My WordPress Blog

Jalan Hijrah: Perjuangan Membangun Perbankan Syariah di Negeri Terpencil

Tahun 2000: Titik Balik dalam Hidup

Tahun 2000 menjadi titik balik dalam hidup saya. Di usia 35 tahun, saya memutuskan untuk berhijrah, meninggalkan kenyamanan bekerja di bank konvensional dan memulai babak baru di dunia perbankan syariah. Keputusan ini bukan sekadar langkah karier, melainkan pilihan hidup. Sebuah langkah dakwah melalui profesi.

Pada masa itu, ekonomi syariah belum sepopuler sekarang. Bahkan di kalangan profesional perbankan sendiri, banyak yang belum memahami secara utuh konsep keuangan syariah. Saya kerap mendapat pertanyaan bernada skeptis, “Mengapa meninggalkan posisi mapan untuk sesuatu yang belum jelas arah dan pasarnya?” Tapi di hati kecil saya yakin, sistem keuangan yang berlandaskan prinsip keadilan dan keberkahan ini adalah masa depan.

Langkah Awal: Dakwah Melalui Profesi

Perjalanan saya dimulai dengan posisi sebagai Manager Operasional dan Manajemen Risiko di kantor cabang bank syariah. Meski harus menurunkan jabatan dari posisi sebelumnya di bank konvensional, saya menjalaninya dengan penuh semangat. “Bagi saya, hijrah bukan soal posisi, tetapi soal prinsip dan arah hidup.”

Saya ingin membuktikan bahwa ekonomi syariah bukan sekadar wacana keagamaan, tetapi sistem ekonomi yang realistis dan solutif bagi masyarakat Indonesia. Semangat inilah yang kemudian saya tuangkan dalam buku pertama saya berjudul “Aktivitas Ekonomi Syariah: Catatan Dakwah Seorang Praktisi Perbankan Syariah” (Unri Press, 2004). Buku itu menjadi refleksi atas perjalanan awal saya berdakwah melalui praktik ekonomi.

Merintis di Tengah Keterbatasan

Awal 2000-an bukan masa yang mudah. Infrastruktur keuangan syariah masih terbatas, regulasi masih berkembang, dan sumber daya manusia yang memahami sistem syariah masih langka. Namun, di balik keterbatasan itu ada semangat besar: membangun sesuatu yang baru demi kemaslahatan.

Saya dan rekan-rekan di berbagai daerah berjuang memperluas jaringan bank syariah ke pelosok tanah air. Kami tidak hanya berbicara tentang pembiayaan atau produk perbankan, tetapi juga tentang edukasi, literasi, dan kepercayaan masyarakat. Banyak nasabah di daerah yang semula ragu beralih ke sistem syariah karena belum memahami konsep bagi hasil (mudharabah dan musyarakah). Namun, ketika mereka melihat prinsip keadilan dalam praktik dan transparansi dalam akad, kepercayaan itu tumbuh perlahan.

Mengembangkan Ekosistem Bisnis Halal

Seiring waktu, cakupan dakwah ekonomi ini meluas. Saya terlibat dalam pengembangan pariwisata halal, bisnis syariah di sektor perhotelan, pendidikan, dan kesehatan. Filosofinya sederhana: ekonomi syariah tidak bisa berdiri sendiri; ia membutuhkan ekosistem yang menyeluruh, dari sistem keuangan hingga gaya hidup halal.

Peluang itu mulai terbuka lebar sejak lahirnya Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2008 tentang Perbankan Syariah, yang menjadi tonggak penting bagi pertumbuhan sektor ini. UU tersebut memberi kepastian hukum bagi bank syariah untuk tumbuh dan bersaing secara sehat, termasuk kewajiban spin-off Unit Usaha Syariah (UUS) dari bank konvensional.

Saya menulis tentang dinamika ini dalam artikel “Tantangan Spin Off Unit Usaha Syariah dari Bank Konvensional”, menyoroti betapa kompleks proses pemisahan aset antara UUS dan induknya, namun juga menegaskan bahwa spin-off adalah langkah strategis untuk memperkuat jati diri perbankan syariah.

Dari Buku ke Gerakan

Dua tahun setelah buku pertama, saya menerbitkan karya kedua berjudul “Model Dinamika Sosial Ekonomi Islami: Solusi Pembangunan Berkeseimbangan dan Berkeadilan” (Unri Press, 2006). Buku ini lahir dari keinginan untuk menjadikan ekonomi syariah sebagai solusi pembangunan yang berimbang, bukan hanya fokus pada pertumbuhan ekonomi, tapi juga pemerataan dan keberlanjutan sosial.

Saya percaya, nilai-nilai Islam seperti keadilan, amanah, dan kebersamaan bisa menjadi fondasi bagi sistem ekonomi modern yang lebih manusiawi. Prinsip ini saya pegang erat dalam setiap aktivitas profesional dan kegiatan literasi yang saya jalankan hingga kini.

Jejak Perjalanan yang Terus Berlanjut

Dua dekade lebih berlalu sejak langkah hijrah itu dimulai. Kini, industri perbankan syariah di Indonesia telah tumbuh pesat, dengan pangsa pasar yang kian meningkat dan dukungan regulasi yang semakin kuat. “Saya bersyukur bisa menjadi saksi dan bagian kecil dari perjalanan panjang ini.”

Namun, perjuangan belum selesai. Tantangan baru muncul: literasi masyarakat yang masih perlu ditingkatkan, inovasi digital yang harus disinergikan dengan nilai-nilai syariah, serta kebutuhan menjaga trust publik agar bank syariah tidak kehilangan ruhnya di tengah arus komersialisasi.

Bagi saya, setiap cabang bank syariah yang berdiri di pelosok negeri adalah simbol perjuangan. Ia bukan sekadar lembaga keuangan, tetapi pusat pemberdayaan umat, tempat di mana nilai-nilai Islam diwujudkan dalam ekonomi yang nyata.

Penutup

Hijrah ke perbankan syariah mengajarkan saya satu hal penting: perubahan besar selalu dimulai dari keyakinan kecil. Saya memulai perjalanan ini bukan dengan kekuatan modal, tetapi dengan tekad dan iman bahwa sistem ekonomi yang berlandaskan nilai-nilai Islam akan membawa keberkahan bagi bangsa.

Kini, melihat bank-bank syariah tumbuh dari kota besar hingga pelosok negeri, saya merasa haru dan bangga. Mungkin perjuangan ini belum sempurna, tetapi setiap langkah kecil yang diambil dengan niat ikhlas akan selalu punya arti besar dalam membangun masa depan ekonomi umat.

Askanah Ratifah

Penulis yang memiliki perhatian besar pada dunia kesehatan dan kesejahteraan masyarakat. Ia suka mengikuti jurnal kesehatan, melakukan yoga, dan mempelajari resep makanan sehat. Menurutnya, informasi yang benar adalah kunci hidup lebih baik. Motto: “Tulisan yang sehat membawa pembaca sehat.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *