My WordPress Blog
Budaya  

Renungan Katolik Senin 17 November 2025: Langkah Iman

Renungan Katolik: Langkah Iman

Dalam renungan hari ini, kita diajak untuk memahami bahwa iman adalah dasar dari doa. Seperti kisah orang buta dalam Injil, doa dimulai dengan langkah iman yang berani, tekun, dan penuh kepercayaan kepada Tuhan. Doa bukanlah sekadar banyak kata, tetapi lebih pada kecintaan, kerendahan hati, dan kerinduan untuk membangun relasi yang dalam dengan Tuhan.

Doa yang Berarti

Doa menjadi hidup ketika dijalani dengan cinta, kerendahan hati, dan keinginan untuk membangun hubungan yang lebih dekat dengan Tuhan. Banyak orang akhirnya berhenti berdoa karena merasa doanya tidak dikabulkan. Namun, hari ini kita diundang untuk meneladani semangat orang buta yang dengan berani dan tekun berseru kepada Tuhan. Di hadapan Tuhan, kita perlu bersikap sebagai seorang pengemis yang selalu datang memohon belas kasihan-Nya atas dosa-dosa kita.

Kisah Orang Buta

Kisah seorang buta yang mengalami kesembuhan dalam perikop Injil hari ini merupakan model tentang doa kristiani. Untuk memulai hidup doa, kita membutuhkan iman. Kita menempuh hidup doa dengan langkah iman. Langkah itu ditunjukkan oleh orang buta ini. Dia bukan orang istimewa. Dia hanya seorang buta yang duduk di pinggir jalan. Ketika dia mendengar orang banyak lewat, ia mulai bertanya. Dan ternyata mereka menyampaikan bahwa Yesus orang Nazaret ada di situ. Lalu, ia berseru, “Yesus, Ankal Daud. Kasihanilah aku!” Lebih keras lagi ia berseru, “Anak Daud, kasihanilah aku!”

Pentingnya Iman

Santa Teresia, seorang santa yang juga sering dikenal dalam Gereja sebagai Guru Doa pernah berkata bahwa dalam doa bukan lagi banyaknya kata-kata yang harus kita ucapkan. Tetapi sebaliknya, banyak mencinta. Mengapa hal demikian? Sebab kita tahu bahwa di hadapan kita ada Dia yang kita tahu mencintai kita. Doa yang demikian ini menjadi hidup. Doa bukan lagi membosankan tetapi sungguh-sungguh menjadi kesempatan berharga kita untuk membangun relasi yang intensif dengan Tuhan.

Jawaban dari Tuhan

Ketika Yesus bertanya apa yang ia kehendaki dari Yesus untuk berbuat baginya, ia menjawab dengan segera supaya ia dapat melihat. Jawaban ini sungguh penuh iman. Ia menyebut Yesus sebagai Tuhan. Imannya tidak goyah meskipun mengalami penderitaan. Kerinduan iman akan mendatangkan jawaban yang indah dari Tuhan. Yesus bersabda, “Melihatlah engkau! Imanmu telah menyelamatkan engkau” (Luk.18:41-42). Dalam banyak peristiwa kita menemukan betapa pentingnya iman dalam diri para murid dan para pendengar pengajaran Yesus.

Memelihara Langkah Iman

Bagaimana caranya kita memelihara langkah iman? Pertama-tama, kita perlu berusaha bersikap rendah hati di hadapan Tuhan. Kita selalu sadar sebagai orang yang lemah dan rapuh. Rentan akan dosa. Pada saat yang sama, kita juga hendaknya menyadari sungguh Tuhan yang maharahim bagi umat-Nya. Kedua, jangan takut untuk berseru kepada Tuhan. Bukankah Ia adalah Bapa kita yang mahabaik? Bukankah Ia akan mengabulkan dan menganugerahkan berkat bagi kita? Dalam keadaan terpuruk sekalipun, tetaplah berpegang teguh dalam iman akan Tuhan. Tetaplah berseru dalam doa.

Doa dan Harapan

Santo Paulus menasihati kita dengan berkata, “Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apa pun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur” (Flp.4:6). Iman akan Yesus harus mendasari semua usaha kita yang baik dalam hidup rohani. Semakin hati percaya pada penyelenggaraan Tuhan, semakin berlimpah berkat-Nya.

Doa Penutup

Ya Tuhan, bukalah mata hati kami agar kami mampu melihat dunia dengan lebih bijaksana. Bantulah kami agar kami selalu sadar akan tugas perutusan kami sebagai orang Kristiani. Semoga dimanapun kami berada, kami membawa cahaya penerangan bagi siapa saja yang kami jumpai. Tuhan, bantulah kami untuk mampu selalu melihat, jangan biarkan kami mengalami kebutaan. Amin.



Sahabatku yang terkasih, Selamat Hari Senin. Salam doa dan berkatku untukmu dan keluarga di mana saja berada: Dalam nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus….Amin.

Hafsha Kamilatunnisa

Hafsha Kamilatunnisa adalah seorang Jurnalis yang mengangkat kisah masyarakat, kegiatan sosial, dan gerakan komunitas. Ia aktif dalam kegiatan sukarelawan, hobi memotret aksi sosial, dan membaca kisah inspiratif. Motto: “Empati adalah kekuatan terbesar penulis.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *