Cerita Pandi, Seorang Pria Paruh Baya yang Bertahan di Tengah Keterbatasan
Di sebuah rumah kayu sederhana yang berada di Jalan Penantian, RT 10 RW 05, Kelurahan Pematang Gubernur, Kecamatan Muara Bangkahulu, Kota Bengkulu, tinggal seorang pria paruh baya bernama Pandi. Di tengah keterbatasan hidupnya, ia terus berjuang demi dua anak perempuannya.
Pandi tidak lahir di Bengkulu. Dulu, ia berasal dari Pulau Jawa dan datang ke kota ini dengan niat untuk bekerja dan mengubah nasib. Ia awalnya tinggal bersama orang bernama Pak Rustam, yang membantunya bekerja di rumahnya. Sejak akhir tahun 1988, ia mulai menjalani hidup yang penuh perubahan, pernah menyewa rumah, lalu menumpang di rumah warga, hingga akhirnya menetap di tempatnya sekarang.
Dulu, Pandi bekerja sebagai buruh bangunan dengan upah harian sebesar Rp 125 ribu. Ia menyisihkan uang tersebut untuk membeli bibit ayam kampung, berharap bisa mendapatkan tambahan penghasilan. Namun, hidupnya berubah drastis ketika penyakit datang. Saraf yang terjepit membuat tubuhnya lumpuh perlahan. Lima tahun terakhir, ia bahkan tidak bisa lagi bekerja atau berjalan.
Cobaan terberat datang pada Maret 2019, ketika istri Pandi meninggal dunia setelah sakit cukup parah. Untuk biaya pengobatan sang istri, sebidang tanah yang mereka miliki harus dilepas. Kini, Pandi tinggal bertiga bersama dua anak perempuannya. Keterbatasan ekonomi membuat keduanya terpaksa berhenti sekolah. Anak pertama berhenti di Sekolah Menengah Pertama (SMP), sedangkan yang kedua berhenti di Sekolah Dasar kelas 3.
Ayam-ayam peliharaan yang dulu menjadi harapan kini satu per satu dijual untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Pandi mengandalkan bantuan pemerintah dan kepedulian warga sekitar. Meski hidupnya tidak mudah, secercah harapan masih ada. Dari bantuan yang diterima, anaknya membeli 60 ekor ayam agar mereka bisa kembali beternak, meski dalam keterbatasan.
Di rumah kayu itu, Pandi belajar menerima keadaan. Dalam keterbatasan, ia terus bertahan demi dua anak perempuannya dan harapan akan hari esok yang lebih baik.
Kisah Lain: Kakek Suheni yang Tinggal Sendirian
Sebelumnya, kisah seorang warga bernama Kakek Suheni juga menjadi sorotan. Ia tinggal sendirian di rumah kumuh dan sempit di Kampung Batu Colat, Desa Cikangkung, Kecamatan Ciracap, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Kakek Suheni berusia 75 tahun dan hidup sebatang kara setelah bercerai 10 tahun lalu.
Untuk kehidupan sehari-hari, ia hanya mengandalkan belas kasihan dari tetangga. Sukenah (55), salah satu tetangganya, kerap membantu Suheni, baik dalam hal makanan maupun minuman. Selain Sukenah, tetangga lain juga sering membantu Suheni.
Sukenah menjelaskan bahwa Suheni tidak memiliki anak, sehingga tetangga yang merawatnya. Saat sakit, Suheni sering dibantu oleh tetangganya. Apalagi kondisinya sudah pikun. Suheni sering bepergian sendiri dan kerap dibawa kembali pulang oleh tetangganya ke rumah sempit yang menjadi tempat tinggalnya.
Suheni jarang mendapatkan bantuan dari pemerintah. Sukenah berharap pemerintah hadir memberikan bantuan kepada Suheni agar bisa hidup layak di masa tuanya ini. Ia berharap ada yang bisa merawat Suheni, sehingga kehidupannya menjadi lebih baik.











