
Di tengah kesibukan kegiatan kampus, saya dan rekan mahasiswa lainnya bergegas menuju masjid yang terletak di sebelah gedung tempat kami menempuh kuliah. Ini adalah waktu yang tepat untuk berdoa dan melepas penat setelah menjalani rutinitas yang melelahkan di dalam kelas.
Setelah melaksanakan ibadah salat dhuhur, tampak sebagian mahasiswa duduk diam di serambi masjid. Saya yang melihat hal itu lantas memutuskan untuk tidak langsung kembali ke kelas dan turut duduk di antara teman-teman baru yang tidak saya kenal.
Sebagai mahasiswa semester pertama, saya telah menghadapi berbagai tantangan dan rintangan di dunia perkuliahan. Beragam culture shock telah kita alami setelah melewati masa transisi dari siswa SMA menuju mahasiswa.
Menurut Sarwono (1978), mahasiswa adalah seseorang yang secara resmi terdaftar untuk mengikuti pelajaran di perguruan tinggi dengan batas usia sekitar 18-30 tahun. Tentu saja, kita tidak boleh meremehkan status sebagai mahasiswa ini.
Saya pernah memandang sebelah mata istilah “mahasiswa” sebagai seorang pelajar yang hidupnya tidak lagi dibelenggu aturan ketat seperti pada siswa sekolah menengah. Bagi siswa SMA, tata tertib sering menjadi hal yang paling diperhatikan dalam kehidupan mereka. Contohnya, saat mengingat momen-momen di bangku SMA, mungkin sebagian dari kita akan langsung mengingat saat terjaring razia rambut atau atribut seragam.
Namun, ironisnya bagi sebagian pelajar di Indonesia, tata tertib di sekolah menengah justru tidak membuat mereka merasa gentar, meskipun aturan tersebut sudah disosialisasikan berkali-kali dan ada kasus nyata siswa yang terjaring razia. Mereka justru menjadikan hal tersebut sebagai bagian dari episode kehidupan yang mereka lalui, dengan kata lain hanya mengikuti arus.
Meski hal tersebut tidak dapat dibenarkan, terlebih tata tertib sekolah dibuat untuk menumbuhkan kedisiplinan diri dengan menciptakan lingkungan belajar yang aman, tertib, dan kondusif. Namun, kini saya menyadari adanya sedikit disparitas sosial antara kehidupan mahasiswa dan siswa di sekolah menengah.
Banyak mahasiswa, baik yang baru memasuki semester satu maupun yang lebih tinggi, mengalami fenomena depresi akut. Aaron T. Beck (1967) menggambarkan depresi sebagai perubahan spesifik menuju suasana hati negatif (sedih, kecewa), konsep diri negatif, keinginan menghukum diri, dan kemunduran fungsi vegetatif (fisik).

Saya kemudian mengingat kembali berbagai peristiwa pada masa awal menginjakkan kaki di Universitas Jember. Beberapa di antara mahasiswa baru merasakan banyak tekanan yang menghunjam jiwa setelah memulai kehidupan di tengah kesendirian. Bangun pagi bahkan sebelum waktu fajar menyingsing harus dilewati dengan gundah gulana.
Ada yang mengawali hari pertama PKKMB (pengenalan kehidupan kampus bagi mahasiswa baru) dengan keterlambatan. Meski tidak ada konsekuensi yang cukup berarti bagi reputasi, hal tersebut tetap dipandang sebagai awal yang buruk, terlebih ini adalah hari pertama di kampus yang seharusnya diawali dengan kedisiplinan.
Pada hari kedua, pagi dimulai dengan pemaparan materi dasar tentang kehidupan perkuliahan oleh seorang dosen yang sampai sekarang masih saya ingat nama dan wajahnya. Sapaan akrab beliau adalah Pak Kendid, dosen dari prodi pendidikan fisika.
Di tengah pemaparan materi, Pak Kendid menceritakan pengalamannya di pagi itu sebelum masuk kelas. Beliau bertemu dengan seorang mahasiswa yang tengah dirawat pasca jatuh sakit saat PKKMB. Mahasiswa tersebut terus terang jika dirinya tidak sarapan sebelum berangkat ke kampus karena tidak terbiasa menyiapkan sarapan secara mandiri.
Berita tersebut memicu beragam respon dari teman-teman di kelas, termasuk saya sendiri. Namun, dari kisah itu dapat disimpulkan bahwa mahasiswa tersebut kesulitan beradaptasi di lingkungan baru.
Hal ini bisa terjadi karena mahasiswa baru belum memiliki kemandirian adaptif yang memadai saat menghadapi transisi besar dalam hidupnya. Ketika seseorang terbiasa dipenuhi kebutuhan dasarnya oleh orang tua termasuk menyiapkan sarapan—tiba-tiba harus mengelolanya sendiri, tubuh dan pikiran dapat mengalami stres yang signifikan. Lantas adakah kaitan antara depresi dan kesulitan beradaptasi di lingkungan baru?
Mahasiswa sering mengalami kesulitan beradaptasi di lingkungan baru karena adanya perubahan besar dalam berbagai aspek kehidupan, seperti tuntutan akademik yang lebih tinggi, metode pembelajaran yang berbeda, serta tingkat kemandirian yang tinggi dibandingkan jenjang pendidikan sebelumnya. Selain itu, perbedaan budaya, latar belakang sosial, bahasa, dan kebiasaan dengan lingkungan asal dapat menimbulkan rasa canggung atau keterasingan. Faktor psikologis seperti rasa takut gagal, kurang percaya diri, homesick, serta tekanan untuk membangun relasi sosial baru juga memperberat proses adaptasi.
Ketika seseorang tidak mampu menyesuaikan diri dengan perubahan atau tuntutan baru—seperti lingkungan kerja, sekolah, relasi, atau peristiwa hidup yang besar—stres emosional dapat menumpuk dan menurunkan rasa kontrol serta kepercayaan diri. Kondisi ini sering memicu perasaan gagal, tidak berdaya, dan putus asa, yang jika berlangsung lama dapat berkembang menjadi depresi. Depresi juga dapat memperburuk kemampuan beradaptasi karena menurunkan energi, motivasi, dan fleksibilitas berpikir, sehingga tercipta lingkaran yang saling memperkuat antara kesulitan beradaptasi dan depresi. Depresi bukan tanda lemah dan bukan pula salah individu. Ia adalah kondisi kesehatan mental yang nyata dan bisa dialami siapa saja.
Krisis Identitas
Problematika selanjutnya adalah ketika mahasiswa mulai merasa kehilangan arah dan bingung akan tujuan hidupnya. Krisis identitas muncul pada masa transisi penting seperti remaja menuju dewasa, masuk kuliah, atau mulai bekerja. Saya yang kini tengah menempuh kuliah S1 kerap merasakan hal demikian. Seharusnya tidak usah kuliah, tapi kerja saja. Saya juga tidak sendirian, karena teman sekelas saya juga banyak yang merasa salah jurusan.
Di minggu kedua perkuliahan, dosen saya (sapa saja Pak Rudi) menceritakan kisahnya selama mengarungi bumi nusantara hingga meraih gelar doktoral di Universitas Malang. Ada perbedaan antara fase hidup saya dengan Pak Rudi. Perbedaan paling besar bukan pada kecerdasan, bakat, atau takdir, tetapi pada fase kehidupan. Mahasiswa S1 berada di fase eksplorasi, yakni mencari jati diri, mencoba memahami dunia, dan mempertanyakan pilihan. Sementara Pak Rudi sudah berada di fase konsolidasi, artinya beliau sudah menemukan jalur, memperdalamnya, dan memanen hasil dari konsistensi. Mereka yang terlihat “yakin” hari ini juga pernah berada di fase bingung, hanya saja orang-orang tidak melihat masa itu.
Kalimat itulah yang kini mengubah pandangan hidup saya tentang perkuliahan. Menurut saya, hikmah dari berkuliah tidak hanya terletak pada gelar atau pekerjaan yang didapat setelah lulus, tetapi pada proses pembentukan diri yang terjadi selama menjadi mahasiswa. Intinya, kuliah adalah investasi jangka panjang. Tidak semua hasilnya langsung terlihat, tetapi dampaknya bisa sangat besar di masa depan. Karena pada akhirnya, hidup bukan tentang siapa yang paling cepat, tetapi siapa yang paling siap dan bertahan.
Selamat Menikmati Liburan Semester
Reporter digital yang menggemari berita olahraga, kegiatan komunitas, dan isu pergerakan anak muda. Ia hobi berlari pagi, bermain badminton, dan menonton pertandingan olahraga. Ketika istirahat, ia menyukai membaca artikel inspiratif. Motto: “Semangat dalam berita harus sama kuatnya dengan semangat di lapangan.”









