My WordPress Blog

Makanan Viral: Rasa atau Hype?

Pemandangan yang Membuat Kita Berpikir



Setiap pulang bekerja, saat matahari sore mulai condong ke barat dan jalanan mulai padat merayap, saya selalu salah fokus melihat sebuah pemandangan di pinggir jalan. Bukan kecelakaan, bukan demonstrasi, melainkan sebuah antrean manusia yang mengular panjang.

Pusat keramaian itu adalah sebuah gerobak berwarna pink mencolok bertuliskan “Es Pisang Ijo Ice Cream”. Harganya memang tergolong murah meriah, dibanderol 10 ribu rupiah saja. Namun yang membuat dahi saya berkerut bukan harganya, melainkan fenomena di sekitarnya. Gerobak itu bahkan belum dibuka. Si penjual mungkin masih menata mangkuk atau memecah es batu, tapi para pembeli sudah berdiri siaga, berbaris rapi seperti sedang menunggu pembagian sembako gratis.

Mereka rela berdiri di pinggir jalan yang berdebu, menghirup asap knalpot, dengan mata yang sesekali melirik jam tangan dan sesekali menatap layar HP. Wajah mereka berminyak, keringat sebesar biji jagung menetes di pelipis, dan kaki mereka pegal linu karena berdiri statis. Namun, anehnya, tak ada yang beranjak. Mata mereka terpaku pada satu tujuan.

Fenomena Antrean yang Mengubah Cara Kita Makan

Di era ini, kenikmatan sebuah makanan tidak lagi ditentukan oleh harmoni bumbu di lidah, melainkan oleh seberapa estetik bentuknya di kamera, dan seberapa panjang antreannya. Kita rela menukar dua jam waktu hidup kita yang berharga, yang tak akan pernah kembali, hanya demi sebuah Instagram Story berdurasi 15 detik.

Ingatkah pada fenomena Odading Mang Oleh? Atau kerusuhan saat Cromboloni pertama kali muncul? Atau antrean mengular saat gerai es krim dari China pertama kali ekspansi besar-besaran? Pola yang terjadi selalu sama. Sebuah video muncul di FYP (For You Page), memperlihatkan lelehan cokelat yang lumer atau kerenyahan kulit pastri yang diadukan ke mikrofon (ASMR). Besoknya, tempat itu diserbu. Kita seperti terkena wabah zombi, tapi bukan zombi pemakan otak, melainkan zombi FOMO (Fear of Missing Out). Ada kecemasan sosial yang aneh jika kita belum mencicipi apa yang sedang dibicarakan orang banyak.

Ritual yang Harus Dilakukan Sebelum Menikmati Makanan

Rasanya seperti dikucilkan dari pergaulan jika ditanya oleh teman. Jawaban “belum” itu seolah-olah diterjemahkan menjadi orang yang kudet (kurang up date). Demi menghindari label kudet itulah, kita rela berdiri berjam-jam, berdesak-desakan, kadang sambil memaki dalam hati, hanya untuk membeli tiket masuk bernama validasi sosial.

Ada ritual yang harus dilakukan sebelum menyantap makanan atau minuman yang dipesan. Keluarkan HP. Lalu cari angle pencahayaan terbaik (kadang sampai berdiri di atas kursi). Merekam video membelah makanan (cutting shot). Foto beberapa angle. Terakhir, upload ke Story dengan caption, “Akhirnyaaa cobain jugaa! Jujurly antrenya gila banget!” Proses ini memakan waktu 5 sampai 10 menit. Makanan yang harusnya dimakan panas-panas, kini sudah menjadi hangat-hangat kuku, bahkan dingin. Es krim yang estetik itu mulai mencair. Mie yang kenyal itu mulai mekar dan lembek.

Kualitas Makanan yang Tergadai

Secara tidak sadar, kita telah menurunkan kualitas makanan itu sendiri demi konten. Kita tidak lagi menghormati makanan sebagai sumber nutrisi atau kenikmatan rasa. Kita memperlakukan makanan sebagai properti syuting. Lidah kita dipaksa mengalah pada mata lensa. Yang penting feed Instagram kenyang, urusan perut belakangan.

Faktanya, tidak semua makanan/minuman viral itu enak. Sebuah tergantung pada selera orang. Tapi, perhatikan fenomena psikologis yang menarik. Sangat jarang orang yang sudah antre 2 jam berani bilang makanannya tidak enak. Kita sudah membayar mahal dengan waktu dan tenaga untuk antre. Jika mengakui makanannya tidak enak, berarti mengakui bahwa sudah buang-buang waktu.

Makanan Viral yang Sementara

Siklus makanan viral ini sangat cepat dan kejam. Makanan viral di Indonesia itu seperti kembang api. Meledak indah, bising sebentar, lalu hilang tak berbekas menyisakan sampah. Masih ingat Es Kepal Milo? Ke mana perginya ribuan booth yang dulu menjamur di setiap tikungan? Masih ingat Kue Cubit aneka rasa? Masih ingat Roti John panjang? Mereka hilang ditelan bumi. Ketika hype-nya mati, ketika jatah pamer di media sosial sudah habis, orang-orang pergi. Karena sejak awal, yang dijual bukan rasa yang bikin rindu, melainkan tren yang bikin penasaran.

Kembali ke Rasa Asli Makanan

Berbeda dengan warung makan legendaris yang sudah berdiri 30 tahun. Mereka mungkin tidak viral di TikTok. Antreannya mungkin tidak sampai ke jalan raya. Tapi pelanggannya kembali lagi, lagi, dan lagi. Inovasi kuliner itu baik. Mencoba hal baru itu seru. Tapi, mari kita kembalikan kendali lidah kita. Jangan biarkan algoritma TikTok menentukan apa yang harus masuk ke perutmu hari ini. Jangan biarkan rasa takut ketinggalan zaman (FOMO) membuatmu menyiksa diri berdiri di bawah terik matahari berjam-jam.

Nikmati Makanan dengan Tenang

Mulailah menjadi penikmat makanan yang merdeka. Makanlah karena kamu lapar. Makanlah karena kamu memang suka rasanya. Ingatlah, followers di Instagram tidak akan ikut merasakan kenyang di perutmu. Mereka tidak akan peduli jika kamu sakit maag karena telat makan demi antre. Sesekali, cobalah datang ke warung soto langganan yang sepi di ujung jalan. Duduklah dengan tenang. Pesan satu mangkuk. Nikmati kuahnya yang panas tanpa perlu difoto. Rasakan bumbunya tanpa perlu memikirkan caption. Di situlah kamu akan menemukan kembali kenikmatan hakiki dari sebuah kegiatan sederhana bernama makan. Karena sejatinya, makanan paling enak di dunia bukanlah yang paling viral, tapi yang dimakan saat perut lapar dan hati tenang tanpa gangguan notifikasi.

Askanah Ratifah

Penulis yang memiliki perhatian besar pada dunia kesehatan dan kesejahteraan masyarakat. Ia suka mengikuti jurnal kesehatan, melakukan yoga, dan mempelajari resep makanan sehat. Menurutnya, informasi yang benar adalah kunci hidup lebih baik. Motto: “Tulisan yang sehat membawa pembaca sehat.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *