Memahami Proses Move On Setelah Putus Cinta
Move on atau bangkit setelah putus cinta bisa menjadi langkah penting dalam menghadapi kesedihan. Dengan melakukan ini, seseorang tidak akan terjebak dalam rasa sedih yang berlarut-larut dan dapat kembali menjalani kehidupan dengan beban emosional yang lebih ringan. Banyak orang ingin segera move on, tetapi pertanyaannya adalah, berapa lama waktu ideal untuk melakukannya?
Menurut pendiri Cup of Stories, Fitri Jayanthi, M.Psi., Psikolog, tidak ada batasan pasti tentang lamanya proses move on. Dalam sesi Kelas Kehidupan Cup of Stories bertajuk “Menentukan Langkah Setelah Mengalami Kegagalan Berhubungan” via Zoom, ia menjelaskan bahwa setiap individu memiliki cara dan waktu yang berbeda dalam memulihkan diri.
Melangkah Maju: Tidak Instan, Tapi Bisa Dilakukan
Melangkah maju setelah putus cinta tidak seperti melangkah di dunia nyata, di mana kamu tidak bisa langsung sampai ke tujuan hanya dalam satu langkah. Dalam sebuah hubungan, perasaan dan kenangan terhadap mantan pasangan tidak akan hilang begitu saja.
Fitri menjelaskan bahwa kita tidak mungkin tiba-tiba benar-benar “berpindah”, tetapi kita belajar untuk melangkah maju sambil membawa rasa sakit dan pengalaman masa lalu ke masa depan. Proses ini bukanlah perlombaan, jadi kamu tidak perlu terburu-buru merasa “sembuh” atau memaksa diri agar segera merasa baik-baik saja.
Cara Mempercepat Proses Move On
Meskipun proses move on tidak instan, kamu bisa mempercepatnya dengan beberapa langkah. Salah satunya adalah dengan menceritakan kisah hubunganmu yang telah kandas dengan cara yang bijak. Meski bercerita bisa membantu melepas emosi, kamu tidak perlu menceritakannya kepada banyak orang secara terus-menerus.
Bercerita terlalu sering bisa membuat orang lain hanya ingin tahu, bukan membantu mengurangi beban emosionalmu. Selain itu, selalu mengulang kenangan pahit juga bisa memicu emosi negatif setelah putus.
“Pengulangan ini, membicarakan lagi tentang permasalahan kita, mengingat-ingat lagi, itu akan semakin kuat memorinya, perasaannya, dan itu yang membuat kita jadi semakin berat (melangkah maju),” ujar Fitri.
Jika kamu ingin bercerita, sebaiknya lakukanlah kepada tenaga profesional yang bisa membantu mengurai emosi negatif dan memberi solusi.
Bijak Mengelola Proses Penyembuhan
Selanjutnya, kamu perlu lebih bijak dalam mengelola proses penyembuhan. Hal ini melibatkan penghindaran terhadap hal-hal yang bisa memicu ingatan dan emosi negatif. Kamu perlu mengetahui apa saja yang bisa memicu perasaan buruk, seperti media sosial mantan pasangan, foto-foto bersama, lagu yang dulu sering didengar, atau tempat yang sering dikunjungi saat masih pacaran.
“Semua pemicu itu harus diidentifikasi, dan perlu untuk sementara waktu dihindari sampai kita benar-benar siap. Bukan berarti kita harus menghindari itu seumur hidup juga,” kata Fitri.
Karena jika seseorang terus menghadapi pemicunya, kegagalan dalam berhubungan malah bisa menimbulkan trauma. Selain itu, kamu juga bisa melakukan sabotase diri atau menelantarkan diri. Jika kamu tahu ada hal yang bisa membuatmu tidak nyaman dan memiliki emosi negatif yang tidak enak, tapi kamu terus menghadapinya, itu disebut tidak menghargai diri sendiri.
“Untuk melangkah maju, kita enggak perlu terburu-buru untuk menyelesaikan itu semua. Kita perlu untuk lebih bijaksana dalam menghindari pemicu-pemicu ini, dan mengurangi untuk memperkuat memori dan perasaan itu sendiri,” tambah Fitri.
Kesimpulan
Dengan kata lain, melangkah maju setelah mengalami hubungan yang gagal adalah proses bertahap yang membutuhkan kesabaran. Rasa sakit, memori, dan pengalaman masa lalu akan tetap ada, tetapi tidak lagi mengendalikan kehidupan seseorang. Move on bukanlah tentang melupakan, melainkan tentang tetap hidup dan bertumbuh, sambil membawa pengalaman masa lalu dengan cara yang lebih sehat.
Seorang jurnalis online yang gemar membahas tren baru dan peristiwa cepat. Ia menyukai fotografi jalanan, nonton dokumenter, dan mendengar musik jazz sebagai relaksasi. Menulis baginya adalah cara memahami arah dunia. Motto hidupnya: "Setiap berita harus memberi manfaat, bukan sekadar informasi."











