Langkah Pemerintah Thailand dalam Mendukung Industri Beras Nasional
Pemerintah Thailand telah memperpanjang sejumlah langkah dukungan bagi industri beras nasional, mengingat volatilitas yang masih terjadi di pasar global. Keputusan ini diambil setelah rapat kabinet yang digelar pada 6 Januari 2026. Juru bicara pemerintah, Siripong Angkasakulkiat, menyampaikan bahwa Kabinet Thailand menyetujui usulan Kementerian Perdagangan Thailand, yang mencakup tiga langkah utama untuk menjaga stabilitas sektor perberasan.
Perpanjangan Skema Kompensasi Bunga
Langkah pertama adalah perpanjangan skema kompensasi bunga bagi pedagang beras yang menyimpan padi dari tahun produksi 2023–2024. Program yang awalnya berakhir pada 31 Oktober 2025 diperpanjang hingga 30 April 2026. Kebijakan ini ditujukan untuk menjaga likuiditas pedagang saat membeli beras dari petani, terutama pada periode puncak pasokan. Dalam skema tersebut, pemerintah mengompensasi biaya bunga pinjaman bank sebesar 3 sampai 4 persen per tahun yang digunakan pedagang untuk membeli dan menimbun beras.
Pengurangan Batas Pinjaman Per Ton
Selain itu, kabinet menyetujui pengurangan batas pinjaman per ton untuk beras padi putih, padi Pathum Thani, dan padi ketan dalam skema kredit penundaan penjualan padi untuk tahun produksi 2025–2026. Penyesuaian ini dilakukan setelah evaluasi harga beras berdasarkan 90 persen dari harga pasar rata-rata per 4 November 2025. Berdasarkan penilaian ulang tersebut, total anggaran pinjaman diturunkan dari 36,23 miliar baht Thailand atau sekitar 1,16 miliar dollar AS menjadi 35,01 miliar baht. Sementara itu, anggaran dukungan satu kali juga dipangkas dari 9,16 miliar baht menjadi 9,01 miliar baht. Dewan Negara Thailand menegaskan bahwa penyesuaian ini tidak menimbulkan kewajiban yang mengikat bagi pemerintahan berikutnya.
Program Budidaya Padi Berkualitas Tinggi
Kabinet juga menyetujui kelanjutan program yang bertujuan mendorong budidaya padi berkualitas tinggi di kalangan petani. Inisiatif ini menyasar sekitar 200 kelompok petani dan didukung anggaran satu kali sebesar 120 juta baht dari Dana Bantuan Petani, dengan kemungkinan tambahan pendanaan dari anggaran pusat. Namun demikian, skema penyerapan padi terpisah untuk musim produksi 2025–2026 tidak dapat dilanjutkan karena potensi kewajiban bagi pemerintahan selanjutnya.
Produksi dan Ekspor Beras Thailand Tahun 2025
Sepanjang tahun kalender 2025, produksi padi di Thailand diperkirakan tetap berada di kisaran rata-rata lima tahun terakhir. Menurut laporan Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO), produksi gabah (paddy) agregat pada 2025 diperkirakan mencapai sekitar 33,6 juta ton, sejalan dengan rata-rata lima tahun, meskipun sedikit di bawah level tahun sebelumnya karena beberapa petani menurunkan luas tanam menyusul penurunan harga produsen. Kondisi vegetasi pada sebagian besar wilayah tanam pada musim hujan terlihat baik tanpa bukti kekeringan berarti, mendukung kegiatan tanam dan pertumbuhan tanaman utama tahun tersebut.
Dalam konteks perdagangan, ekspor beras Thailand pada 2025 diproyeksikan turun dibandingkan tahun sebelumnya, dengan volume ekspor diperkirakan sekitar 7,9 juta ton, lebih rendah dari sekitar 9,9 juta ton pada 2024. Penurunan ini terjadi bersamaan dengan melimpahnya pasokan domestik dari hasil panen sebelumnya dan harga beras domestik yang lebih rendah sepanjang pertengahan 2025. Meskipun panen utama tahun 2025 berjalan normal, dinamika harga mengalami variasi. Data harga padi jenis jasmine rice misalnya, sempat mengalami tekanan turun sebelum kembali menunjukkan kenaikan ketika ada permintaan ekspor dari negara seperti China dan Singapura, yang membantu memperbaiki sentimen pasar menjelang akhir tahun 2025.
Strategi Ekspor dan Promosi Beras Thailand
Perubahan tren produksi dan perdagangan tersebut terjadi di tengah gejolak harga beras global yang umum terjadi pada 2025. Harga beras anjlok di beberapa wilayah Asia karena pasokan global melimpah, namun Thailand tetap menjadi salah satu negara produsen utama di kawasan dengan peranan penting dalam perdagangan beras internasional. Pemerintah Thailand menyiapkan sejumlah langkah promosi untuk mendorong ekspor beras pada 2026 dengan melanjutkan negosiasi dan pengiriman antar pemerintah (G2G). Salah satunya mencakup penjualan beras ke China dengan total volume 500.000 ton. Otoritas terkait juga memantau implementasi nota kesepahaman (MoU) perdagangan beras dengan Singapura, yang mengatur kuota maksimal 100.000 ton selama lima tahun.
Selain jalur G2G, Thailand berupaya mempercepat perluasan pasar beras putih dan beras parboiled ke negara-negara dengan potensi permintaan tinggi seperti Irak dan Arab Saudi, serta kawasan Timur Tengah dan Afrika. Di sisi lain, ekspansi juga diarahkan pada segmen beras premium ke pasar Eropa dan Amerika Utara, termasuk Jerman, Swiss, dan Amerika Serikat. Pemerintah Thailand menyebutkan pentingnya memperkuat hubungan dan kepercayaan dengan mitra utama untuk memperluas ekspor beras, seperti Hong Kong, China, Amerika Serikat, dan Kanada. Upaya ini diharapkan mendukung stabilitas permintaan dan kesinambungan kontrak ekspor beras Thailand di pasar global.
Promosi Beras Thailand Melalui Berbagai Jalur
Selain pendekatan pasar dan kemitraan, promosi beras Thailand juga akan dilakukan melalui pameran dagang internasional dengan menghubungkan importir dan eksportir, serta mendukung usaha kecil dan menengah (UKM) untuk terlibat dalam negosiasi dan pertemuan penjualan pada berbagai ajang besar. Pemerintah menyatakan rencana promosi turut diperluas melalui saluran daring untuk meningkatkan kesadaran dan mendorong konsumsi yang lebih luas, termasuk di kalangan konsumen muda, melalui kampanye bersama restoran dan tokoh-tokoh berpengaruh yang dikenal luas.
Penulis yang memiliki perhatian besar pada dunia kesehatan dan kesejahteraan masyarakat. Ia suka mengikuti jurnal kesehatan, melakukan yoga, dan mempelajari resep makanan sehat. Menurutnya, informasi yang benar adalah kunci hidup lebih baik. Motto: “Tulisan yang sehat membawa pembaca sehat.”











