Anak Kucing yang Membuat Gerakan Menggemaskan
Seekor anak kucing berbulu oranye dengan sedikit campuran putih di bagian dadanya membuat gerakan yang begitu menggemaskan. Binatang mungil itu kira-kira usianya baru dua bulanan. Di atas salah satu boks turnstile subway sebuah bandara. Agaknya di Turki, yang masyarakatnya memberi toleransi tinggi kepada hewan mungil dengan suara yang tidak selalu membentuk bunyi meong yang jelas itu berada di ruang publik.
Anak kucing yang agaknya sangat friendly itu, tampak melalui video yang tersaji pada salah satu unggahan di FaceBook, melakukan tos kepada setiap orang yang masuk melewati boks turnstile subway tempatnya menongkrong dengan begitu enjoy. POV alias point of view yang tertulis “This Sweet Kitten Is High-Fiving Everyone on the Subway”. Setelah itu berderet delapan tagar: #CuteKitten, #HighFiveKitty, #SubwayCute, #WholesomeMoments, #DailySmile, #ViralPets, #CuteAnimals, #RandomKindness.

Gerakan anak kucing itu, seperti manusia yang melakukan gestur fisik berupa tepukan tangan sebagai ungkapan salam. Dalam bahasa Inggris, ini disebut high five. Suatu tindakan sosial ketika dua orang mengangkat tangan dengan posisi telapak terbuka di udara setinggi kepala atau bahu. Kemudian saling menepukkan telapak tangan pada waktu yang bersamaan.
Dengan perkataan lain yang lebih sederhana, high merujuk pada posisi tangan yang terangkat tinggi setara dengan kepala atau bahu. Adapun five merujuk pada lima jari telapak tangan yang saling beradu. Konon momentum high five pertama yang terdokumentasi, adalah kejadian yang berlangsung dalam olahraga bisbol.
Saat itu 2 Oktober 1977. Johnnie B “Dusty” Baker Jr (lahir 15 Juni 1949), kala itu 32 tahun, memperkuat Los Angeles Dodgers di salah satu musim reguler Major League Baseball (MLB). Ketika itu, menghadapi Houston Atros. Dusty Baker mampu mencetak home run ke-30 dalam bentang kariernya sebagai pemain profesional hingga titimangsa itu.
Rekan satu timnya, Glenn Lawrence Burke (16 November 1952 – 30 Mei 1995), waktu itu berusia 25 tahun, menyambutnya dengan mengulurkan tangan setinggi kepala mendapat balasan dari Dusty Baker dengan tepukan telapak tangannya pada telapak tangan rekan setimnya itu. Inilah high five pertama yang tercatat dalam sejarah.
Mengingat keduanya merupakan keturunan Afrika-Amerika, bukan tidak mungkin gestur demikian mendapat pengaruh yang berasal dari komunitas mereka, seperti low five (menepukkan telapak tangan yang terbuka di area pinggang atau lebih rendah) yang sudah ada sejak tahun 1920-an. Atau, “gimme some skin”, istilah gaul dari komunitas tersebut yang populer pada tahun 1940-an. Secara harfiah “beri aku kulit (telapak tanganmu)” untuk bersentuhan. Makna yang dalam ketika perilaku rasialis masih begitu kuat terasakan.
Setelah kejadian di arena olahraga bisbol tersebut, gestur high five menyebar sebagai ungkapan kegembiraan, dukungan, dan persahabatan merambah ke para pemain cabang olahraga lain dan kemudian ke masyarakat umum. Ia menjadi alternatif lain dari handshake (berjabat tangan) dan lebih biasa berlaku di kalangan anak muda sebaya.
Handshake merupakan gestur yang lebih dahulu ada terutama untuk menyampaikan salam formal atau memperlihatkan niat damai. Sementara itu, high five adalah gestur yang lebih spontan serta energik, sebagai cara sederhana untuk mengekspresikan secara nonverbal bahwa apa yang temannya lakukan itu oke atau keren. Atau dengan bahasa lain, untuk merayakan kesuksesan suatu capaian atau memproklamasikan kebahagiaan, kegembiraan.
Dengan demikian, boleh terbilang high five itu bentuk evolusi dengan gestur sederhana yang menengarai momen kebersamaan yang penuh makna. Sementata itu, dalam bahasa Inggris ada verb (kata kerja) toss (melempatkan). Erat terkait dengan pengundian. Kita cukup akrab dengan bentukan coin toss. Tindakan melemparkan sekeping uang logam ke udara. Lalu menangkap dan membukanya untuk melihat sisi gambar atau angka yang menghadap ke atas. Misalnya untuk menentukan posisi mana dua kesebelasan sepak bola mendapatkan gawang masing-masing pada awal laga.

Dalam bahasa Indonesia, kata “tos” memiliki makna yang unik. Secara resmi, sebagaimana tercantum dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi VI Dalam Jaringan, lema yang termasuk ragam cakapan ini mengusung makna yang sangat mirip dengan contoh di atas. Redaksi kalimatnya begini: “undian dengan cara melemparkan uang logam dan sebagainya (seperti untuk menentukan kalah menang, tempat bermain bola)”.
Akan tetapi, dalam realitas penggunaan bahasa sehari-hari, kata “tos” lebih sering menyelinap ke dalam konteks (karena agaknya telah terjadi pergeseran makna yang meluas), merujuk pada perbuatan atau tindakan dalam aktivitas yang memberi peran gerakan tangan relatif cepat, telapak terbuka, dan kemudian terjadi pembenturan ringan atau perlahan dua telapak tangan dari dua orang dalam suatu sekuen kejadian.
Ada yang menyebut, kata “tos” merupakan padanan bahasa Indonesia dari high five yang berupaya menjerat esensi tepukan telapak tangan untuk mengoneksikan pikiran dan membagikan kegembiraan sedikitnya antardua individu. Demikian alasan, mengapa high five dikaitan dengan “tos”. Dalam realitas konversasi sehari-hari ajakan ber-high five bisa mewujud dengan perkataan atau ucapan misalnya, “Halo apa kabar. Tos dulu ya” atau “Tim kita sukses memenangi laga hidup mati. Yuk kita lakukan tos-tosan”. Bentuk “tos-tosan” di sini bisa jadi adalah kata benda atau nomina (noun).

Sebagai padanan kata dalam bahasa Indonesia, tentu saja “tos” mengandung makna simbolis dan mempunyai fungsi sosial yang cenderung identik dengan high five. Dalam format yang menyeluruh, “tos” juga merupakan bentuk respons nonverbal sebagai wujud perayaan atas suatu pencapaian. Selain itu, tidak bisa dipisahkan sebagai tanda penghormatan. Salah satu gestur ikutan saat memberi salam. Bisa pula ekspresi untuk menjunjung spirit sportivitas dalam dunia olahraga.
Begitulah realitasnya. Kendatipun istilah high five telah menebarkan jaring popularitasnya dalam tataran melalui budaya populer dan olahraga, masyarakat Indonesia lebih mengakrabi kata “tos”, adaptasi ejaan dan sekaligus perluasan makna dari kata bahasa Inggris toss, untuk mewadahi konsep semantis dari gestur tersebut.
Jurnalis yang menaruh perhatian pada dunia pendidikan dan komunitas lokal. Ia senang menghabiskan waktu membaca biografi tokoh inspiratif, menulis catatan belajar, serta menghadiri diskusi publik. Aktivitas ini membantunya memahami sudut pandang masyarakat. Motto: "Berita harus menggerakkan, bukan sekadar dibaca."











