My WordPress Blog

Selamat Tahun Baru 2026: Momen Refleksi Diri

Mempertahankan Waktu dengan Kesadaran dan Kesiapan

Waktu adalah sesuatu yang sangat berharga, namun sering kali kita meremehkannya. Tahu-tahu kita sudah berada di tahun baru 2026. Rasanya baru kemarin kita merayakan tahun baru 2025, tetapi sekarang sudah berganti lagi. Begitu cepat waktu berlalu, bahkan lebih cepat dari yang kita bayangkan. Tidak ada kesempatan yang datang dua kali. Jika tidak dimanfaatkan, maka yang datang adalah penyesalan.

Ada ungkapan terkenal dari orang Arab yang mengatakan, “Al-waqtu kassaif, fa in lam taqtha’hu qatha’aka” (waktu seperti pedang, jika tidak anda gunakan untuk memotong, maka anda yang akan terpotong). Para pengusaha mengatakan, “time is money” (waktu adalah uang), para santri dan pelajar mengatakan “waktu adalah ilmu”, para abid (ahli ibadah) bersemboyan “waktu adalah ibadah”, dan masih banyak ungkapan lainnya yang menggambarkan pentingnya waktu.

Nabi Muhammad saw mengajarkan bagaimana memanfaatkan waktu. Beliau bersabda:

“Jagalah lima perkara sebelum datangnya lima perkara yang lain, yaitu: masa mudamu sebelum datang masa tuamu, masa sehatmu sebelum datang masa sakitmu, masa kayamu sebelum datang masa miskinmu, masa hidupmu sebelum datang masa matimu, masa luangmu sebelum datangnya masa sibukmu.” (H.R. Hakim dari Ibnu Abbas).

Lima waktu ini pasti akan dilalui dalam perjalanan hidup semua manusia. Waktu hidup, muda, sehat, kaya, dan luang adalah masa-masa yang produktif dan kondusif untuk melakukan kebaikan dan mengukir prestasi.

Selagi hidup, perbanyaklah ibadah dan amal shaleh, karena kita tidak tahu kapan akan mati. Sesudah mati semua amal terputus, kecuali tiga hal: amal jariyah, anak shaleh, dan ilmu yang manfaat, yang hanya bisa dipersiapkan waktu hidup.

Selagi usia muda, berbuatlah baik sekuat tenaga, karena kita tidak tahu apakah usia kita sampai tua. Selagi sehat berbuatlah yang manfaat, karena kita tidak tahu kapan jatuh sakit dan tidak berdaya. Selagi kaya, perbanyak infaq shadaqah, karena harta yang kita tinggalkan bisa jadi fitnah. Selagi ada kesempatan, gunakan untuk menambah kemaslahatan.

Self Instrospeksi: Evaluasi Diri Setiap Pergantian Waktu

Apa yang harus dilakukan pada setiap pergantian waktu? Adalah melakukan instrospeksi diri, muhasabah, menghitung diri, melakukan audit internal, atau mengalkulasi untung rugi diri selama waktu berlalu untuk menyusun strategi waktu yang akan datang. Agar prestasi masa lalu bisa ditingkatkan dan kegagalan yang menimpa tidak berulang lagi di tahun depan.

Jangan sampai terperosok pada lubang yang sama. Pentingnya muhasabah ini dipertintahkan oleh Al Qur’an:

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat). Bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.” (Q.S. al-Hasyr/59: 18)

Muhasabah ini harus terus dilakukan, tidak hanya pada akhir tahun. Gunanya adalah untuk meningkatkan kualitas diri dari waktu kewaktu, agar tetap menjadi orang yang beruntung, yaitu orang yang terus meningkat kebaikannya dengan berjalanan waktu.

Sebaliknya, jangan menjadi orang rugi atau hancur, yaitu orang merugi waktu karena amalnya hari ini sama dengan hari kemaren. Dan orang yang hancur adalah orang yang hari ini lebih buruk dari hari-hari yang lalu.

Agar waktu tidak berlalu tanpa kesan, maka Islam memberikan jadwal harian yang harus diisi dengan shalat dan ibadah tertentu. Dimulai dengan waktu fajar, subuh, dhuha, dhuhur, ‘ashar, maghrib, isya’, dan tengah malam untuk tahajjud dan munajat kepada Allah swt.

Dalam sehari semalam Nabi saw juga membagi secara seimbang, yaitu sepertiga untuk ibadah, sepertiga untuk bekerja, dan sepertiga sisanya untuk istirahat. Pembagian waktu-waktu ini telah disesuaikan dengan tabiat dan kemampuan fisik manusiawi.

Self Manajemen: Menata Diri untuk Masa Depan yang Lebih Baik

Selain self introspeksi, tahun baru juga harus dijadikan moment untuk self manajemen atau menata diri. Manajemen diri merupakan pengendalian diri terhadap pikiran, ucapan, dan perbuatan yang dilakukan, sehingga mendorong pada penghindaran diri terhadap hal-hal yang tidak baik dan peningkapan perbuatan yang baik dan benar.

Manajemen diri adalah sebuah proses merubah “totalitas diri” baik itu dari segi intelektual, emosional, spiritual, dan fisik agar apa yang kita inginkan (sasaran) tercapai. Banyak orang menjalani hidupnya mengalir tanpa arah, tanpa tujuan dan target yang jelas (sembarang). Misalnya, mau jadi apa sekolah/kuliah apa, kapan menikah dan punya anak, kapan punya rumah sendiri, kapan haji, kapan akan mati, apakah bekalnya sudah cukup?

Semua harus dalam rencana yang baik. Perjalanan hidup ini harus dikelola dengan baik. Tanpa manajemen diri, banyak orang bingung dan bahkan stress, karena tidak tahu akan melakukan apa, untuk apa, bagaimana, dari mana akan memulainya, dan sampai kapan.

Tidak hanya organisasi atau perusahaan. Manusia secara individu juga harus dapat merumuskan visi, misi, dan target hidupnya sebagai bintang pemandu di tengah lautan kehidupan yang penuh ombak tantangan dan ujian.

Visi hidup adalah ibadah dan pengabdian. Allah swt berfirman:

“Tidak aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah.”

Misi yang harus diwujudkan adalah bahwa semua aktivitas, kekuasaan, keahlian, harta, ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai sarana ibadah, harus bermanfaat bagi orang lain.

Nabi saw bersabda:

“Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia yang lain.”

Sedangkan target yang ingin dicapai adalah mendapatkan kemulyaan dan kebahagiaan dunia akhirat (sa’adah fiddaraini).

Manajemen diri ini sangat penting dalam membantu seseorang menjaga atau mencegah timbulnya berbagai masalah bagi dirinya sendiri, membantu individu memecahkan berbagai persoalan, membantu individu untuk menjaga agar situasi dan kondisi yang telah baik dapat bertahan, dan membantu individu terus mengembangkan kondisi yang telah baik menjadi terus lebih baik dari waktu kewaktu hingga terlatih menghadapi putaran kehidupan sehingga mampu tercapai kehidupan yang bahagia di dunia dan akhirat.

Rommy Argiansyah

Reporter berita yang mengutamakan akurasi dan objektivitas. Ia memiliki ketertarikan pada isu sosial dan ekonomi, serta mengikuti perkembangan dunia digital. Waktu luangnya dihabiskan untuk membaca laporan penelitian, mendengarkan podcast edukasi, dan berjalan santai di taman kota. Motto: "Fakta adalah kompas bagi setiap penulis."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *