My WordPress Blog
Budaya  

Batik Pak Ustadz: Kisah Natal tentang Janji dan Toleransi yang Diam

Pengalaman Natal yang Berbeda

Natal sering dikaitkan dengan pohon pinus yang berkilauan, lagu-lagu gereja yang menggema, atau kegembiraan dalam menerima hadiah. Bagi banyak orang, Natal adalah tentang tradisi dan kemegahan. Namun, pengalaman Natal saya tahun ini terasa sangat berbeda. Bukan karena dekorasi, melainkan karena sepotong kain dari Pekalongan dan sebuah janji di tengah gerimis yang jatuh di ibu kota.

Cerita ini dimulai dari seorang sahabat di kantor yang saya panggil “Pak Ustadz”. Ia adalah seorang Muslim yang sangat taat. Ibadahnya terjaga, tutur katanya santun, dan prinsipnya kuat. Kami sering berdiskusi tentang berbagai hal, mulai dari pekerjaan hingga filosofi hidup, meskipun kami memiliki keyakinan yang berbeda.

Beberapa hari sebelum Natal, ia menemui saya. Dengan senyum tulus, ia memberikan bingkisan yang dibungkus rapi. “Ini dari kampung saya, Pekalongan. Batik asli sana,” ucapnya singkat. Di dalam bingkisan itu, ada kemeja batik dengan motif yang sangat halus, hasil dari seni yang dikerjakan dengan hati. Tidak ada ucapan “Selamat Natal” dari bibirnya. Saya memahami maksudnya, dan sama sekali tidak keberatan. Baginya, menjaga prinsip keyakinan adalah keharusan, namun menjaga persaudaraan adalah kemuliaan. Kemeja batik itu adalah cara dia berkata bahwa ia menghargai keberadaan saya tanpa melanggar batas imannya.

Saya berterima kasih dan berjanji akan memakai kemeja itu saat ibadah Natal di gereja. Saya melihat binar kebahagiaan di matanya. Meski sederhana, perasaan itu begitu dalam.

Namun, ujian datang pada malam 24 Desember. Dunia kerja sering kali tidak mengenal tanggal merah. Jam sudah menunjukkan pukul 18.00 saat saya akhirnya bisa keluar dari lobi kantor. Tubuh lelah, punggung kaku. Di luar, langit mendung dan gerimis mulai turun. Saya memutuskan untuk pulang, tapi setiap kali melihat tas berisi kemeja batik yang saya bawa, rasa tanggung jawab menggerogoti pikiran.

Saya telah berjanji. Batik ini bukan hanya pakaian, tapi simbol penghormatan dari seorang sahabat yang taat. Jika ia bisa melewati sekat perbedaan dengan memberi, maka saya pun harus melewati rasa lelah dengan memakai pemberiannya di hari paling suci bagi saya.

Dengan niat bulat, saya memacu motor. Gerimis semakin deras, membuat kaca helm dan jaket saya basah. Di sepanjang jalan, lampu kota tampak buram karena air di kaca spion. Saya kedinginan, namun hati hangat. Saya membayangkan senyum Pak Ustadz jika ia tahu batiknya benar-benar sampai ke rumah Tuhan malam ini.

Tiba di parkiran gereja, saya langsung menuju toilet untuk berganti pakaian. Saat mengenakan kemeja batik Pekalongan itu, ada rasa haru yang tiba-tiba menyesak. Motif gelap dengan sentuhan keemasan terlihat gagah di bawah lampu neon. Saya merapikan kerahnya, menarik napas panjang, dan masuk ke dalam gereja.

Nyanyian Malam Kudus sedang bergema saat saya masuk. Saya berdiri di barisan paling belakang, basah di ujung celana, namun merasa penuh di dalam jiwa. Di ruangan itu, di hadapan Tuhan, saya mengenakan hadiah dari seorang ustadz. Inilah toleransi yang sebenarnya—tidak butuh banyak kata, tidak butuh perdebatan teologis, dan tidak menuntut pengakuan.

Natal saya tahun ini bukan tentang seberapa megah baju baru yang saya beli, melainkan tentang seberapa teguh saya menjaga janji atas sebuah persaudaraan. Pak Ustadz tidak memberi ucapan selamat, namun ia memberi kasih sayang dalam bentuk karya seni bangsa. Dan saya, tidak butuh pengakuan lisan darinya, karena lewat batik ini, saya merasakan kehadiran hangat seorang saudara di tengah sunyinya malam Natal.

Setelah pulang dari gereja, gerimis masih ada, namun jalanan terasa lebih tenang. Saya menyadari satu hal: keberagaman di negeri ini adalah kain batik yang besar. Motifnya berbeda, warnanya tak sama, namun jika ditenun dengan benang kasih sayang dan rasa hormat, ia akan menjadi sesuatu yang indah untuk dikenakan oleh siapa saja.

Terima kasih, Pak Ustadz. Batikmu bukan hanya menemani saya beribadah, tapi juga menjadi saksi bahwa di bawah langit yang sama, kita bisa tetap bersaudara tanpa kehilangan jati diri masing-masing. Inilah kado Natal terindah yang pernah saya terima tahun ini.

Bekasi, 24 Desember 2025

Best Siallagan

Muhammad Muhlis

Jurnalis digital yang menaruh perhatian besar pada perkembangan teknologi dan komunikasi. Ia senang membaca jurnal ilmiah, mencoba aplikasi baru, dan melakukan riset kecil untuk mempertajam analisis. Hobinya termasuk bermain catur dan mendengarkan musik klasik. Motto: "Pemahaman mendalam menghasilkan berita yang bernilai."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *