Pengertian Sholat Tahajud
Sholat Tahajud adalah sholat sunnah yang dikerjakan setelah tidur, biasanya dilakukan usai sholat Isya. Waktu paling utama untuk menunaikannya adalah pada sepertiga malam terakhir, yaitu sekitar pukul 01.00 hingga Subuh. Tidak ada batasan jumlah rakaat dalam sholat tahajud. Ibadah ini dapat dimulai dari dua rakaat, lalu diperbanyak sesuai kemampuan seseorang.
Sholat tahajud termasuk dalam kategori shalat sunnat mu’akad, yaitu amalan yang sangat ditekankan oleh syariat Islam. Nabi Muhammad SAW pun menganjurkan umat Islam untuk membiasakan diri melakukan qiyamul lail atau sholat malam. Dalam sabdanya, beliau berkata:
“Sholat yang paling utama setelah sholat fardhu adalah sholat malam.” (HR. An Nasa’i)
Tata Cara Sholat Tahajud
Salah satu hal penting dalam sholat tahajud adalah bacaan surat pendeknya. Ustadz Adi Hidayat pernah menjelaskan dalam tayangan Akhyar TV mengenai tiga jenis surat yang sering dibaca oleh Rasulullah SAW saat melakukan sholat tahajud.
Menurut Ustaz Adi, bacaan pertama adalah surat yang ringan. Beliau merujuk pada surah Al-Muzzammil ayat 20, yang menyebutkan:
“Sesungguhnya Tuhanmu mengetahui bahwa kamu berdiri (sholat) kurang dari dua pertiga malam… Maka bacalah apa yang mudah bagimu dari Al-Qur’an.”
Ayat ini menegaskan bahwa bacaan dalam sholat tahajud dapat disesuaikan dengan kemampuan seseorang. Keringanan bagi Rasulullah SAW bisa berupa membaca 100 ayat Al-Baqarah atau 10–11 ayat terakhir Ali Imran dalam satu rakaat. Prinsipnya adalah mencari yang ringan, meskipun ukuran ringannya relatif.
Jenis kedua adalah membaca surat-surat secara berurutan sesuai susunan Al-Qur’an. Cara ini menjadi sarana bagi para penghafal Al-Qur’an untuk mengulang hafalan mereka, seperti yang dilakukan para sahabat.
Jenis ketiga adalah memilih surat yang sesuai kebutuhan. Misalnya, seseorang yang sedang mencari rezeki bisa membaca ayat-ayat tentang rezeki. Begitu juga untuk kebutuhan lain yang ingin dipanjatkan ketika tahajud. Seluruh surat dalam Al-Qur’an tentu memiliki petunjuk hidup, sehingga mudah disesuaikan dengan keperluan setiap muslim.
Niat Sholat Tahajud
Niat sholat tahajud sendiri sangat sederhana dan hampir sama dengan sholat sunnah lainnya. Niat tersebut adalah:
“Aku (niat) sholat sunnah tahajud dua rakaat karena Allah Ta’ala.”
Dalam bahasa Arab:
“Ushollii sunnatat tahajjudi rak’ataini lillaahi ta’aalaa.”
Doa Khusus Sholat Tahajud
Doa setelah sholat tahajud dikutip dari laman Majelis Ulama Indonesia (MUI) dari Kitab al-Adzkar karya Imam an-Nawawi. Doa tersebut adalah:
“Allâhumma rabbana lakal hamdu. Anta qayyimus samâwâti wal ardhi wa man fî hinna. Wa lakal hamdu anta malikus samâwâti wal ardhi wa man fî hinna. Wa lakal hamdu anta nûrus samâwâti wal ardhi wa man fî hinna. Wa lakal hamdu antal haq. Wa wa‘dukal haq. Wa liqâ’uka haq. Wa qauluka haq. Wal jannatu haq. Wan nâru haq. Wan nabiyyûna haq. Wa Muhammadun shallallâhu alaihi wasallama haq. Was sâ‘atu haq. Allâhumma laka aslamtu. Wa bika âmantu. Wa alaika tawakkaltu. Wa ilaika anabtu. Wa bika khâshamtu. Wa ilaika hâkamtu. Fagfirlî mâ qaddamtu, wa mâ akhkhartu, wa mâ asrartu, wa mâ a‘lantu, wa mâ anta a‘lamu bihi minnî. Antal muqaddimu wa antal mu’akhkhiru. Lâ ilâha illâ anta. Wa lâ haula, wa lâ quwwata illâ billâh.”
Artinya: “Ya Allah, Tuhan kami, segala puji bagi-Mu, Engkau penegak langit, bumi, dan makhluk di dalamnya. Segala puji bagi-Mu, Engkau penguasa langit, bumi, dan makhluk di dalamnya. Segala puji bagi-Mu, Engkau cahaya langit, bumi, dan makhluk di dalamnya. Segala puji bagi-Mu, Engkau Maha Benar. Janji-Mu benar. Pertemuan dengan-Mu kelak itu benar. Firman-Mu benar adanya. Surga itu nyata. Neraka pun demikian. Para nabi itu benar. Demikian pula Nabi Muhammad SAW itu benar. Hari Kiamat itu benar. Ya Tuhanku, hanya kepada-Mu aku berserah. Hanya kepada-Mu juga aku beriman. Kepada-Mu aku pasrah. Hanya kepada-Mu aku kembali. Karena-Mu aku rela bertikai. Hanya pada-Mu dasar putusanku. Karenanya ampuni dosaku yang telah lalu dan yang terkemudian, dosa yang kusembunyikan dan yang kunyatakan, dan dosa lain yang lebih Kau ketahui ketimbang aku. Engkau Yang Maha Terdahulu dan Engkau Yang Maha Terkemudian. Tiada Tuhan selain Engkau. Tiada daya upaya dan kekuatan selain pertolongan Allah.” (HR. Muslim, Ibnu Majah, dan Ahmad).











