My WordPress Blog
Budaya  

Menggali pesona budaya di Masjid Jami’ Pekojan, Semarang



Langit masih menyisakan sedikit terang kala petugas masjid menyalakan lampu-lampu. Sinar kuning yang menyoroti gerbang, membuat ukiran kaligrafi berwarna keemasan terlihat hangat. Menyambut, sekaligus menandai pergantian waktu dari siang menuju malam.

Seorang jamaah pria berjalan melewati gerbang. Kemeja koko putih dan kain sarung yang menjadi penanda identitas, menghias langkahnya menuju selasar. Sementara saya masih berdiri, menikmati suara muadzin mengumandangkan adzan.

Masjid Jami’ Pekojan telah sejak lama ingin saya singgahi. Sebagai tempat ibadah umat muslim, masjid ini memiliki jejak akulturasi budaya dan tradisi yang masih lestari.

Ada sumber yang memberitakan bahwa masjid ini didirikan pada tahun 1878 oleh Syeh Latief, seorang tokoh pedagang dari Gujarat. Ada pula yang memberitakan bahwa masjid didirikan oleh sekelompok pedagang dari Gujarat. Yang pasti, setelah berada di lokasi, saya takjub melihat bangunan masih terawat dengan sangat baik. Usianya sekitar 147 tahun atau hampir 1,5 abad. Masjid Jami’ Pekojan telah diresmikan sebagai bangunan cagar budaya pada tanggal 4 Februari 1992 oleh Pemerintah Kota Semarang.

Rute Menuju Masjid Jami’ Pekojan

Rute yang saya tempuh menuju Masjid Jami’ Pekojan sangat mudah. Jaraknya pun cukup dekat, hanya sekitar 550 meter dari Kota Lama Semarang. Dari Gereja Blenduk, saya berjalan lurus ke selatan. Menyusuri Jalan Suari hingga bertemu perempatan besar. Lanjut lurus menyusur Jalan Pekojan, hingga bertemu gang ke kiri bernama Jalan Petolongan. Masjid berada di sisi kiri jalan.

Tepatnya, Masjid Jami’ Pekojan berada di Jalan Petolongan No.1, Kampung Pekojan, Kelurahan Purwodinatan, Kecamatan Semarang Tengah, Kota Semarang.

Akulturasi Budaya dan Tradisi Kuliner yang Dilestarikan

Satu di antara keistimewaan masjid ini adalah adanya jejak akulturasi budaya multietnis. Dan bila bicara tentang kuliner, ada tradisi yang masih diletarikan hingga saat ini. Setiap hari saat bulan Ramadan, pihak masjid memasak dan membagikan bubur India sebagai hidangan buka puasa kepada jamaah serta masyarakat umum.

Nah, mengapa bubur India? Rupanya, pada zaman dahulu banyak musafir singgah dan berbuka puasa di masjid. Kebanyakan dari mereka membawa bubur. Tradisi berbuka puasa dengan bubur lantas dilestarikan hingga saat ini. Meski asal muasal penamaan “bubur India” sendiri, belum ada yang mengetahui secara pasti.

Bubur dimasak dalam kuali besar oleh petugas juru masak. Ia akan mengaduk adonan berupa beras bersama santan dan bumbu rempah. Bumbu tersebut di antaranya: bawang, daun salam, daun pandan, serai, jahe. Pengaduk kayu ia gunakan untuk meratakan semua bahan. Masa pemasakan hingga matang menjadi bubur lamanya sekitar satu jam, menggunakan tungku pengapian kayu bakar.

Wah, saya penasaran seperti apa tampilan dan rasanya. Sungguh beruntung, saya singgah saat bulan belum Ramadan, jadi belum dapat icip kuliner tradisi masjid. Yang ada sekarang, rasa penasaran jadi makin tambah ya.

Kaum Koja, Kampung Pekojan, dan Masyarakat Multietnis

Ada sumber yang menyebutkan bahwa Koja merupakan desa kuno di India. Namun, ada juga sumber yang menyebutkan bahwa Koja adalah etnis, sekelompok masyarakat India muslim yang bermukim di Gujarat, India bagian barat. Kaum Koja masuk ke Indonesia sebagai pendatang. Mereka berdagang dan tinggal menetap di area pesisir, dekat pusat pemerintahan dan perdagangan. Selain berdagang, mereka datang membawa ajaran agama Islam.

Di era kolonial, Kampung Pekojan merupakan bagian dari kebijakan pengelompokan etnis yang diterapkan oleh pemerintah Hindia Belanda. Seperti halnya Kampung Pecinan (terletak berdekatan) yang dihuni mayoritas masyarakat Tionghoa. Kampung Pekojan berkembang menjadi pemukiman bagi pedagang muslim dari India dan keturunan Arab. Mereka berkomunitas dan membangun berbagai infrastruktur. Satu di antaranya adalah Masjid Jami’ Pekojan.

Sesuai namanya “jami’ yang artinya berkumpul, yang mengumpulkan”, masjid ini dibangun dengan tujuan mengumpulkan umat. Sebagai tempat ibadah salat harian, salat jumat, sekaligus sebagai pusat dakwah, pendidikan, dan kegiatan masyarakat.

Kembali ke kebijakan pemerintah Hindia Belanda dan kehidupan multietnis di kawasan Semarang. Meski etnis satu dengan lainnya diatur dalam pengelompokan, hubungan antara komunitas multietnis berjalan harmonis. Bisa dilihat pada arsitektur, interior, dan ornamen yang menghiasi masjid.

Arsitektur dan Ornamen

Bila melihat arsitektur dan interior masjid, kita dapat merasakan adanya akulturasi dari interaksi budaya multietnis. Ada pengaruh budaya Pakistan, India, Tionghoa, Eropa, dan tentunya Jawa.

  • Tiang utama – Budaya Jawa

    Budaya Jawa terlihat dari empat tiang utama (saka guru) yang menopang bangunan. Model tiang seperti ini bisa ditemukan pada masjid-masjid Jawa kuno (kecuali Masjid Saka Tunggal di Banyumas yang hanya memiliki satu tiang penyangga).

  • Interior – Budaya Pakistan

    Budaya Pakistan terlihat dari interior yang mengedepankan fungsi. Bertema klasik minimalis, bersifat agung dan monumental. Berbeda dengan arsitektur India yang era itu menampilkan detail nuansa mewah.

  • Keramik – Budaya Tionghoa

    Budaya Tionghoa terlihat dari keramik-keramik yang ditempatkan dengan cara ditempel dan disemen ke dinding. Ada makna filosofis penggunaan keramik seperti: lambang kemakmuran, keberuntungan, harapan, dan nilai sosial budaya.

  • Kaca patri – Budaya Eropa

    Kaca patri telah mulai digunakan sejak abad ke-7 pada arsitektur Islam. Di masjid ini, kaca patri warna warni terdapat pada daun pintu dan celah di atas pintu. Ornamen bentuk geometris bintang segi delapan, melambangkan keseimbangan, kejayaan, ilmu pengetahuan, dan kebermanfaatan yang memancar ke segala penjuru (rahmatan lil’alamiin).

  • Pintu ganda – Era Kolonial

    Pintu kayu khas era kolonial mengedepankan fungsi, estetika, efisiensi, dan privasi. Ukuran kusen tinggi, berhias kaca patri dan ukiran kipas pada daun pintu, juga teralis angin-angin besi bentuk bunga untuk sirkulasi udara.

Usai Salat Magrib

Suasana berganti setelah alunan doa-doa usai salat di-aamiin-kan oleh para jamaah. Saat ini, bentangan tirai putih yang menjadi pembatas di tengah ruang, menampilkan bayang siluet beberapa jamaah pria melangkah menuju pintu keluar. Sementara jamaah wanita yang berjumlah tak sampai sepuluh orang, semua beranjak, kecuali satu orang, saya.

Ada yang sedang saya buru dan itu bukan waktu. Ada yang sedang saya cari, sangat mungkin dapat saya temui di sini. Tempat ibadah merupakan tempat suci. Tempat di mana seorang hamba bisa merasakan ketenangan. Merasakan “pulang, kembali ke rumah”. Tempat di mana kehangatan, kasih, dan sebaik-baik perlindungan berasal dari Sang Maha Esa.

Lantunan suara pria usia remaja dan dewasa mengaji, saya dengar rengeng-rengeng (bahasa Jawa, artinya: samar-samar atau lirih). Masjid adalah tempat di mana para pemakmurnya berkumpul. Juga tempat bagi para musafir untuk singgah sejenak, merasakan kembali energi kehidupan.

Saya melihat sekeliling. Melihat bagaimana para pemakmur masjid menjaga warisan. Kebersihan tempat, penerangan cukup, dan perlengkapan yang mendukung kenyamanan beribadah. Misalnya, mereka memilih instalasi pendingin portable, diletakkan di atas lantai. Alih-alih pendingin pada umumnya yang secara fisik menempel di dinding. Pemasangan instalasi pendingin ruangan pada umumnya, akan memerlukan pembobokan tembok sehingga tidak dipilih. Mereka menjaga keutuhan dan keaslian bangunan yang telah resmi menjadi cagar budaya.

Penutup

Keberadaan masjid yang berkaitan erat dengan Kaum Koja, para pedagang muslim India, telah menjadi bagian dari sejarah Kota Semarang. Adanya perdagangan, migrasi, kehidupan berkelompok dan bersosialisasi, membentuk identitas suatu kawasan, Kampung Pekojan.

Bangunan Masjid Jami’ Pekojan menyimpan nilai sejarah dan budaya yang perlu terus dilestarikan. Juga menjadi pengingat, bahwa jejak kehidupan multietnis yang bersanding dan diabadikan, membawa filosofi luhur yang bermanfaat bagi kehidupan. Nuansa akulturasi budaya yang hadir pada sebuah masjid, diharap dapat menambah kecintaan, semangat, dan kekhusyuan beribadah.

Terima kasih. Salam hangat.

Catatan perjalanan. Semarang, 16 Agustus 2025.

Amirah Rahimah

Reporter berita perkotaan yang gemar berkeliling kota untuk mencari cerita. Ia menikmati fotografi gedung, membaca artikel arsitektur, dan menyusun catatan kecil tentang perubahan kota. Hobi lainnya adalah menikmati kopi di kedai lokal. Motto: “Kota bicara melalui cerita warganya.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *