Film “Agak Laen: Menyala Pantiku!” Hadir dengan Cerita Baru dan Karakter yang Semakin Kaya
Film “Agak Laen” kembali hadir di layar lebar dengan judul baru, “Agak Laen: Menyala Pantiku!”. Film ini sukses menarik lebih dari 9 juta penonton, dan kini membawa kisah baru yang tidak sekuel atau prekuel. Dalam film ini, kuartet Boris Bokir, Bene Dion, Indra Jegel, dan Oki Rengga kembali beraksi dalam cerita yang penuh kejutan.
Film yang diproduksi oleh Imajinari ini menceritakan tentang Detektif Bene, Boris, Jegel, dan Oki yang sering gagal menjalankan misi mereka. Mereka diberikan kesempatan terakhir untuk menyamar dan menyusup ke sebuah panti jompo guna mencari buronan kasus pembunuhan anak wali kota. Apakah mereka berhasil menemukan pelaku?
Selain kuartet utama, film ini juga dibintangi oleh Tissa Biani, Ariyo Wahab, Gita Bhebhita, Chew Kin Wah, Jajang C Noer, Tika Panggabean, Jarwo Kwat, Egi Fedly, Priska Baru Segu, Boah Sartika, Ayushita, dan Surya Saputra. Hal ini menunjukkan bahwa film ini memiliki keterlibatan banyak aktor ternama.
Muhadkly Acho, yang kembali memegang peran sebagai sutradara dan penulis, mengungkapkan bahwa ada perbedaan warna komedi pada “Menyala Pantiku!”. Jika di film pertama, “Agak Laen” (2024), ada keriuhan dan ketegangan dari latar pasar malam dan rumah hantu, di film kedua, gaya komedinya berubah.
“Pada ‘Agak Laen: Menyala Pantiku!’, kami melibatkan para lansia di banyak adegan. Akan tetapi, kami memikirkan dengan matang agar komedi di film ini tetap mudah dinikmati dan ditertawakan,” kata Acho.
Menurut dia, panti jompo sebagai latar utama di film ini menawarkan kontras yang menampilkan sisi lain yang belum pernah ada di film Indonesia. Mulai dari komedi hingga kehangatan yang tercipta dari dinamika karakternya.
Komedi yang Tetap Seru dan Menyenangkan
Indra Jegel mengaku, baik di film pertama maupun kedua, dia tetap bermain di ranah komedi yang tetap seru untuk diikuti. Jegel membocorkan, ada petunjuk-petunjuk baru di film kedua ini.
“Dengan komedi yang bertabrakan dengan situasi, penonton bakal tetap merasakan keseruan komedi ala Agak Laen,” ucap Jegel.
Sementara itu, Boris Bokir mengungkapkan, Acho telah dengan jeli memilih cerita-cerita dan inside joke yang tepat. Sehingga, meski bukan pendengar Podcast Agak Laen, kisah dan komedinya juga akan terasa universal bagi semua penonton.
“Acho adalah pendengar Podcast Agak Laen, jadi secara cerita dan komedi, memang dia yang menentukan sejak awal. Bagian mana saja dalam kehidupan kami berempat yang ikut dimasukkan ke dalam film. Tentunya, sebagai pemeran, saya mengikuti naskah yang sudah ditulis oleh Acho dan memainkannya dengan sepenuh hati untuk membuat penonton tertawa,” tutur Boris.
Adegan Spesial yang Membuat Oki Terkesan
Salah satu yang spesial di film “Agak Laen: Menyala Pantiku!” adalah istri Oki Rengga yang turut bermain. Di film ini, kata Oki, ada adegan yang sangat membuatnya terkesan hingga berbunga-bunga.
“Di film ini, aku bermain dengan istriku yang memang jadi pasangan suami istri dan sedang menunggu kelahiran anak kami. Nah, ada satu adegan yang membuatku berbunga-bunga selama dua minggu setelahnya dan membuat pandanganku berbeda saat menjalani syuting. Itu golden scene yang patut ditunggu di film ini,” ujar Oki.
Perbaikan Sisi Komedi dan Naskah
Bene Dion, yang turut mensupervisi ide cerita dan naskah bersama Ernest Prakasa, menyebutkan, di film “Agak Laen: Menyala Pantiku!” ada perbaikan sisi komedi dan naskah. Namun, bukan berarti membatasi komedinya.
“Tentunya dalam setiap proses, ada evaluasi untuk membuat karya menjadi lebih baik. Akan tetapi, evaluasi tidak serta merta mengharuskan mengubah komedi untuk selalu terasa aman. Di film “Agak Laen: Menyala Pantiku!” komedi-komedi pinggir jurang tetap dihadirkan dengan pertimbangan yang dalam, lucu dan aman,” ujar Bene.
Produser Berharap Penonton Bisa Merasakan Kebahagiaan
Produser Ernest Prakasa menjanjikan, “Agak Laen: Menyala Pantiku!” menawarkan cerita baru yang menyegarkan. Dengan latar panti jompo, film tersebut membuktikan kalau genre komedi Indonesia semakin beragam.
“Panti jompo kerap dianggap tempat lansia ‘ditelantarkan’ keluarganya. Di film ini, panti jompo dipotret sebagai tempat yang hangat penuh kebahagiaan. Semoga penonton turut merasakan kebahagiaan itu dan tertawa,” ucap Ernest.











