My WordPress Blog

Satu Pasien Flu Berat di Bandung Meninggal, Apakah Penyakit Ini Mematikan bagi Penderita Komorbid?

Kematian Pasien Super Flu di Bandung: Apakah Disebabkan oleh Virus atau Komorbid?

Seorang pasien yang terinfeksi super flu dan menjalani perawatan di Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung dilaporkan meninggal dunia. Meski demikian, pihak rumah sakit belum dapat memastikan apakah kematian pasien tersebut disebabkan langsung oleh super flu atau faktor lain.

Pasien tersebut diketahui memiliki riwayat penyakit penyerta atau komorbid yang cukup berat. “Satu pasien yang masuk ruang intensif dinyatakan meninggal dunia karena disertai komorbid lain, seperti stroke, gagal jantung, dan infeksi yang menyebabkan gagal ginjal,” kata Ketua Tim Pinere RSHS dr. Yovita Hartantri.

“Jadi, apakah kematiannya langsung disebabkan oleh virus, kami belum bisa menyatakan, karena pasien memang memiliki banyak komorbid,” tambahnya.

Sebelumnya, tercatat ada 10 pasien yang terkonfirmasi terinfeksi influenza A (H3N2) subclade K dan menjalani perawatan di RSHS Bandung. Dari jumlah tersebut, dua pasien mengalami kondisi berat, sementara delapan pasien lainnya berada dalam kondisi ringan hingga sedang dan masih menjalani perawatan serta pemantauan medis.

Risiko Lebih Tinggi bagi Pasien dengan Komorbid

Lantas, apakah pasien dengan riwayat komorbid memiliki risiko lebih tinggi? Epidemiolog dari Griffith University Australia, Dicky Budiman menjelaskan, orang dengan penyakit penyerta atau komorbid memiliki risiko jauh lebih tinggi mengalami keparahan hingga kematian akibat infeksi influenza.

“Ya, orang dengan komorbid tentu lebih berisiko untuk mengalami keparahan maupun kematian akibat infeksi influenza,” ujarnya.

Menurutnya, risiko tersebut tidak hanya berlaku pada kasus “super flu” atau influenza subklade tertentu, tetapi juga pada influenza musiman secara umum, bahkan pada penyakit infeksi seperti Covid-19. Hal ini disebabkan oleh kondisi tubuh penyandang komorbid yang lebih rentan mengalami komplikasi berat.

“Orang dengan komorbid akan mengalami gejala influenza yang lebih berat dan berisiko mengalami komplikasi, bukan hanya pneumonia, tetapi juga gagal napas, sepsis, hingga kematian,” jelasnya.

Mekanisme Biologis yang Membuat Pasien dengan Komorbid Rentan

Dicky memaparkan, secara biologis dan klinis terdapat beberapa mekanisme utama yang membuat pasien dengan komorbid lebih rentan. Pertama, respons imun yang terganggu. Penyakit seperti diabetes, jantung, gagal ginjal, kanker, hingga obesitas dapat menyebabkan sistem kekebalan tubuh tidak bekerja optimal.

“Obesitas itu termasuk penyakit. Kondisi-kondisi ini membuat respons imun tidak optimal, sehingga virus influenza bisa bereplikasi lebih cepat dan lebih sulit dikendalikan oleh tubuh,” katanya.

Kedua, pasien dengan komorbid umumnya memiliki cadangan fungsi organ yang lebih rendah. Ketika influenza menyerang paru-paru atau sistem pernapasan, tubuh tidak mampu mengompensasi stres akibat infeksi, sehingga lebih mudah mengalami hipoksia dan kegagalan organ.

Selain itu, influenza berat juga dapat memicu inflamasi sistemik berlebihan atau badai sitokin, seperti yang pernah terjadi pada kasus Covid-19. “Pada pasien dengan komorbid, kondisi ini dapat memperparah kerusakan jaringan dan meningkatkan risiko kegagalan multiorgan,” ucap Dicky.

Interaksi Antara Virus dan Komorbid

Dalam konteks kasus pasien super flu yang meninggal dunia di Indonesia, Dicky menilai kematian tersebut lebih mungkin disebabkan oleh interaksi antara infeksi virus influenza dan kondisi dasar pasien.

“Secara epidemiologis, ini lebih mungkin akibat kombinasi virus influenza dengan komorbid yang dimiliki pasien, bukan semata-mata karena virus baru yang lebih ganas,” ujarnya.

Ia menegaskan, pola seperti ini sebenarnya dapat terjadi setiap tahun pada musim influenza, termasuk di negara maju, bukan hanya di Indonesia.

Flu Bisa Sangat Berbahaya Bagi Kelompok Tertentu

Dari sisi kesehatan masyarakat, Dicky menekankan pentingnya perlindungan ekstra bagi kelompok berisiko tinggi, seperti lansia, penderita penyakit kronis, ibu hamil, individu dengan imunitas rendah, serta anak-anak, terutama balita.

“Strategi pencegahan utama adalah vaksinasi influenza rutin setiap tahun bagi kelompok berisiko. Selain itu, penting juga deteksi dan pengobatan dini, serta kebiasaan memakai masker saat sakit atau berada di lingkungan dengan banyak orang sakit,” katanya.

Ia juga mengingatkan pentingnya meningkatkan literasi publik bahwa flu bukanlah penyakit ringan bagi semua orang. “Flu bisa sangat berbahaya bagi kelompok berisiko dan dapat menyebabkan keparahan hingga kematian,” tegas Dicky.

Data Global tentang Dampak Influenza

Sebagai gambaran, ia menyebutkan bahwa secara global, influenza musiman dapat menginfeksi puluhan juta orang setiap tahun. Di Amerika Serikat (AS) saja, kata Dicky, angka kematian akibat influenza mencapai sekitar 50.000 orang per tahun, dengan tingkat kematian kasus (case fatality rate) sekitar 0,1 persen.

“Sekitar 16 persen pasien influenza yang dirawat harus masuk ICU, dan sekitar 6 persen membutuhkan ventilator. Bahkan hampir 90 persen pasien rawat inap akibat influenza memiliki setidaknya satu kondisi komorbid,” jelasnya.

Karena itu, ia kembali menekankan bahwa upaya perlindungan terhadap kelompok berisiko, terutama melalui vaksinasi, merupakan langkah paling krusial untuk menekan dampak serius influenza.

“Saran saya, sekali lagi, bahwa mereka ini (kelompok berisiko) harus divaksinasi,” pungkasnya.

Muhammad Muhlis

Jurnalis digital yang menaruh perhatian besar pada perkembangan teknologi dan komunikasi. Ia senang membaca jurnal ilmiah, mencoba aplikasi baru, dan melakukan riset kecil untuk mempertajam analisis. Hobinya termasuk bermain catur dan mendengarkan musik klasik. Motto: "Pemahaman mendalam menghasilkan berita yang bernilai."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *