Lonjakan Kasus ISPA di Lokasi Pengungsian Pasca Banjir dan Longsor
Di tengah situasi krisis akibat banjir dan longsor yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera, muncul ancaman baru berupa lonjakan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). Kondisi ini tidak hanya mengkhawatirkan tetapi juga memerlukan penanganan yang cepat dan tepat.
Apa Itu ISPA?
Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) adalah peradangan pada saluran pernapasan atas maupun bawah yang terjadi secara cepat dan mudah menular. Penyakit ini bisa disebabkan oleh berbagai jenis virus seperti influenza, Virus Sinsitial Pernapasan (RSV), dan rhinovirus. ISPA menjadi salah satu penyakit yang paling rentan menyebar di lingkungan pengungsian.
Faktor-Faktor yang Memicu Lonjakan ISPA
Menurut Dicky Budiman, ahli kesehatan masyarakat, banjir bukan hanya menyebabkan penyakit pencernaan atau kulit, tetapi juga meningkatkan risiko ISPA, terutama pada anak-anak. Hal ini disebabkan oleh kondisi pengungsian yang sering kali memiliki kepadatan tinggi, ventilasi minim, dan ruangan yang tertutup. Kombinasi ini menciptakan lingkungan ideal bagi penyebaran virus pernapasan.
Beberapa faktor lain yang memperburuk situasi antara lain:
- Kepadatan tenda: Banyak pengungsi tinggal dalam ruang sempit, sehingga droplets dan aerosol virus mudah menyebar.
- Ventilasi minim: Ruangan yang tidak memiliki sirkulasi udara yang baik memperkuat stabilitas virus di udara.
- Kondisi lembap dan dingin: Kelembapan tinggi dan suhu dingin dapat meningkatkan kemampuan virus bertahan di lingkungan sekitar.
- Polusi asap dapur: Banyak keluarga memasak di dalam tenda, sehingga asap dapur meningkatkan risiko gangguan pernapasan.
Selain itu, stres akibat bencana, kurang tidur, dan asupan nutrisi yang tidak memadai juga berkontribusi pada penurunan daya tahan tubuh anak-anak.
Mengapa Kasus Diare atau Penyakit Kulit Tidak Langsung Meningkat?
Menurut Dicky, penyakit pencernaan memiliki masa inkubasi yang lebih panjang dibandingkan ISPA. Jika distribusi air bersih dan fasilitas sanitasi darurat cepat tersedia, lonjakan kasus bisa tertahan. Sementara penyakit kulit lebih dipengaruhi paparan air banjir berkepanjangan. Namun, banyak anak segera dievakuasi sehingga paparan lebih pendek, dan fasilitas mandi darurat di sebagian lokasi membantu menekan kasus.
Kelompok Usia Balita Paling Rentan
Anak di bawah lima tahun adalah kelompok dengan risiko tertinggi terkena ISPA dalam kondisi pengungsian yang padat dan lembap. Risiko infeksi mereka meningkat 2–4 kali lipat dibandingkan kelompok lain. Oleh karena itu, perlindungan dan perawatan khusus harus diberikan kepada anak-anak.
Langkah-Langkah yang Perlu Dilakukan
Dicky menyarankan beberapa intervensi yang perlu segera dilakukan untuk mengurangi risiko ISPA di lokasi pengungsian:
- Memperbaiki ventilasi di posko.
- Mengurangi kepadatan tenda pengungsian.
- Membuat zonasi ruang tidur anak.
- Menyediakan masker untuk anak-anak.
- Pemantauan harian gejala ISPA di posko.
- Edukasi batuk bersih dan kebersihan tangan.
Selain itu, area bermain terbuka sangat penting agar anak-anak tidak berkumpul di ruang tertutup yang berisiko tinggi menularkan infeksi. Pengendalian polusi asap dapur juga perlu diperhatikan, termasuk memastikan pakaian anak tetap kering agar mereka tidak kedinginan.
Prioritas Utama dalam Penanganan Bencana
Dicky menegaskan bahwa dalam situasi bencana, anak-anak harus mendapat prioritas tertinggi. Ketersediaan nutrisi, pakaian kering, akses kesehatan awal, hingga dukungan emosional adalah komponen penting untuk mencegah kondisi semakin buruk.
Dengan ancaman ISPA yang terus meningkat di lokasi terdampak banjir dan longsor, para ahli menilai perlindungan anak harus menjadi fokus utama dalam penanganan bencana di Sumatera saat ini.









