Penanganan Bencana di Buleleng, BPBD Bentuk Tim Kecamatan Tangguh Bencana
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Buleleng akan membentuk tim kecamatan tangguh bencana untuk menangani dampak bencana hidrometeorologi. Hal ini diungkapkan dalam rapat kesiapsiagaan bencana yang berlangsung pada Rabu 26 November 2025.
Kepala Pelaksana BPBD Buleleng, I Gede Suyasa, menjelaskan bahwa rapat kesiapsiagaan bencana ini melibatkan berbagai Organisasi Perangkat Daerah (OPD) dan instansi terkait seperti TNI, Polri, Basarnas, PLN, serta Forkom Perbekel dan Camat se-Kabupaten Buleleng.
Berdasarkan informasi dari BMKG, potensi cuaca ekstrem akan berlangsung mulai dari pertengahan Desember 2025 hingga bulan Januari 2026. Karenanya, perlu dilakukan penjajaran barisan dan penyamaan langkah sebagai langkah antisipasi dan kesiapan menghadapi bencana.
Suyasa menyebutkan ada tiga poin hasil dari rapat tersebut:
-
Pembentukan tim kecamatan tangguh bencana
Tim ini memiliki tugas mirip dengan Tim Reaksi Cepat (TRC), yaitu penanggulangan bencana di desa-desa. Tim ini diharapkan dapat melakukan identifikasi potensi kebencanaan serta berkoordinasi dengan stakeholder yang ada di bawah, termasuk Polsek, Koramil, puskesmas, dan relawan-relawan yang ada di desa. -
Penyegaran kembali TRC lintas sektor
Pihaknya melakukan penyegaran kembali TRC lintas sektor, mulai dari yang ada di OPD hingga instansi di luar Pemda. Penyegaran ini dilakukan karena beberapa pejabat maupun petugas sebelumnya mungkin telah pensiun atau pindah tugas. Diharapkan petugas yang tercantum dalam SK bisa dihubungi sewaktu-waktu. -
Pembentukan posko kesiapsiagaan terpadu
Mengenai pembentukan posko kesiapsiagaan terpadu, pihaknya masih meminta petunjuk dari Sekda Buleleng selaku kepala BPBD terkait lokasi posko yang akan dibangun. Semua peserta yang hadir sudah siap mendukung dan mensupport orang-orang yang akan ikut standby di posko terpadu. Mudah-mudahan Desember sudah bisa dieksekusi.
Potensi kebencanaan berkaitan dengan dampak hidrometeorologi ini tersebar di sembilan kecamatan yang ada di kabupaten Buleleng. Berdasarkan data BPBD Buleleng, sejak Januari hingga Oktober 2025, tercatat ada 280 kejadian. Jenis bencana yang paling dominan adalah tanah longsor sebanyak 105 kejadian, cuaca ekstrem seperti pohon tumbang 53 kejadian, dan banjir 16 kejadian.
Pihaknya mengimbau kepada seluruh masyarakat apabila terjadi bencana, agar tetap berkoordinasi dengan pihak desa. Sehingga bisa segera dilaporkan ke kecamatan dan BPBD, untuk segera mendapat penanganan. Masyarakat diminta tetap waspada dan hati-hati, karena bencana bisa terjadi kapan saja, di mana saja, dan dapat melanda siapa saja. Untuk itu, yang terpenting adalah melakukan kesiapsiagaan dan mitigasi bencana. Contoh mitigasi bencana, seperti membersihkan sampah yang menyumbat atau memotong dahan pohon yang terlalu rindang.
Simulasi Tanggap Bencana di Jembrana
Sementara itu, sejumlah pekerja proyek pada rehabilitasi Bendung Tlepus di Banjar/Desa Penyaringan, Kecamatan Mendoyo, Jembrana dikumpulkan petugas, Selasa 25 November 2025. Tujuannya adalah sosialisasi dan simulasi tanggap darurat agar kesiapsiagaan pekerja proyek semakin meningkat terhadap potensi bencana.
Terlebih lagi, pekan lalu ada dua orang pekerja yang hanyut terseret arus sungai DAS Bilukpoh atau tempatnya bekerja saat mandi di sungai. Kepala Pelaksana BPBD Jembrana, I Putu Agus Artana Putra menjelaskan, para pekerja proyek pengerjaan rehabilitasi Bendung Tlepus di Desa Penyaringan diberikan sosialisasi dan simulasi tanggap darurat seperti bencana banjir dan gempa bumi.
Apalagi mereka bekerja di sekitar DAS Bilukpoh yang kerap terjadi air bah sewaktu-waktu. Selain diberikan materi secara lisan terkait kesiapsiagaan, juga dilaksanakan simulasi langsung di lokasi yang diikuti pekerja proyek bagaimana cara menghadapi potensi bencana yang mungkin dapat terjadi sewaktu-waktu.
Simulasi sangat penting dilakukan. Ini memberikan pemahaman kepada pekerja apa saja yang bisa dilakukan jika misalnya terjadi bencana misalnya seperti banjir.











