Kenaikan Harga BBM Nonsubsidi Berdampak pada Pola Konsumsi Masyarakat
Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi yang mulai berlaku sejak 18 April 2026 memberikan dampak langsung terhadap pola konsumsi masyarakat di Kabupaten Bangka Selatan, Kepulauan Bangka Belitung (Babel). Hal ini terlihat jelas dari pengamatan di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) 24.331.99 Desa Gadung, Kecamatan Toboali.
Pada SPBU tersebut, terdapat perbedaan mencolok antara jalur pengisian BBM nonsubsidi dan subsidi. Jalur pengisian Pertamina Dex tampak lengang tanpa antrean kendaraan, sementara jalur Pertalite dan Bio Solar justru dipadati kendaraan. Antrean kendaraan roda dua dan roda empat terlihat cukup panjang di jalur Pertalite, sedangkan jalur Bio Solar didominasi truk, bus, dan mobil diesel yang mengantre tanpa henti.
Perubahan Harga BBM Nonsubsidi
Pengelola SPBU 24.331.99 Desa Gadung, Aming, menjelaskan bahwa kenaikan harga BBM tersebut sudah diberlakukan secara nasional dan memengaruhi daerah. Tiga produk BBM nonsubsidi mengalami kenaikan cukup tinggi dibandingkan harga sebelumnya. Perubahan harga ini cukup mengejutkan bagi sebagian konsumen.
Menurut data terbaru untuk wilayah Kepulauan Bangka Belitung, harga Pertamax Turbo naik Rp6.500 atau 48,7 persen menjadi Rp19.850 per liter dari sebelumnya Rp13.350 per liter. Sementara itu, Dexlite kini berada di angka Rp24.150 per liter dari sebelumnya Rp14.500 per liter, naik sebesar Rp9.650 atau 66,6 persen. Pertamina Dex juga mengalami kenaikan menjadi Rp24.450 per liter dari Rp14.800 per liter, naik Rp9.650 atau 65,2 persen.
Di sisi lain, beberapa jenis BBM lainnya tidak mengalami perubahan harga. Pertamax masih bertahan di angka Rp12.600 per liter, sementara Pertalite tetap Rp10.000 per liter. Untuk Bio Solar, harga juga tidak berubah yakni Rp6.800 per liter. Kondisi ini menciptakan selisih harga yang cukup jauh antara BBM subsidi dan nonsubsidi.
Pengaruh Kenaikan Harga terhadap Penjualan BBM
Aming menjelaskan bahwa di SPBU yang dikelolanya, tidak semua jenis BBM nonsubsidi tersedia. Dari tiga produk yang mengalami kenaikan signifikan, hanya Pertamina Dex yang dijual di lokasi tersebut. Hal ini turut memengaruhi dinamika penjualan di tingkat SPBU. Konsumen yang biasanya menggunakan BBM jenis ini mulai mengurangi pembelian.
Ia menilai, kenaikan harga ini tidak terlepas dari faktor global seperti naiknya harga minyak dunia dan penguatan dolar Amerika Serikat. Kondisi tersebut berdampak langsung pada penyesuaian harga BBM di dalam negeri. Diakuinya, faktor eksternal memang sangat mempengaruhi kebijakan harga energi.

Dampak paling nyata terlihat dari turunnya jumlah pembelian BBM jenis Pertamina Dex di SPBU tersebut. Aming mengungkapkan bahwa akan terjadi penurunan permintaan hingga 50 persen sejak harga baru diberlakukan. Konsumen, khususnya pengguna kendaraan kelas atas, mulai berpikir ulang sebelum mengisi BBM jenis tersebut. Kondisi ini berimbas pada volume penjualan harian.
Untuk stok Pertamina Dex saat ini mencapai 2.600 liter. Per hari penjualan bisa mencapai 50-100 liter. Sementara pasca kenaikan harga belum ada pembelian Pertamina Dex oleh masyarakat hingga hari ini. Kondisi ini diperkirakan akan masih berlangsung hingga beberapa hari ke depan.
Ketersediaan Stok dan Harapan ke Depan
Meski demikian, dari sisi ketersediaan stok, pihak SPBU memastikan tidak ada kendala berarti. Pasokan Pertamina Dex masih dalam kondisi aman dan mencukupi kebutuhan, meskipun permintaan menurun. Hal ini menunjukkan bahwa distribusi BBM tetap berjalan normal. Namun, penurunan daya beli tetap menjadi perhatian utama.
“Stok aman Pertamina Dex, cuma pembeli sedikit berkurang,” ucap Aming.
Ke depan, pihak pengelola SPBU berharap kepada pemerintah agar kebijakan harga BBM dapat lebih mempertimbangkan daya beli masyarakat. Aming menilai kenaikan harga yang terlalu tinggi akan berdampak langsung pada konsumsi dan aktivitas ekonomi. Ia juga berharap selisih harga antara BBM subsidi dan nonsubsidi tidak terlalu lebar.
“Harapan saya harganya jangan naik terlalu tinggi, kalau bisa jaraknya jangan terlalu jauh dengan BBM subsidi,” tutupnya.











