columbus yang berpetualang membelah samudera untuk menemukan dunia lain selain daratan Eropa. And, he did it. Dia menemukan daratan Amerika dan seterusnya.
Atau, kalau Anda pernah menonton serial “Viking” di Netflix, petualangan ini kan mirip-mirip dengan kisah Ragnar Lothbrok yang mengawali petualangan masyarakat Nordik di Kattegat, sebuah fjord atau teluk sempit yang diduga berada di sebuah desa di Norwegia bagian selatan.
Sebelum Ragnar pergi berlayar, masyarakat di daerah itu tidak pernah tahu apakah ada kehidupan lain selain di daratan mereka. Ragnar dengan berani mengawali mengarungi samudera ke arah Barat dan mendarat di pantai Inggris. Kita tahu bahwa daratan Eropa dan wilayah United Kingdom adalah dua pulau yang dipisahkan oleh lautan.
Kalau Columbus dan Ragnar berpetualang di dunia fisik, bedanya kini, petualangan dilakukan untuk menyibak dunia non-fisik atau tidak terlihat. Masalahnya, tidak ada manusia yang rela melakukan petualangan ini sendiri. Meski banyak orang percaya akan surga, tapi saya yakin tidak ada yang mau pergi duluan.
Tapi, apakah dunia non-fisik yang tidak terlihat itu sungguh ada?
Fisika teoritis
Ada catatan menarik dalam ilmu fisika. Menurut fisika teoritis, ada dimensi lain yang tidak terlihat atau setidaknya belum bisa dilihat di luar dunia kita yang terlihat.
Pandangan ini bermula dari upaya para fisikawan untuk menemukan satu teori tunggal (Theory of Everything) yang menjelaskan soal asal-usul alam semesta. Sebagai sebuah teori fisika, itu artinya, para ilmuwan mencari formulasi rumus dalam hitungan matematis. Sejauh yang diketahui oleh para ilmuwan, alam semesta kita digerakkan oleh empat gaya, yaitu gravitasi, elektromagnetik, nuklir kuat, dan nuklir lemah. Masing-masing gaya itu ada rumus matematikanya.
Nah, para fisikawan kemudian berambisi untuk menyatukan rumus-rumus itu dalam sebuah rumus tunggal yang dimimpikan sebagai Theory of Everything. Ini perjalanan panjang ilmu pengetahuan sejak tahun 1960an sampai akhirnya tercetus ide untuk menyatukan empat gaya itu dalam satu teori tunggal. Awalnya, sejumlah ilmuwan mengusulkan sebuah teori yang disebut teori dawai atau string theory. Sejumlah nama yang biasanya disebut dengan hormat menggeluti teori dawai adalah Gabrielele Veneziano, Yoichiro Nambu, Holger Bech Nielsen, Leonard Susskind, John Schwarz, dan Joel Scherk.
Teori dawai mengusulkan sebuah cara pandang baru tentang realitas kita. Kita semua tentu tahu bahwa realitas kita dibentuk oleh kumpulan partikel terkecil yang disebut elektron, foton, dan kuark. Mereka digambarkan sebagai sebuah titik yang berkumpul dan membentuk berbagai benda fisik yang kita kenal. Itu seperti sebuah titik-titik pixel dalam foto yang membentuk sebuah gambar.
Nah, teori dawai mengusulkan, partikel fundamental terkecil itu bukan titik tanpa dimensi, melainkan dawai-dawai energi satu dimensi yang sangat kecil dan mereka bergetar. Setiap pola dan frekuensi getaran yang berbeda dari dawai-dawai itulah yang membentuk realitas kita. Batu, pohon, manusia, hewan, angin, hujan, bulan, bintang, yang berbeda bentuknya itu adalah hasil dari pola dan frekuensi getaran yang berbeda. Bayangkanlah frekuensi radio di Jakarta. Ketika memutar tombol frekuensi FM kita akan menemukan Radio Sonora di 92 FM, Gen di 98,7 FM, atau Elshinta di 90 FM, dan seterusnya.
Penyatuan empat gaya di atas tadi (gravitasi, elektromagnetik, nuklir kuat, dan nuklir lemah) dalam satu rumus perhitungan matematis dimungkinkan jika partikel terkecil (foton, proton, dan kuark) alam semesta ini dipahami sebagai dawai yang bergetar.
Namun, dalam perjalanan, teori dawai ini melahirkan lima versi rumus yang berbeda. Dalam semua teori dawai, perhitungan matematis akan konsisten jika alam semesta kita terdiri dari 10 dimensi, 9 dimensi ruang dan 1 dimensi waktu.
Pada tahun 1995 ada seorang fisikawan bernama Edward Witten yang menyatukan lima versi teori dawai di atas dalam sebuah teori yang dia sebut teori-M. Perhitungan matematis Witten menyaratkan, dibutuhkan 11 dimensi alam semesta supaya rumusan angka-angka matematisnya nyambung. Ada 10 dimensi ruang dan 1 dimensi waktu.
Yang kita bisa lihat dan buktikan saat ini hanya 4 dimensi: 3 dimensi ruang (panjang, lebar, tinggi) dan waktu. Berarti, ada 7 dimensi lain yang harus dicari dalam eksperimen fisika untuk membuktikan kebenaran perhitungan matematis teori-M yang saat ini digadang-gadang sebagai kandidat kuat Theory of Everthing.
Apakah “dunia lain” adalah bagian dari 7 dimensi itu? Apakah “dunia lain” itu juga merupakan salah satu bentuk dari pola getaran dan frekuensi yang unik? Pertanyaan ini tentu sangat imajinatif. Karena fisika pada dirinya tidak pernah bicara soal dunia roh. Fisika mencari pola materi dan energi yang berinteraksi dalam ruang dan waktu.
Nah, menariknya, Einstein memfindung rumus hukum kekekalan energi: E=MC2 . Menurut Einstein, energi tidak bisa musnah. Kekal, hanya berubah bentuk. Maka, energi manusia pun tidak hilang ketika tubuhnya mati. Tapi, ke mana perginya energi manusia itu? Jangan-jangan, berada di salah satu dari 7 dimensi yang belum terungkap itu.
Itu artinya, bicara tentang dunia yang tidak terlihat bukanlah suatu omong kosong dalam perspektif fisika.
Ilmu kedokteran
Banyak dokter-dokter di seluruh dunia yang bertemu dengan fenomena orang yang sudah dinyatakan meninggal secara klinis, kemudian hidup lagi. Orang-orang ini lalu bercerita tentang pengalaman mereka berada di jurang kematian. Pengalaman ini dikenal dengan istilah Near Death Experience (NDE).
Istilah NDE dicetuskan oleh seorang dokter medis bernama Dr Rayamond Moody. Moody memiliki latar belakang intelektual yang unik. Ia memegang gelar Ph.D. dalam filsafat sebelum akhirnya mengejar gelar kedokteran (M.D.). Perpaduan antara pemikiran filosofis mengenai jiwa dan keabadian, terutama konsep-konsep Plato, dengan pelatihan medis yang berakar pada fakta dan observasi, memberinya lensa yang sempurna untuk mengamati realitas di ambang kematian.
Plato adalah seorang filsuf Yunani yang hidup antara tahun 428-348 SM. Salah satu ajaran yang terkenal adalah mengenai keabadian jiwa. Menurut Plato, jiwa adalah abadi, ada sebelum tubuh. Jiwa berasal dari sebuah tempat ideal yang kemudian lahir ke bumi dan terpenjara sementara di dalam tubuh.
Sejumlah tradisi agama pun memiliki ajaran tentang keabadian jiwa. Yang paling tua tentu saja ajaran Hindu. Kemunculan ajaran Hindu tidak diketahui secara pasti. Ia berkembang bukan karena pewartaan seorang tokoh tunggal seperti Budha, Kristen, atau Islam. Ajaran Hindu diyakini berkembang dalam sebuah periode waktu yang amat panjang antara tahun 2300-1500 SM, jauh sebelum era Plato.
Kristen dan Islam yang notabene memiliki akar sejarah yang sama pada sosok Abraham atau Ibrahim pun mengajarkan soal konsep keabadian jiwa. Ini merupakan doktrin fundamental kedua agama meskipun penjelasan teologisnya berbeda. Yesus yang membawa ajaran Kristen hidup sekitar 300-400 tahun setelah wafatnya Plato. Sementara, Nabi Muhammad hidup jauh setelahnya, sekitar 900-1000 tahun setelah Plato.
Moody yang khatam soal filsafat karena bergelar Phd kemudian tertarik menyelidiki soal NDE saat ia menjadi dokter. Kisah penelitiannya tidak dilakukan di sebuah laboratorium kedokteran yang canggih, tapi merupakan sebuah penelitian kualitatif. Ia mengumpulkan cerita-cerita orang yang mengalami NDE.
Ia mengumpulkan kisah-kisah ini didorong oleh rasa ingin tahu seorang filsuf yang beralih profesi menjadi seorang dokter. Ia mendirikan tonggak penting dalam topik ini karena ia adalah orang pertama yang mengubah fenomena misterius kematian yang semula enggan dibicarakan karena tidak dianggap tidak empiris menjadi subjek penelitian ilmiah yang sah. Setelah Moody ada sejumlah ilmuwan lain di lintas ilmu yang melanjutkan penelitiannya soal NDE.
Penelitian Moody dipicu oleh cerita seorang rekannya, profesor Psikiatri di University of Virginia, pada tahun 1965. Profesor itu menceritakan kisah seorang pasien yang sempat dinyatakan meninggal secara klinis dan kemudian berhasil dihidupkan kembali. Pasien itu menggambarkan, dalam situasi ia dinyatakan meninggal secara klinis, ia keluar dari tubuhnya, melayang di atas meja operasi, dan mengamati upaya resusitasi yang dilakukan oleh tim medis. Kesadaran pasien terasa jernih dan terpisah dari tubuhnya yang diam.
Cerita ini mengingatkan Moody akan cerita-cerita yang sama dengan kisah-kisah tradisional tentang perjalanan jiwa yang ia pelajari dari literatur kuno dan filsafat. Secara informal dan mungkin juga sekadar iseng, ia kemudian mengumpulkan cerita-cerita ini. Ada cerita dari perawat, dokter, juga pasien-pasien yang mengalami pengalaman itu. Pada tahun itu, 1960-an, umumnya tidak ada yang berani ngomong soal pengalaman NDE karena bisa-bisa dianggap gila karena gak ilmiah.
Moody secara sistematis mengumpulkan kisah-kisah ini melalui wawancara mendalam. Ia tidak fokus pada diagnosis medis, melainkan pada pengalaman subjektif pasien. Ia mengumpulkan cerita dari sekitar 150 orang yang selamat dari kematian klinis atau berada dalam kondisi sangat kritis.
Melalui ratusan jam wawancara kualitatif, Moody menyadari adanya pola yang sangat konsisten dalam cerita-cerita tersebut. Elemen-elemen seperti perasaan damai, perjalanan melalui terowongan gelap, bertemu dengan “Makhluk Cahaya” yang penuh kasih sayang, dan tinjauan hidup (Life Review) berulang kali muncul, terlepas dari latar belakang agama, budaya, atau pendidikan orang yang mengalami NDE.
Pada tahun 1975, Dr. Raymond Moody mempublikasikan temuannya dalam buku yang sangat terkenal, “Life After Life”. Dalam buku ini, ia menyatukan semua elemen pengalaman ini ke dalam satu istilah tunggal yang kini mendunia: Near-Death Experience (NDE).
Publikasi ini tidak hanya menjadi bestseller fenomenal, tetapi juga menjadi titik nol bagi penelitian NDE. Kisah awal Dr. Moody, yang dimulai dari rasa penasaran filosofis dan satu kisah pasien, telah berhasil membawa misteri kematian dari ranah dogma dan fiksi ke dalam ruang diskusi ilmiah modern.
Penelitian ini juga menegaskan bahwa manusia memasuki sebuah wilayah dan mengalami pengalaman yang sama, apa pun latar belakang sosial agama, dan pendidikan mereka. Dunia lain di luar kehidupan saat ini ada.
Psikologi
Di ranah ilmu psikologi ada Dr Kenneth Ring yang melanjutkan penelitian Dr Raymond Moody tentang NDE. Kenneth Ring termasuk seorang peneliti terkemuka soal NDE. Ia adalah profesor emeritus psikologi di University of Connecticut dan merupakan salah satu tokoh kunci yang membawa studi NDE ke dalam ranah penelitian akademis setelah karya awal Dr. Raymond Moody.
Ring melakukan penelitian ekstensif yang melibatkan lebih dari 100 penyintas NDE, yang menghasilkan bukunya yang berpengaruh, “Life at Death: A Scientific Investigation of the Near-Death Experience” (1980).
Menariknya, meskipun subjek penelitiannya adalah orang-orang yang berbeda dengan subjek penelitian Dr Raymond Moody, tapi pengalaman mereka sama. Ring mengidentifikasi serangkaian pengalaman umum atau “fase” yang sering dialami oleh penyintas NDE, yaitu:
- Pengalaman kedamaian saat kematian.
- Perasaan berpisah dari tubuh (Out-of-Body Experience/OBE).
- Perasaan masuk ke dalam kegelapan (terowongan).
- Melihat cahaya.
- Perasaan dikelilingi oleh cinta dan kebahagiaan.
Salah satu penelitiannya yang paling penting dan unik adalah investigasi terhadap NDE yang dialami oleh individu buta (tunanetra), termasuk mereka yang buta sejak lahir. Hasilnya, yang dirangkum dalam buku ” Mindsight: Near-Death and Out-of-Body Experiences in the Blind” (1999), menunjukkan bahwa orang buta melaporkan dapat melihat selama NDE atau OBE mereka. Nah, lho. Kenapa orang harus menjadi buta, bahkan sejak lahir, kalau ternyata mereka bisa melihat di “alam sana”?
Penelitian Ring kembali menegaskan, wilayah setelah kematian adalah nyata. Penelitian yang dilakukan oleh Moody dan Ring adalah penelitian tentang mereka yang mendekati wilayah kematian tapi kemudian kembali ke kehidupan mereka.
Mungkinkah kita mengeksplorasi cerita dari mereka yang sudah melintas ke alam sana? Bagaimana kita berkomunikasi dengan mereka? Lain waktu saya lanjutkan ceritanya.











