My WordPress Blog

Amanda Manopo Ungkap Kesulitan Syuting Film Dusun Mayit di Puncak Gunung



Amanda Manopo, seorang aktris ternama, berbagi pengalamannya saat menjalani proses syuting film terbarunya yang berjudul Dusun Mayit. Film ini diproduksi di area pegunungan dengan fasilitas yang sangat terbatas, sehingga menghadirkan tantangan fisik dan mental yang luar biasa bagi seluruh kru dan pemain.

Menurut Amanda, tantangan utama dalam proses syuting adalah menjaga kondisi fisik yang optimal. “Tantangannya pasti fisik. Kita harus benar-benar menjaga kondisi tubuh karena kita naik gunung, lalu langsung syuting. Itu membutuhkan usaha ekstra. Syutingnya juga melibatkan banyak lari di atas gunung, lalu setelah itu kita kembali naik gunung lagi. Pasti sangat melelahkan,” ujarnya saat ditemui di Jakarta Pusat beberapa waktu lalu.

Lokasi syuting yang sangat terpencil membuat kru dan pemain harus bertahan tanpa fasilitas dasar seperti toilet atau basecamp. Hal ini memaksa semua pihak untuk beradaptasi dengan kondisi alam yang keras. “Di sana tidak ada basecamp, jadi kita tidur di hutan tanpa kamar mandi. Jika tidak ada tenda, kita harus pipis di tempat terbuka. Ini memang sangat menguji mental dan fisik kita,” tambah Amanda.

Dalam film Dusun Mayit, Amanda memerankan karakter bernama Yuni yang digambarkan sebagai sosok introvert namun memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. Meskipun ia merasa memiliki kesamaan dengan karakter tersebut, ia menekankan bahwa perbedaan motivasi dan semangat eksplorasi tetap ada antara dirinya dan Yuni. “Yuni memang introvert, tapi masih memiliki rasa ingin tahu dan eksplorasi. Sementara aku lebih mager (malas) dan kurang bersemangat,” jelasnya.

Meski awalnya merasa proyek ini akan sangat melelahkan, Amanda justru tertarik karena ingin mencoba pengalaman syuting ekstrem di pegunungan. “Saat ditawarkan film ini, saya pikir akan sangat melelahkan. Tapi karena ingin merasakan langsung, saya memutuskan untuk menerima tawaran ini,” katanya.

Ia juga penasaran bagaimana proses teknis dilakukan dalam kondisi yang sangat berat. “Saya ingin mencoba pengalaman syuting di gunung, bagaimana rasanya, bagaimana proses pengambilan gambar, serta kesulitan yang dihadapi. Misalnya, membawa Jimmy Jib ke atas gunung itu sangat sulit,” ujar Amanda.

Selain itu, Amanda menyebutkan perjuangan kru yang harus mendaki sambil membawa peralatan syuting, galon air, serta tenda untuk kebutuhan para pemain. “Kami melihat betapa beratnya tugas kru. Mereka harus membawa alat-alat berat, termasuk tenda untuk ganti baju pemain,” tambahnya.

Film Dusun Mayit bercerita tentang empat mahasiswa yang mendaki Gunung Welirang untuk mengisi liburan. Namun, petualangan mereka berubah menjadi mimpi buruk ketika Nita menemukan sesajen dan terjatuh ke telaga. Setelah kejadian itu, Nita mengalami perubahan drastis, mulai dari sikap yang seram hingga berbicara dalam bahasa Jawa.

Khawatir pada keadaan Nita, mereka memutuskan untuk turun dari gunung, tetapi justru tersesat. Mereka menghadapi berbagai hal aneh, seperti pasar gaib, sosok seram, pagelaran wayang yang janggal, dan ilalang tak berujung. Akhirnya, mereka menemukan Mbah Surop, seorang kakek misterius, yang memberi tahu bahwa mereka sedang berada di Dusun Mayit, sebuah desa gaib yang menuntut tumbal.

Apakah mereka bisa menyelamatkan Nita? Apakah mereka bisa pulang dengan selamat? Atau justru terjebak selamanya? Semua pertanyaan ini akan terjawab lewat film Dusun Mayit yang akan tayang di bioskop pada 31 Desember 2025.

Hafsha Kamilatunnisa

Hafsha Kamilatunnisa adalah seorang Jurnalis yang mengangkat kisah masyarakat, kegiatan sosial, dan gerakan komunitas. Ia aktif dalam kegiatan sukarelawan, hobi memotret aksi sosial, dan membaca kisah inspiratif. Motto: “Empati adalah kekuatan terbesar penulis.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *