My WordPress Blog

Nongkrong Butuh Uang, Bukan Tas

Perubahan Definisi Nongkrong

Setelah pulang dari jum’atan, saya menggulung media sosial dan menemukan sebuah video yang membuat saya mengangguk-angguk sendiri. Video tersebut membahas tentang nongkrong yang kini terasa sangat mahal. Komentar-komentar netizen pun bervariasi, ada yang setuju, ada yang malah menyindir, “Nongkrong gratis? Mana ada! Nongkrong di pom bensin aja bayar dua ribu.”

Inilah inti masalahnya. Tampaknya kita lupa bahwa definisi nongkrong telah berubah jauh dari sekadar duduk-duduk sambil ngobrol. Sekarang, nongkrong hampir selalu dikaitkan dengan pengeluaran uang. Dan jumlahnya cukup besar.

Dulu, nongkrong itu sederhana. Duduk di warung kopi, memesan teh panas atau kopi item, membayar lima ribu atau sepuluh ribu rupiah, bisa betah sampai maghrib. Atau bahkan hanya duduk di pinggir jalan, membawa gitar, menyanyikan lagu-lagu hits. Cukup dengan modal dengkul saja.

Coba bandingkan dengan zaman sekarang. Anak muda masa kini, ketika berkata “yuk nongkrong,” yang terbayang bukan lagi warung kopi biasa. Yang muncul adalah kafe-kafe instagramable dengan interior industrial atau minimalis, lampu-lampu gantung yang aesthetic, serta menu minuman dengan nama-nama yang kadang sulit dipahami.

Sekali datang ke tempat seperti ini, minimal kita harus siap mengeluarkan uang 30-50 ribu per orang. Itu baru untuk minuman. Belum lagi kalau lapar dan memesan makanan. Bahkan jika kalian termasuk tipe yang suka memesan dessert atau appetizer, bisa saja biayanya mencapai 100-150 ribu dalam sekali duduk.

“Ah, tidak harus ke kafe juga kan?”

Iya, memang tidak harus. Tapi masalahnya, tekanan dari teman-teman sering kali nyata adanya. Ketika teman-teman kalian ajak ke suatu tempat, dan kamu bilang “gue nggak bisa, mahal,” akan muncul perasaan… gimana ya… seperti malu. Seolah-olah kamu yang tidak bisa mengikuti gaya hidup mereka. Padahal bisa jadi mereka juga sebenarnya tidak memiliki uang, hanya tidak mau mengaku.

Media Sosial Membuat Standar Nongkrong Makin Tinggi

Saya rasa media sosial seperti Instagram dan TikTok memiliki andil besar dalam meningkatkan standar nongkrong ini. Sekarang, nongkrong bukan hanya untuk quality time atau sekedar ngobrol biasa. Ada misi tersembunyi: konten.

Kalian pasti pernah melihat teman-teman kalian foto minumannya dari berbagai sudut, video boomerang saat angkat gelas, atau story yang di-repost berkali-kali karena tempatnya bagus. Nongkrong sekarang sudah memiliki dokumentasi. Dan dokumentasi yang bagus butuh tempat yang bagus juga.

Maka, warung pinggir jalan atau angkringan (meski enak dan murah) sering kalah saing dengan kafe-kafe yang punya sudut foto menarik. Bukan berarti angkringan tidak estetik, tapi vibes-nya berbeda. Dan bagi sebagian anak muda, vibes itu penting.

Ini yang membuat kita harus berpikir: apakah kita masih nongkrong untuk ngobrol, atau sekarang kita nongkrong untuk pamer? Itu sebabnya kita membawa tas.

Yang membuat prihatin adalah banyak anak muda yang belum memiliki penghasilan tetap, bahkan masih kuliah, ikut-ikutan gaya hidup nongkrong yang mahal. Mereka tidak ingin disebut “nggak gaul” atau “kudet” jika tidak pernah mampir ke tempat-tempat hits.

“Tapi kan biar tetap connect sama temen-temen,” celotehnya sambil membela diri.

Ironisnya, koneksi yang dibangun dengan cara seperti itu sebenarnya rapuh. Pertemanan yang dasarnya konsumsi bareng, bukan interaksi dan diskusi yang bermakna, mudah bubar ketika salah satu pihak tidak bisa mengikuti lagi.

Apakah Nongkrong Murah Sudah Punah?

Pertanyaannya sekarang: bisakah kita nongkrong tanpa harus keluar duit banyak?

Sebenarnya bisa. Cuma butuh sedikit usaha dan… agak berani melawan arus. Kalian bisa mengajak teman-teman ke taman, membawa bekal sendiri, ngobrol sambil duduk lesehan. Atau main ke rumah salah satu teman, masak bersama, lalu menonton film atau bermain board game.

Saya paham kenapa pilihan ini kurang menarik. Kita sudah terbiasa dengan kenyamanan instan. Kafe praktis. Kita tinggal datang, duduk, pesan, bayar, selesai. Tidak perlu mikir tempat, tidak perlu persiapkan apa-apa. Semuanya sudah disediakan. Dan itulah yang membuat kita malas mencari alternatif. Betul?

Belum lagi faktor keamanan dan kenyamanan. Nongkrong di taman atau tempat umum, apalagi sampai malam, kadang membuat orang tua khawatir. Kafe, meskipun mahal, setidaknya memiliki ruangan tertutup, AC, dan kesan lebih aman.

Saya tidak bilang nongkrong di kafe itu salah. Tidak juga. Jika kamu punya uang dan itu membuatmu senang, ya kenapa tidak? Yang menjadi masalah adalah ketika nongkrong menjadi beban finansial namun tetap dipaksakan demi gengsi.

Mungkin kita perlu jujur pada diri sendiri: nongkrong itu prioritas atau bukan? Jika iya, alokasikan budgetnya dengan baik. Jika tidak, jangan memaksakan. Sederhana saja.

Dan mungkin juga kita perlu mulai normalisasi kebiasaan-kebiasaan nongkrong yang murah atau bahkan gratis. Jangan sampai pertemanan kita diukur dari seberapa sering kita bisa ikut ke tempat mahal. Pertemanan yang sehat seharusnya fleksibel dan saling memahami kondisi masing-masing.

Kesimpulan

Nongkrong sekarang memang perlu bawa tas. Karena harus bawa duit. Itu fakta. Tapi bukan berarti kita tidak punya pilihan. Kita masih bisa memilih cara nongkrong yang sesuai dengan kemampuan kita, tanpa merasa inferior atau ketinggalan zaman.

Yang penting, ingat: nongkrong tujuannya untuk membangun hubungan dan menciptakan kenangan, bukan untuk membuat pusing akibat tagihan kartu kredit di akhir bulan.

Jadi, untuk kamu yang merasa tertekan karena harus ikut-ikutan gaya hidup nongkrong yang mahal, tarik napas dulu. Ingat! Kamu tidak harus memaksakan diri. Teman yang benar-benar akan memahami, pasti akan paham jika kamu bilang, “Eh, kali ini gue skip dulu ya, lagi ngirit.”

Dan jika mereka tidak paham? Well, mungkin kamu perlu memikir ulang soal definisi pertemanan kalian.

Askanah Ratifah

Penulis yang memiliki perhatian besar pada dunia kesehatan dan kesejahteraan masyarakat. Ia suka mengikuti jurnal kesehatan, melakukan yoga, dan mempelajari resep makanan sehat. Menurutnya, informasi yang benar adalah kunci hidup lebih baik. Motto: “Tulisan yang sehat membawa pembaca sehat.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *