Perayaan Epifani dan Makna Penampakan Tuhan
Pada hari ini, Gereja Katolik merayakan Hari Raya Penampakan Tuhan atau yang dikenal dalam bahasa Yunani sebagai “Epiphaneia”. Perayaan ini biasanya jatuh pada 6 Januari dan menggambarkan tiga manifestasi Yesus: pertama, sebagai Tuhan yang dihormati oleh para Majus dari Timur; kedua, sebagai manusia yang menerima baptisan dari Yohanes; ketiga, sebagai pemberi mukjizat yang mengubah air menjadi anggur di Pesta Pernikahan di Kana.
Liturgi Gereja khususnya mengingatkan kita pada “manifestasi pertama”, yaitu saat Yesus tampil sebagai Tuhan dan diberi penghormatan oleh para Majus. Nabi Yesaya telah memperkirakan hal ini dengan berkata, “Bangkitlah, menjadi teranglah sebab terangmu datang dan kemuliaan Tuhan terbit atasmu.” Dalam terang-Nya, bangsa-bangsa dan raja-raja akan berduyun-duyun datang kepada terang-Nya dan raja-raja menyongsong cahaya yang terbit dari-Nya.
Dua Potret Manusia dalam Injil
Dalam Injil pada Hari Raya Penampakan Tuhan, terdapat dua potret manusia yang berbeda. Gambaran pertama adalah orang-orang yang berhati tulus mencari Allah seperti para Majus dari Timur. Mereka adalah orang besar, ahli astrologi, dan sering disebut sebagai orang pintar. Namun, mereka memiliki hati yang tulus dan jujur. Mereka rela meninggalkan negeri asalnya hanya untuk mencari Tuhan. “Di manakah Dia, raja orang Yahudi yang baru dilahirkan itu? Kami telah melihat bintang-Nya di Timur dan kami datang untuk menyembah Dia” (Mat 2:2).
Gambaran kedua adalah orang-orang yang berhati jahat dan tidak percaya kepada Allah, seperti Raja Herodes. Ia berpura-pura baik dan mau menyembah Sang Bayi Yesus, tetapi niatnya jahat. Ia ingin membunuh-Nya karena kehadiran-Nya dianggap mengancam kuasanya.
Bintang dan Petunjuk Tuhan
Warta kelahiran Tuhan Yesus disampaikan bukan hanya kepada para gembala, tetapi juga kepada para Majus dari Timur. Mereka mengetahui kelahiran Raja orang Yahudi karena melihat “bintang-Nya muncul di langit”. Bintang ini muncul waktu Yesus dilahirkan, hanya mereka tidak tahu di mana persisnya Raja baru itu dilahirkan. Itulah sebabnya, mereka pergi ke Yerusalem untuk menanyakan peristiwa itu.
Raja Herodes sangat terkejut mendengar berita itu, dan seluruh Yerusalem gempar. Para ahli Kitab dipanggil untuk bertanya di manakah Mesias itu dilahirkan. Ini bukan hanya masalah politik, tetapi juga teologis karena Raja orang Yahudi yang baru lahir ini adalah Raja hebat yang dinanti-nantikan umat.
Hati yang Tulus dan Jujur
Para Majus tidak hanya datang mau menyembah-Nya, tetapi juga sebagai orang yang terpandang, mereka mempersembahkan segala yang dimiliki. Persembahan mereka adalah emas, dupa, dan mur yang melambangkan bahwa Yesus adalah Raja, ke-Allahan-Nya, dan kematian-Nya yang menyelamatkan.
Hati Herodes tidak sabar untuk segera mengetahui identitas Sang Raja baru itu. Ia memanggil para sarjana dari Timur dan menyuruh mereka mencari Anak itu dengan saksama. Padahal ia sudah berniat jahat terhadap Bayi itu; dia ingin membunuh-Nya. Ini menunjukkan bahwa setiap orang yang kurang berpengalaman dalam memimpin atau memiliki sedikit kekuasaan pasti harus waspada.
Natalnya Para Bangsa
Pada hari Raya Epifani ini, kita merayakan Natal yang dirayakan hari ini adalah Natalnya para bangsa. Para bangsa pun turut bersukacita karena diberi anugerah untuk datang menyembah Yesus di Betlehem. A. Berthold Pareira menjelaskan bahwa sebelum suku-suku bangsa kita menjadi Kristen, Allah telah berbicara kepada kita melalui bimbingan bintang, tetapi di mana Yesus berada kita belum tahu. Kita adalah orang Majus. Sekarang kita pun diberitahu bahwa Yesus dilahirkan di Betlehem, Dia menjadi Raja kita, dan Dialah yang memenuhi segala kerinduan, dambaan hati kita.
Manusia, Insan Peziarah yang Terus Mencari Tuhan?
Sebagai manusia, selama kita masih berziarah di bumi, kita pun adalah orang-orang yang sedang berada dalam suatu upaya untuk mencari sesuatu dalam hidup kita. Seperti para Majus, mereka pun berjalan jauh mencari Tuhan dan mau menyembah-Nya. Kita pun, dalam hidup ini, perlu terus belajar mencari Tuhan, tidak hanya sekali, dua kali, tetapi setiap detik, setiap waktu.
Kita perlu belajar banyak dari sikap para Majus yang mencari Tuhan yang baru lahir itu. Mereka adalah orang besar, orang pintar sebagaimana di tengah-tengah kita ada orang besar yang memiliki kuasa dalam pemerintahan. Ada banyak orang yang memiliki pendidikan tinggi dan bergelar, namun tidak semuanya mereka memiliki hati dan sikap yang tulus seperti para Ahli, para Sarjana dari Timur itu. Para Majus adalah orang hebat, pintar yang berhati jujur dan tulus.
Catatan Akhir
Sikap tulus dan jujur seperti para Sarjana dari Timur itu kiranya tertanam juga di dalam hati kita. Siapapun boleh berkuasa, memerintah, memimpin dan pintar, namun jika hatinya selalu angkuh, sombong dan tidak pernah rendah hati, jujur dan tulus, maka itu suatu kesia-siaan belaka. Justru itu menampakkan spirit keangkuhan seperti Herodes. Hati yang jujur dan tulus itulah hati yang sangat dirindukan Tuhan.
Akhirnya, harus dicatat pula bahwa “ada banyak orang Majus di zaman kita” yang ingin menyembah Yesus, tetapi belum tahu di mana Dia dilahirkan. Tantangan yang harus mereka hadapi amatlah besar. Maka berhadapan dengan orang-orang yang demikian, kita juga dipanggil untuk mendoakan mereka agar mereka pun mau digerakkan hatinya dalam mencari dan menyembah Yesus. Dialah Raja itu, yang telah lahir bagi kita dan hari ini menampakan Diri-Nya kepada para bangsa, dan juga kepada kita sekalian di tempat di mana Dia datang dan tinggal di tengah-tengah kita.











