Ringkasan Peristiwa Pesawat Hilang Kontak
Pada hari Sabtu, 17 Januari 2026, sekitar pukul 13.17 Wita, pesawat ATR 42-500 dengan nomor registrasi PK-THT milik Indonesia Air Transport (IAT) tiba-tiba kehilangan kontak saat melakukan penerbangan dari Bandara Adisutjipto Yogyakarta menuju Bandara Internasional Sultan Hasanuddin Makassar. Pesawat yang seharusnya mendarat di bandara tersebut justru menghilang dari radar dan tidak dapat dihubungi.
Peristiwa ini menimbulkan kekhawatiran besar di kalangan masyarakat dan instansi terkait. Sejak saat itu, berbagai upaya pencarian dilakukan untuk menemukan lokasi kejadian. Berikut adalah fakta-fakta penting terkait peristiwa ini:
Fakta-Fakta Terkait Pesawat Hilang Kontak
1. Daftar Penumpang dan Kru
Dalam penerbangan tersebut, terdapat beberapa penumpang dan kru yang tercatat dalam manifest penerbangan. Penumpang termasuk Deden, Feri, dan Yoga. Sementara itu, kru pesawat terdiri dari:
– Kapten Andy Dahananto (pilot)
– First Officer Yudha Mahardika
– Sukardi (Awak Kabin)
– Hariadi (Awak Kabin)
– Franky D. Tanamal (Awak Kabin)
– Junaidi (Awak Kabin)
– Florencia Lolita (Awak Kabin)
– Esther Aprilita S (Awak Kabin)
2. Pendaki Rekam Serpihan Pesawat
Pesawat ditemukan di kaki Gunung Bulusaraung Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan, pada sore hari setelah hilang kontak. Salah satu pendaki merekam serpihan pesawat yang terbakar. Tim BPBD Pangkep langsung mengerahkan anggota ke lokasi untuk memastikan kondisi terkini.
3. Warga Dengar Ledakan
Lingkungan Panaikang, Kelurahan Leang-leang, Kecamatan Bantimurung, menjadi ramai setelah informasi tentang pesawat hilang kontak menyebar. Sejumlah personel TNI dan mobil SAR terparkir di pinggir jalan. Beberapa warga mengaku mendengar ledakan yang awalnya mereka kira merupakan kejadian lain.
4. Medan Berat dalam Pencarian
Tim SAR gabungan yang terdiri dari Basarnas, TNI, dan Polri dikerahkan untuk mencari pesawat. Diperkirakan sekitar 50 personel terlibat dalam operasi ini. Medan yang sulit, termasuk pegunungan dan cuaca buruk, membuat proses pencarian lebih rumit. Drone digunakan sebagai alat bantu, namun kabut dan hujan menghambat penggunaannya.
5. Temuan Titik Api
Panglima Kodam XIV/Hasanuddin, Mayjen TNI Bangun Nawoko, menyampaikan bahwa tim telah mendeteksi adanya indikasi api di lokasi tertentu. Hal ini kemudian dikonfirmasi dengan laporan masyarakat yang juga melihat titik api dan mendengar ledakan. Temuan ini diharapkan menjadi petunjuk utama lokasi jatuhnya pesawat.
Upaya Pencarian yang Dilakukan
Setelah pesawat dinyatakan hilang kontak, ATC Makassar langsung mendeklarasikan fase darurat DETRESFA. Koordinasi dilakukan dengan Basarnas dan aparat kepolisian. Proses pencarian difokuskan di wilayah pegunungan kapur Bantimurung, Desa Leang-leang, Kabupaten Maros. Helikopter TNI Angkatan Udara juga ikut serta dalam operasi pencarian, yang direncanakan terbang pada pukul 16.25 Wita.
Selain itu, posko Basarnas dibangun di sekitar titik koordinat terakhir yang diberikan oleh AirNav. Tim SAR gabungan terus melakukan penyisiran darat sambil menunggu cuaca membaik untuk kembali mendekati lokasi. Ratusan warga setempat juga turut membantu dalam proses pencarian.











